Oh My Bodyguard

Oh My Bodyguard
Ide Gila


__ADS_3

Selama hampir tiga hari lamanya, Alexa memutuskan untuk tidak pergi kemanapun dan hanya bersantai di rumah. Bukan karena ia ingin bermalas-malasan atau karena hal lain. Namun Alexa menggunakan tragedi kakinya sebagai alasan agar Evan menunda pertemuannya dengan kandidat kedua.


Karena Evan percaya jika Alexa masih merasakan nyeri di kakinya, maka Evan pun selalu melaporkan keadaan Alexa pada kedua orang tuanya agar tidak memaksa wanita itu untuk pergi berkencan.


Siang ini, Meera datang ke rumah Alexa dengan setumpuk pekerjaan yang harus di selesaikan. Karena Alexa tidak bisa datang ke hotel, menghadiri acara penting serta memimpin rapat. Maka dengan terpaksa, Meera harus melakukan semua pekerjaan itu seorang diri.


Saat Meera tiba di kamar Alexa, Meera melihat dengan jelas jika Alexa sedang berdiri di depan dinding kaca besar sambil menikmati segelas jus strawberry di tangannya.


"Nona," sapa Meera. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.


"Sangat baik." Alexa berbalik, berjalan dengan normal ke arah sofa bulat. Ia mengangkat tangan dan meminta Meera mendekat.


"Nona, apa kau sedang berbohong? Kau bilang ...."


"Ya, aku berbohong. Aku baik-baik saja," jawab Alexa.


"Ah, Nona. Apa besok kau sudah bisa bekerja lagi? Senangnya aku ....!" seru Meera girang.

__ADS_1


"Siapa bilang aku akan bekerja? Aku akan tetap libur selama tiga sampai empat hari kedepan."


"What? Why?" Wajah Meera panik.


"Hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa menghindari jadwal kencan dengan kandidat kedua," jawab Alexa. "Aku bahkan tidak sanggup mengatakan tidak pada Papa. Aku tidak tega mengecewakan mereka, tapi aku juga muak harus seperti ini," lanjutnya.


Mendengar penuturan Alexa, Meera cukup sedih. Ia tahu benar penderitaan yang dialami oleh Alexa. Meskipun ia cantik, pintar, mandiri dan memiliki segalanya, namun hidup Alexa seakan hanya tentang keinginan kedua orang tuanya.


"Nona, jika kau berbicara dari hati ke hati dan mengatakan pada mereka jika ketiga laki-laki itu tidak cocok untukmu, mereka pasti akan mengerti. Lagi pula, kebahagiaanmu pasti yang paling utama, jika mereka tahu seluk beluk ketiga kandidat yang mereka berikan, mereka pasti akan menerima keputusanmu," ujar Meera menenangkan.


"Tapi mereka akan berusaha mencari laki-laki lain. Mereka tidak akan pernah berhenti sampai mencapai tujuan mereka, Meera! aku kenal betul kedua orang tuaku."


"Hmm." Alexa mengangguk, ia menatap kosong pada dinding kaca sambil berpikir.


"Mudah saja, carilah pacar!" seru Meera memberi saran.


Alexa menoleh dengan cepat. Wajahnya yang muram, sedih, dan gelisah kini berubah secara drastis. Alexa tersenyum, meraih kedua tangan Meera dengan kedua bola mata berbinar.

__ADS_1


"Kau benar! Aku tidak tahu kau sepintar itu, Meera!" seru Alexa dengan wajah ceria.


"Aku memang pintar, Nona. Tapi ...."


"Aku akan menyatakan perasaanku pada Evan dan mengajaknya berkencan!" tegas Alexa. Kini ia menemukan cara cepat dan praktis. Alexa menjamin ini akan berhasil.


"Ha?" Mulut Meera menganga lebar, wanita itu membulatkan kedua bola matanya hingga hampir keluar.


"Ide yang bagus, bukan?" tanya Alexa.


"Nona, jangan gila. Apa kau sungguh menyukai Evan? Apa kau yakin?"


"Tentu saja aku menyukainya, aku yakin. Aku mencintainya!" seru Alexa dengan lantang.


"Bukankah kau membencinya? Kau bahkan baru mengenalnya. Bagaimana bisa kebencian berubah menjadi cinta dalam waktu singkat?" Meera bingung, ia tidak habis pikir dengan keputusan Alexa.


"Entahlah." Alexa mengangkat bahu. Wanita itu terus tersenyum dan berangan-angan tentang bagaimana indahnya hubungan yang akan ia jalani jika Evan menerima cintanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2