
Asmita tidak terlihat terkejut, ia tersenyum sambil menahan tawa mendengar pengakuan Alexa.
"Mama, apa yang lucu?" tegur Alexa.
"Tidak, tidak ada yang lucu." Asmita menggeleng.
"Ma! Ketiga kandidat yang Papa berikan itu semuanya bukan tipe laki-laki ideal. Mereka bahkan bukan laki-laki baik. Aku sudah menelusuri latar belakang mereka semua," terang Alexa.
"Lalu?"
"Aku tidak menyukai mereka."
"Bukankah kau baru menemui kandidat pertama?" tanya Asmita.
"Ya, dia laki-laki mata keranjang! Apa lagi kandidat kedua, dia bukan orang baik, Ma. Aku tidak mau berkencan dengan seorang penjahat!" seru Alexa.
Asmita pun tertawa. Ia menggelengkan kepala pelan mendengar curahan hati putrinya.
"Kenapa Mama tertawa? Apa itu lucu?" Alexa mencebik.
"Tidak, Sayang. Tidak," ujar Asmita. Ia pun berhenti tertawa dan menghela napas. "Jadi, laki-laki yang kau sukai itu Evan?" lanjut Asmita bertanya.
"Hmm." Alexa mengangguk malu-malu. "Tapi, sepertinya cintaku bertepuk sebelah tangan. Evan bilang dia menyukai seseorang," jelas Alexa.
"Benarkah? Mama pikir dia juga menyukaimu," ujar Asmita.
"Hah? Mama tahu dari mana?" Alexa terkejut.
"Feeling seorang ibu. Sejak kecil kalian selalu bersama. Evan sangat menyayangimu. Dia bahkan menangis berhari-hari saat kau koma karena kecelakaan itu. Dan sampai saat ini, Mama masih mengira jika dia juga masih menyukaimu. Papa memintanya pulang kemari setelah dia menyelesaikan pendidikan militer. Awalnya dia menolak karena sudah mendapatkan pekerjaan, tapi saat Papa mengatakan bahwa dia akan bekerja untuk menjadi bodyguardmu, Evan langsung setuju!"
__ADS_1
Alexa terdiam, ia mencerna perkataan Asmita dengan baik.
"Jadi, apa selama ini dia berpura-pura tidak menyukaiku?"
Asmita mengangkat bahu. "Kau harus mencari tahu sendiri," ujarnya.
Saat mendengar suara langkah kaki mendekat, Asmita pun mendongak. "Ada yang datang," ucapnya.
"Siapa?" tanya Alexa.
Asmita mengayunkan dagunya, menunjuk seorang laki-laki yang berdiri gagah di ambang pintu di belakang Alexa.
"Evan," lirih Alexa.
"Baiklah, Mama harus ke dapur. Mama akan meminta pelayan membuat camilan untuk kalian. Silahkan mengobrol," ujar Asmita sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Hmm." Asmita tersenyum dan mengusap penggung Evan.
Evan memberikan sebuah buket bunga mawar berwarna merah muda untuk Alexa. Laki-laki itu tidak juga datang membawa sekotak donat untuk Alexa.
"Terima kasih," ucap Alexa. Ia mencium bunga mawar dan meletakkannya di atas pangkuan. "Bukankah kau sedang libur?" tanyanya.
"Aku datang untuk melihat keadaanmu," jawab Evan.
"Aku baik-baik saja," ucap Alexa sambil membuka sekotak donat dengan berbagai topping. "Hmm, terlihat enak," gumamnya.
"Apa kau khawatir padaku?" tanya Alexa.
"Tentu saja, Nona."
__ADS_1
Alexa menyipit. "Kenapa kau memanggilku 'Nona' lagi? Aku tidak suka kau memanggilku begitu," keluhnya.
"Baiklah, Alexa."
"Hmm, benar begitu!" seru Alexa sambil tersenyum senang. Ia mengambil sebuah donat dan menggigitnya.
"Enak?" tanya Evan.
"Hmm, ini enak sekali." Alexa mengangguk.
"Aku membelinya di toko roti yang berada di dekat sekolah lama kita. Kau mengingatnya?"
Alexa mengangguk cepat. "Toko roti di dekat SMP kita dulu, kan? Rasanya masih sama enaknya."
Evan tersenyum senang. Bagaikan bertemu teman lama, kini akan ada banyak hal yang bisa mereka ceritakan.
"Aku sudah merasa sehat dan baik-baik saja. Kapan kau akan kembali bekerja?" tanya Alexa.
"Jika Paman sudah memberimu izin bekerja, maka aku juga akan datang menemanimu seperti biasanya."
"Apa kau sudah mengatur jadwal kencanku untuk bertemu kandidat kedua?" tanya Alexa.
Evan mendongak, menatap Alexa dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Ada banyak kata yang ingin laki-laki itu sampaikan. Namun sepertinya ia ragu untuk mengungkapkannya.
"Kenapa?" Alexa kembali bertanya saat Evan tak kunjung bicara.
"Aku tidak punya pilihan lain, aku harus tetap berkencan dengan banyak laki-laki agar menemukan yang cocok untukku. Bukankah kau menolak cintaku?"
...****************...
__ADS_1