
Hari demi hari berganti dengan cepat. Alexa pun semakin hari semakin nyaman dengan kehadiran Evan di sisinya. Wanita itu selalu merasa aman dan dilindungi.
Meski awalnya ia menolak keras bahkan ingin Evan berhenti dari pekerjaannya sebagai bodyguard, namun kini Alexa mulai menerimanya.
Namun, pagi ini Alexa mendapatkan informasi tak terduga dari Meera, sekretarisnya.
"Apa kau sudah yakin? Apa kau sudah menelusuri kasusnya?" tanya Alexa dengan serius pada Meera.
"Ya, Nona. Dylan Jordan pernah terjerat kasus asusila pada sekretarisnya saat berada di luar negeri. Aku sudah memastikannya. Tapi, semua media bungkam karena pengaruh orang tuanya. Dylan bahkan tidak melewati proses hukum karena ia memberikan jaminan hidup serta uang damai pada korbannya," jelas Meera.
"Papa pasti bercanda. Bagaimana bisa Papa memberiku dua kandidat buruk seperti mereka. Apa Papa memang tidak keberatan memiliki menantu seorang penjahat?" ujar Alexa dengan kesal.
Ia membanting berkas berisi semua identitas Dylan Jordan, anak tunggal sekaligus pewaris perusahaan yang bergerak di bidang furniture terkenal yang sudah merambah ke luar negeri.
"Tuan Vincent pasti tidak tahu soal ini, Nona. Karena ini informasi sangat rahasia," ujar Meera.
"Bagaimana kau mendapatkannya?"
"Kau memberiku banyak uang untuk menyelidikinya. Jadi aku gunakan untuk mencari dan mempekerjakan agen khusus," jawab Meera dengan tertawa kecil. Ia senang karena kini dirinya sudah seperti detektif sungguhan.
"Hmm." Alexa melirik sekretarisnya sambil menghela napas panjang.
"Siapkan gaun untukku besok malam. Jangan lupa!"
"Kau akan tetap menemuinya?"
"Aku menemuinya hanya untuk memenuhi pemintaan orang tuaku. Bukan untuk berkencan sungguhan!"
__ADS_1
"Tapi, Nona ...."
"Ada Evan, aku tidak takut apapun!" seru Alexa. Keberadaan Evan membuatnya merasa aman. Ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun, karena kini ia benar-benar mempercayakan keselamatannya pada laki-laki yang sempat ia tolak kehadirannya.
"Dan satu lagi, cari gaun yang lebih sopan!" tegas Alexa sambil mengangkat jari telunjuknya di depan Meera.
"Gaun yang lebih sopan? Apa aku tidak salah dengar, Nona?" tanya Meera memastikan. Ini adalah pertama kalinya bagi Meera mendapatkan permintaan aneh dari Alexa.
"Hmm." Alexa mengangguk.
"Bisakah kau menjelaskan padaku tentang gaun yang lebih sopan itu seperti apa? Aku khawatir itu tidak sesuai dengan seleramu, Nona," ucap Meera.
"Kau bisa menanyakan itu pada Evan. Aku sibuk!" jawab Alexa. Ia kembali duduk di kursi kebesarannya sambil fokus pada layar laptop.
Selama ini, Alexa selalu mengoleksi gaun-gaun mewah dan seksi. Gaun dengan belahan dada rendah, menerawang, sampai gaun dengan belahan paha yang begitu tinggi hingga memperlihatkan seluruh kaki jenjangnya.
Namun kali ini, permintaan Alexa membuat Meera sedikit bingung. Karena Meera tahu betul bahwa Alexa selalu memiki selera pakaian yang berani dan menantang.
Karena siang ini Alexa tidak memiliki jadwal rapat, ia hanya duduk di ruangannya sambil memeriksa dokumen. Sementara Meera, meminta izin untuk makan siang di restoran hotel.
Saat berada di restoran, Meera melihat Evan sedang duduk menunggu makanannya datang. Meera pun menghampiri laki-laki itu dan menegurnya.
"Mau makan siang?" tanya Meera.
"Hmm." Evan mengangguk.
"Bolehkah aku duduk di sini? Ada sesuatu yang harus aku tanyakan."
__ADS_1
"Tentu saja, silahkan." Evan tersenyum dan mempersilahkan Meera duduk di kursi yang berada di depannya.
Meera memanggil pelayan dan membuat pesanan, ia pun mengobrol bersama Evan sambil menunggu makan siang mereka datang.
"Besok Nona akan menemui kandidat kedua yang direkomendasikan oleh Tuan Vincent. Dia memintaku mencari gaun. Tapi, ada sesuatu yang aneh," ujar Meera.
"Aneh?" ulang Evan.
"Hmm, dia menyuruhku mencari gaun yang lebih sopan. Apa menurutmu itu tidak aneh?" tanya Meera dengan wajah serius.
"Apa yang aneh? Itu bagus!" seru Evan. Hal yang aneh bagi Meera, secara tidak langsung justru membuat Evan merasa senang.
"Hei, Nona itu penggila fashion. Keseksian adalah gayanya!"
"Lalu apa salahnya berpakaian lebih sopan? Wanita cantik akan selalu cantik dengan pakaian apapun. Bahkan akan semakin cantik jika dia menjaga tubuhnya dari pandangan mata para pria," terang Evan.
Meera mengedipkan mata dengan mulut terbuka lebar. Kini Meera bisa merasakan sesuatu terhubung di antara Evan dan Alexa. Namun, Meera tidak ingin menyimpulkannya dengan mudah.
"Apa hubunganmu dan Nona semakin baik?" tanya Meera penasaran.
"Biasa saja, kenapa?" jawab Evan singkat.
"Beberapa hari terakhir, mood Nona selalu bagus dan dia jadi tidak mudah marah. Terlebih, dia juga tidak lagi mengumpat karenamu. Apa ada sesuatu di antara kalian?"
"Tidak." Evan menggeleng.
...****************...
__ADS_1