
Saat Evan mendekat, Alexa membulatkan matanya pada Meera. Alexa memberi isyarat pada Meera agar ia menyingkir dari pinggiran kasur agar Evan bisa duduk dengan nyaman.
Melihat tingkah bosnya, Meera menahan tawa. Rupanya seperti inilah Alexa saat jatuh cinta. Alexa yang biasanya sangat kasar, menyebalkan dan keras kepala, berubah menjadi aneh di mata Meera.
Meera berdiri di dekat kasur di samping Alexa, sementara Evan duduk dekat dengan kaki wanita itu.
Dengan hati-hati, Evan membuka perban kaki Alexa yang basah. Ia memperhatikan luka yang sudah mulai kering dan menutup. Namun masih terlihat pembengkakan di sekitarnya.
"Apa rasanya masih sangat sakit?" tanya Evan sambil menatap Alexa.
"Hmm, sakit sekali," jawab Alexa.
"Bagaimana jika kita ke dokter?" tawar Evan.
"Tidak, kau saja sudah cukup untuk merawatku," jawab Alexa dengan suara manja.
Meera melotot dengan mulut menganga mendengar penuturan Alexa. Apakah dia sungguh Alexa? batin Meera heran.
"Bagaimana jika tidak perlu di perban? Aku akan memakaikan hansaplast anti air. Ini akan lebih nyaman di pakai."
"Hmm, tentu." Alexa setuju.
Meera seakan sedang menonton film romantis secara live di depan matanya. Ia begitu heran, bagaimana bisa Alexa bisa berubah sikap secepat itu? Apakah cinta sungguh membawa keajaiban?
__ADS_1
Setelah melakukan tugasnya, Evan pamit keluar dari kamar.
"Tunggu kami di ruang makan," ujar Meera.
"Baik." Evan mengangguk dan berlalu pergi.
Meera menatap Alexa dengan mata menyipit, ia memperhatikan wajah bersemu merah Alexa. Pipi merona dengan senyum merekah yang tak kunjung layu dari bibir bosnya itu membuat Meera khawatir.
"Nona, sepertinya kau sedang mabuk," ujar Meera.
"Apa kau bilang?" bentak Alexa dengan mata melotot.
"Kau sedang dimabuk cinta, Nona. Apa kau baik-baik saja?"
Meera menelan ludah. Kini ia bisa melihat Alexa yang sebenarnya, Alexa yang sangat ia kenali. Di depan Evan, Alexa menjelma menjadi kucing manis nan menggemaskan. Namun saat Evan sudah pergi, Alexa akan kembali menjadi singa yang menakutkan.
"Aku memasak banyak makanan, Nona. Ayo makan, Evan pasti sudah lapar," ujar Meera.
"Ah, kau baik sekali." Alexa tersenyum pada Meera, seolah lupa dengan apa yang baru saja ia katakan pada sekretarisnya.
Meera menghembuskan napas panjang. Kini ia akan menghadapi masalah baru, yakni bos dengan dua kepribadian dalam satu raga, Alexa.
Karena Alexa masih kesulitan berjalan dengan normal, Meera membantu wanita itu sampai mereka tiba di dekat ruang makan. Saat itu, Evan sudah menata semua makanan yang di bawa oleh Meera di atas meja makan.
__ADS_1
Saat melihat Alexa datang, Evan buru-buru mendekati wanita itu dan mengambil alih tubuh Alexa dari Meera. Kini Evan yang membantu Alexa untuk berjalan hingga ke kursi makan.
"Terima kasih," ucap Alexa pada Evan.
Evan hanya mengangguk dan tersenyum.
"Silahkan makan," ujar Evan.
"Kau mau kemana?" tanya Meera.
"Kau tidak akan makan dengan kami?" tanya Alexa.
"Sebaiknya kalian makan saja terlebih dahulu. Aku belakangan." Evan merasa malu dan tidak enak. Ia hanya seorang sopir dan bodyguard, ia tidak pantas jika makan dalam satu meja dengan Alexa ataupun Meera. Karena kedudukan mereka jelas sangat berbeda.
"Kenapa? Apa kau merasa tidak nyaman?" Alexa bertanya.
"Sejak kapan Nona memikirkan perasaan orang lain?" Meera membatin, namun ia tidak berani mengungkapkannya secara langsung.
"Tidak, Nona. Bukan begitu. Aku ...."
"Duduklah. Kau harus makan bersama kami!" seru Alexa. "Ini perintah!" Ia mengucapkan kata-kata andalannya.
Mau tidak mau, Evan langsung menarik kursi dan duduk dengan tenang. Mereka bertiga akhirnya menikmati sarapan pagi bersama.
__ADS_1
...****************...