
Selang beberapa menit, seorang pelayan mendatangi mereka dan menyerahkan buku menu. Evan membaca setiap menu yang tertera dalam buku, sementara Alexa sama sekali tidak tertarik. Ia hanya memandang Evan dan mengamatinya.
"Kau mau makan apa, Nona?" tanya Evan.
"Apa saja, kau pilih untukku."
"Baik."
Karena Evan paham betul selera Alexa serta asupan makanan yang sangat dijaga oleh wanita itu. Evan memilih menu sarapan yang rendah lemak namun tinggi kalori untuk mereka.
Mereka hanya duduk sambil menunggu makanan yang mereka pesan tiba. Namun, berada di tempat ini membuat Alexa justru merasa kesal. Ia kesal setiap kali ada wanita yang melewati mereka dan tersenyum menatap Evan.
Sementara Evan, ia tidak bisa bergerak. Ia tidak tahu kesalahannya namun tatapan mata Alexa seolah-olah sedang mengancam nyawanya.
Berselang beberapa menit, makana mereka telah tiba dan keduanya menikmati sarapan pagi bersama.
Usai menyelesaikan sarapan pagi bersama, Alexa dan Evan sama-sama menuju ruangan Alexa. Saat mereka tiba, rupanya Meera sudah sibuk dengan pekerjaannya.
Tidak seperti biasanya, hari ini Alexa meminta Evan untuk masuk ke dalam ruangan untuk menemaninya. Karena Alexa tidak ingin membiarkan Evan berdiri di depan ruangannya dan bertemu dengan para pegawai wanita yang berlalu lalang melewatinya.
"Nona, kau datang!" seru Meera senang. "Ah, akhirnya." Ia merasa lega.
__ADS_1
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Alexa. Ia meletakkan tas di atas meja dan mendekati Meera.
"Meeting pukul sembilan pagi dan pukul satu siang. Ini adalah berkas beberapa calon pimpinan rumah sakit yang direkomendasikan oleh Tuan Vincent. Aku sudah menyiapkan semua data-datanya," jelas Meera.
"Bagus." Alexa mengangguk. "Kau sudah sarapan pagi?" tanyanya.
"Hmm, aku tidak sempat."
"Pergilah, aku tidak mau kau sakit dan membuat pekerjaanku menumpuk," perintah Alexa.
"Siap!" seru Meera senang. Ia meninggalkan tumpukan berkas di atas meja dan keluar dari ruangan.
"Kau akan berdiri di sana seperti patung? Bantu aku!" pinta Alexa pada Evan. Laki-laki itu seperti seorang sekuriti penunggu pintu.
Evan membantu Alexa merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja.
"Kau sudah mengatur jadwal kencanku dengan kandidat kedua?" tanya Alexa.
"Belum. Apa kau akan menemuinya?"
"Jika itu yang Papa inginkan, aku bisa apa."
__ADS_1
Evan hanya mengangguk mendengar jawaban Alexa.
"Umurku sudah tiga puluh tahun, dan aku bahkan belum menikah di saat banyak wanita seusiaku memiliki anak. Wajar saja orang tuaku khawatir," keluh Alexa.
"Aku tidak ingin di jodohkan. Tapi aku tidak bisa menolak permintaan orang tuaku," lanjutnya.
Evan terdiam, ia mengerti betul bagaimana perasaan Alexa. Namun untuk memberikan pendapat, Evan merasa tidak cukup berani.
"Jika kau tidak ingin menemui kandidat kedua, aku akan mengatakannya pada Tuan Vincent."
"Papa tidak akan berhenti sampai aku memberikan calon menantu untuknya."
"Apa aku bisa membantumu?" tanya Evan.
"Tentu, kau bisa membantuku jika kau membalas cintaku!" seru Alexa dengan tegas.
DEG!!!
Evan bagaikan di sambar petir. Alexa benar-benar tidak pantang menyerah, ia sama sekali tidak ragu setiap kali mengungkapkan perasaannya. Ia bahkan terlalu jujur tanpa basa-basi.
"Nona, jika kau mengatakan hal itu agar aku bisa membantumu bebas dari tekanan kedua orang tuamu, maka aku tidak bisa melakukannya," jawab Evan. "Aku tidak ingin mengkhianati kepercayaan Tuan Vincent. Aku ingin membantumu tapi tidak dengan cara yang buruk," lanjutnya.
__ADS_1
...****************...