Oh My Bodyguard

Oh My Bodyguard
Kisah Yang Rumit


__ADS_3

Meera bahkan kehabisan kata-kata. Ia tidak tahu harus menanggapi Alexa dengan cara apa. Alexa sungguh orang yang merepotkan bagi Meera.


"Nona," ucap Meera dengan pelan setelah Alexa tenang dari kehebohannya.


"Hmm."


"Bukankah sangat gegabah jika kau berniat untuk menyatakan cintamu pada Evan? Kau bahkan tidak mencari tahu asal usulnya, keluarganya, atau riwayat pendidikan dan kekayaannya," terang Meera.


"Itu tidak penting," jawab Alexa acuh.


"Lalu, apakah orang tuamu akan setuju?"


"Aku tidak akan tahu jika belum mencobanya."


Meera mengangguk-anggukkan kepalanya. Benar juga.


"Bagaimana jika Evan sudah punya kekasih?" tanya Meera lagi.


"Tidak, dia benar-benar single."


"Dari mana kau tahu?"


"Aku menanyakan langsung padanya!"

__ADS_1


"Apa?" Meera terkejut. "Yang benar saja," gumamnya pelan.


"Kenapa? Bukankah kita memang harus bertanya jika tidak tahu?" Alexa balik bertanya.


"Benar, kau benar, Nona." Meera menelan ludah.


"Dia memang sedang menyukai seseorang, tapi aku yakin jika aku lebih unggul dari wanita yang dia sukai," ujar Alexa.


"Kau juga menanyakan hal itu? Kau tidak bertanya padanya, siapa wanita yang dia suka?" Meera menjadi penasaran.


"Aku tidak peduli. Yang pasti, aku akan memenangkan hatinya!" seru Alexa berpikir positif.


"Apa wanita itu lebih cantik darimu, Nona? Apakah kita mengenalnya?"


Meera tidak memberi jawaban. Ia hanya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Selain memikirkan pekerjaan yang menggunung akibat Alexa yang memilih libur, Meera akan punya beban tambahan dengan memikirkan cara membantu Alexa mengurus Evan.


"Jadi, Meera. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan agar Evan menerima cintaku?" tanya Alexa serius. Meera sudah tahu, inilah tugas barunya.


"Entahlah, Nona." Meera menjawab dengan pelan. Hatinya gundah gulana.


"Meera! Berpikir! Pikirkan! Apa yang harus aku lakukan!" seru Alexa.


"Baiklah." Meera menghembuskan napas kasar. "Pertama-tama, perbaiki dulu sikapmu, Nona," lanjutnya.

__ADS_1


"Sikapku? Memangnya kenapa denganku?" tanya Alexa.


"Nona, kau adalah wanita yang kasar, keras kepala, tidak berperasaan dan menyebalkan. Jadi ...."


"Apa kau bilang?" Alexa tersentak. Ia melotot ke arah sekretarisnya. "Mau cari mati, ya!" bentak Alexa.


"Kan, apa menurutmu Evan akan menyukaimu jika kau bersikap kasar seperti ini, Nona? Padahal, Evan adalah laki-laki yang baik. Ia bersikap lembut dan penuh perhatian. Ia tulus dan rendah hati," sela Meera.


"Benar juga." Alexa nampak setuju. Ia pun menyadari perbedaan mereka.


"Jadi, kau harus bersikap manis, lemah lembut dan anggun di depan Evan. Itu akan membuatnya tertarik padamu."


"Itu palsu. Artinya dia tidak benar-benar mencintaiku. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku tidak harus berubah agar dia menerimaku," tolak Alexa.


"Ah, sudahlah, Nona. Kau benar juga," gumam Meera. Kini kepalanya mendadak terasa sakit. Kisah cinta Alexa lebih merepotkan dari pekerjaan kantor yang tiada habisnya.


Dua wanita itu kini hanya bisa melamun. Alexa resah dengan perasaannya, ia benar-benar dirundung rasa gelisah dan asmara secara bersama-sama. Sementara Meera, ia tidak tahu harus berbuat apa agar satu persatu beban hidupnya berkurang. Ada banyak pekerjaan belum terselesaikan, kini telah menambah satu lagi beban yang cukup merepotkan.


"Baiklah, karena aku tidak tahu tentang apa yang harus aku lakukan. Sebaiknya aku menanyakan langsung padanya!" seru Alexa sambil bangkit dari sofa. Wanita itu berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya.


"Apa? Kau mau kemana, Nona?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2