
Setengah berlari, Meera mengejar Alexa yang sudah lebih dulu keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan cepat. Meera tidak habis pikir, apa yang ada di pikiran Alexa dan bagaimana wanita itu selalu bertindak sesuka hatinya tanpa berpikir panjang. Alexa bertindak seolah-olah ia bisa mendapatkan segalanya dengan mudah. Bahkan perihal cinta.
"Nona, tunggu aku!" Meera setengah berteriak.
"Ayo!"
"Hei, ingat. Kau sedang pura-pura sakit!" Meera mengingatkan.
"Ah, benar juga." Seketika Alexa menghentikan langkah kakinya yang sudah tidak sabar menemui Evan.
"Berjalan dengan pelan dan hati-hati, Nona. Tidak akan ada yang mengambil Evan darimu," seloroh Meera.
"Aku lupa jika aku sedang pura-pura," gumam Alexa.
Namun, keduanya terkejut saat mendapati Evan yang tengah membawa nampan berisi beberapa pancake dengan selai strawberry datang menghampiri mereka. Rupanya, Evan sudah sibuk di dapur sejak tiga puluh menit yang lalu dan membuat pancake untuk Alexa.
Sialnya, laki-laki itu melihat dengan jelas apa yang baru saja terjadi di depan matanya.
"Nona, kau berlarian menuruni anak tangga dengan kaki seperti itu?" tanya Evan.
"Aku ... Aku ...."
__ADS_1
"Mari kembali ke kamar, aku akan memeriksa lukanya," ajak Evan.
Meera pun hanya diam mematung. Ia kini merasa cemas, apakah Evan akan kesal setelah tahu bahwa Alexa berbohong?
Dengan langkah kaki yang berat dan perasaan khawatir, Alexa kembali ke kamar diikuti oleh Meera dan Evan di belakangnya.
Alexa naik ke atas tempat tidurnya dan duduk diam. Sementara Evan meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja.
"Meskipun sudah merasa lebih baik, berlarian menuruni anak tangga itu berbahaya, Nona. Kau bisa jatuh," ucap Evan sambil berdiri di dekat kaki Alexa.
"Kau tidak marah padaku?" tanya Alexa.
"Kenapa aku harus marah?"
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan mengatakannya pada Tuan Vincent," jawab Evan. Ia membuka hansaplast yang menutupi luka Alexa dan memastikan jika lukanya benar-benar telah sembuh dan tertutup.
"Terima kasih." Alexa tersenyum senang.
"Hmm." Evan mengangguk. "Lukanya sembuh dengan cepat. Namun jika kau tidak berjalan hati-hati, maka akan terasa sedikit nyeri," lanjutnya.
Evan pun beranjak dari sisi kaki Alexa. Ia hendak pamit untuk keluar, namun Alexa tiba-tiba mencegahnya.
__ADS_1
"Boleh aku tanyakan sesuatu padamu?" tanya Alexa.
"Tentu, Nona. Katakan."
"Bagaimana caranya agar kau menyukaiku?" tanya Alexa serius. Wanita itu tersenyum dengan cantik. Namun anehnya, Evan malah terkejut dan kebingungan.
Tidak hanya Evan, Meera yang sedang menyaksikan sandiwara cinta secara live itupun terkejut dengan pertanyaan Alexa yang singkat, padat dan jelas.
"Apa maksudnya, Nona?" tanya Evan tidak mengerti.
"Aku menyukaimu, Evan. Dan aku juga ingin kau menyukaiku!" seru Alexa.
Evan menelan ludah, sementara Meera hanya bisa menarik napas dalam-dalam.
"Nona, sepertinya kau sedang kurang sehat," ujar Evan.
"Bukan kurang sehat. Sepertinya Nona sedang tidak waras. Memang kakinya yang terluka, namun otaknya yang bergeser," batin Meera.
"Aku baik-baik saja. Kau lihat? Aku bahkan bisa menuruni anak tangga dengan berlari. Aku sungguh-sungguh dengan apa yang baru saja aku katakan."
"Mari kita berkencan dan mengatakannya pada kedua orang tuaku. Maka aku tidak perlu pergi menemui laki-laki manapun. Aku menyukaimu, Evan. Aku mencintaimu!"
__ADS_1
...****************...