
Hari ini, Alexa dan Meera sengaja mengosongkan jadwal pekerjaan mereka. Alexa pulang ke rumah saat jam makan siang, sementara Meera pergi untuk mengambil gaun yang telah ia pesan dari seorang designer terkenal.
Untuk mengusir rasa bosannya, Alexa duduk di dekat kolam renang belakang rumahnya sambil menikmati makanan ringan yang ia bawa. Wanita itu bersantai sambil melihat peliharaan kesayangannya tertidur melingkar di pohon buatan dalam kandang.
Secara tidak sadar, Alexa tersenyum mengingat tentang kejadian beberapa waktu lalu. Itu adalah waktu di mana ia membuat Evan jatuh ke dalam kolam renang.
"Ah, dia menggemaskan," gumam Alexa. Ia mengayunkan kakinya dengan gembira.
"Siapa, Nona?" tanya Evan tiba-tiba. Alexa terkejut, ia hampir melompat dari tempat duduknya.
"Apa kau ini hantu? Kau selalu muncul tiba-tiba tanpa suara!" seru Alexa kesal
"Maafkan aku, Nona. Kau terkejut?"
"Ya! Kau mengejutkanku!"
"Maaf," ucap Evan menyesal. Ia tidak bermaksud membuat Alexa kaget, namun ia sudah berdiri tidak jauh dari Alexa sejak beberapa menit yang lalu. Hanya saja, Alexa terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak menyadari keberadaan Evan.
"Kenapa kau di sini, Nona? Masuklah dan beristirahat," ujar Evan.
"Aku senang melihat bayiku," jawab Alexa.
"Ah, begitu." Evan hanya mengangguk. Ia berdiri tidak jauh dari Alexa dan membiarkan wanita itu menikmati waktu bersantainya tanpa mengganggunya.
Berselang tiga puluh menit, Alexa telah kehabisan makanan di tangannya. Beberapa bungkus makanan ringan telah habis ia makan.
Merasa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, Alexa berniat kembali masuk ke dalam rumah. Ia berjalan melewati taman samping sambil melihat-lihat bunga mawar yang telah mekar.
"Auh! Aww!" seru Alexa sambil berjinjit. Ia segera mengangkat sebelah kaki dan berjalan pincang.
Dengan cepat, Evan mendekati Alexa dan membantunya.
__ADS_1
"Kenapa berjalan tanpa alasa kaki, Nona? Kakimu berdarah!" seru Evan. Wajahnya panik sekaligus khawatir.
"Tidak apa-apa. Ini tidak sakit," ucap Alexa. Namun darah itu mengalir cukup banyak dari telapak kakinya.
"Berpegangan!" pinta Evan.
"Hei, apa yang kau lakukan! Turunkan aku!" tolak Alexa. Namun Evan tidak peduli, ia membopong tubuh Alexa dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Evan meletakkan tubuh Alexa di kursi ruang tamu dengan wajah cemas.
"Nona, kenapa kau ceroboh sekali," tegur Evan.
"Hei, kenapa kau malah marah padaku?" Alexa kesal.
"Aku tidak marah, aku hanya tidak ingin melihatmu terluka. Di mana aku bisa menemukan kotak P3K?" tanya Evan.
"Aku bisa mengobati lukaku sendiri."
"Di atas vas bunga di ruang tengah."
Dengan setengah berlari, Evan menaiki anak tangga dan mengambil kotak P3K. Hanya berselang dua menit, Evan sudah kembali ke hadapan Alexa.
Sebelum membersihkan luka Alexa, Evan lebih dulu mencuci tangannya. Laki-laki itu menyiram bagian luka dengan cairan infus agar steril.
"Aww!" keluh Alexa.
"Perih? Ini akan mensterilkan lukamu agar tidak mudah infeksi. Sepertinya kau tergores batu tajam. Kenapa berjalan kaki tanpa memakai sandal?" ujar Evan. Ia bahkan meniup luka di kaki Alexa berkali-kali untuk meredakan rasa perih yang dirasakan wanita itu.
Dengan hati-hati, Evan mengoleskan salep antibiotik di luka Alexa. Ia lalu membalut luka itu dengan perban.
"Lukanya cukup dalam dan lebar. Apa perlu kita ke rumah sakit?" tanya Evan. Meskipun Alexa tampak sudah baik-baik saja, namun Evan masih merasa khawatir.
__ADS_1
"Tidak, aku baik-baik saja," tolak Alexa.
Melihat bagaimana Evan memperlakukannya dengan lemah lembut dan berhati-hati, Alexa berdebar. Dari mana datangnya sosok laki-laki sempurna seperti Evan? Tidak hanya memiliki wajah tampan rupawan dan perilaku yang baik. Namun Evan juga pandai dalam segala hal.
"Kau sudah cukup menjadi dokterku," ujar Alexa. "Terima kasih," lanjutnya.
"Setelah ini kau harus makan, minum obat pereda nyeri dan antibiotik. Aku akan mengganti perbannya dua kali sehari sampai lukanya tertutup," terang Evan.
"Kau bisa melakukan banyak hal. Dari mana kau mempelajarinya?"
"Aku? Aku pernah masuk akademi militer. Aku masuk dalam jajaran pasukan khusus dan menjalani kehidupanku sebagai tim keamanan pejabat tinggi negara," jelas Evan.
Alexa membulatkan matanya dengan lebar, wanita itu melongo. Ia sama sekali tidak tahu asal usul Evan atau bahkan latar belakang laki-laki itu. Namun pengakuan Evan, membuatnya terkejut dan takjub.
"Kau orang penting! Kenapa malah datang padaku sebagai bodyguard? Pekerjaan ini tidak cocok untukmu!" seru Alexa.
"Aku melakukannya karena sebuah alasan," jawab Evan sambil tersenyum.
Saat menatap wajah Evan dengan sungguh-sungguh. Alexa terpana, ia terpesona. Laki-laki di hadapannya begitu tampan, muncul sebuah lesung pipit di pipi kirinya saat Evan tersenyum.
"Aku akan mengantarmu ke kamar," ujar Evan.
"Aku bisa sendiri."
"Berpegangan!" seru Evan sambil membantu Alexa berdiri.
Evan menopang tubuh Alexa dengan merangkul pinggang ramping wanita itu. Sementara Alexa, ia juga merangkul tubuh Evan agar ia bisa berjalan dengan nyaman.
Saat menaiki anak tangga, Evan langsung menggendong tubuh Alexa. Ia tidak tega melihat wanita itu kesulitan berjalan dengan kaki diperban.
...****************...
__ADS_1