Oh My Bodyguard

Oh My Bodyguard
Drama Ular


__ADS_3

Alexa mengabaikan pertanyaan Evan dan berlalu membawa kandang tikus melewati halaman samping rumahnya. Karena merasa penasaran, Evan mengikuti Alexa hingga wanita itu sampai di halaman belakang rumah.


Di halaman belakang rumah, tepatnya di samping kolam renang, terdapat sebuah rumah-rumahan berukuran sedang dengan dinding kaca sebagai pelindungnya.


"Tempat apa ini, Nona?" tanya Evan.


"Bukankah kau sudah mengelilingi rumahku lebih dari tujuh kali? Apa kau tidak tahu tempat apa ini?" Alexa balik bertanya.


Evan terdiam. Ia memang sudah berkeliling rumah sejak hari pertama menjadi bodyguard Alexa. Namun meskipun Evan melihat rumah buatan ini, laki-laki itu tidak merasa penasaran.


"Ouh, My baby, apa kau lapar? Ini waktunya kau makan," ucap Alexa dengan suara menggemaskan. Mendengar tingkah lucu wanita itu, Evan tersenyum samar.


Alexa membuka pintu rumah buatan tersebut dengan sebuah kunci, ia lalu melepaskan tiga ekor tikus putih ke dalamnya.


Dan hanya dalam hitungan detik, sesuatu yang menakjubkan pun keluar dari persembunyiannya dan menampakkan dirinya.


"Apa itu ular?" tanya Evan terkejut.


"Kau tidak buta, itu jelas ular," ucap Alexa datar. Wanita itu tersenyum senang melihat peliharaan kesayangannya mulai mengejar tikus satu persatu dan melilit tubuh mereka hingga tak bernyawa. Kemudian, ular tersebut mulai membuka mulutnya dengan lebar dan melahap tikus satu demi satu.


Evan menelan ludah. Laki-laki itu merinding, entah merasa geli atau takut, Evan terlihat tidak nyaman.

__ADS_1


Ular piton albino berwarna putih dengan corak kuning yang khas itu memiliki tubuh yang cukup panjang. Dengan berat lebih dari delapan kilogram, Evan memperkirakan ular itu sudah dipelihara oleh Alexa cukup lama.


"Kenapa? Kau tidak menyukainya?" tanya Alexa. Ia menyadari sikap Evan.


"Bukan, bukan aku tidak menyukainya, Nona," jawab Evan. Ia terus meraba tengkuk lehernya karena merinding.


"Apa kau takut?" tanya Alexa lagi.


"Tidak!" tegas Evan. Bagaimana bisa ia takut pada ular, padahal pekerjaannya adalah menjaga keselamatan Alexa. Mengakui ketakutannya pada ular tentu akan melukai harga dirinya.


Alexa mencebik, ia kembali mengalihkan perhatian pada peliharaan kesayangannya.


"Ah, apa kau merasa kenyang? Apa kau mau lagi?" tanya Alexa.


Wanita itu membuka pintu kandang, memasukkan tangannya dan membelai lembut kulit bersisik yang tengah bersantai melingkar.


Dengan gerakan lembut dan hati-hati, Alexa mengeluarkan ular itu dari dalam kandangnya. Wanita itu melingkarkan tubuh ular di lehernya dan mengusap lembut kepala ular itu dengan pelan.


Evan melangkah mundur perlahan, laki-laki itu merasa seluruh bulu halus di tubuhnya meremang.


"Ada apa? Peganglah, dia jinak," ujar Alexa sambil mendekati Evan. Ia mendekatkan kepala ular yang ia pegang ke depan wajah Evan.

__ADS_1


"Tidak, Nona. Tidak," tolak Evan. Ia berusaha tetap bersikap cool seolah tidak merasa takut.


"Ini, peganglah." Alexa memaksa. Ia menarik sebelah tangan Evan namun laki-laki itu menolak.


"Jangan takut, dia tidak akan menggigitmu," ujar Alexa. Semakin Evan menolak, Alexa semakin merasa gemas.


"Tapi, Nona ...."


"Aku tidak percaya, bagaimana bisa kau takut pada ular padahal tugasmu adalah melindungiku?"


"Baiklah, baik!" seru Evan. "Dia tidak akan menggigit, kan?" tanyanya.


Evan perlahan mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah tubuh ular, namun tiba-tiba.


"Ha!" Alexa menggertak, ia menghentakkan sebelah kakinya dan mengejutkan Evan.


Seketika, Evan melonjak kaget hingga tercebur ke dalam kolam.


Alexa tertawa terbahak-bahak melihat Evan jatuh ke dalam kolam yang dingin. Wanita itu secara tidak sadar telah menumbuhkan perasaan nyaman dan menerima kehadiran Evan. Terbukti, sikap Evan bisa membuat Alexa menjadi berbeda dari biasanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2