Oh My Bodyguard

Oh My Bodyguard
Marah?


__ADS_3

Alexa menatap Evan dengan tatapan kesal. Sejak kapan ada orang yang berani meragukan keputusannya?


"Kau bilang apa?" tanya Alexa.


"Petugas kebersihan tadi, adalah seorang ibu yang sedang berusaha keras untuk bekerja demi membiayai anaknya sekolah. Bukankah seharusnya kau memberinya kesempatan?"


"Kau pikir aku peduli? Siapapun yang menimbulkan kerugian untukku dan untuk perusahaan. Maka itu tidak akan termaafkan!"


"Sudahlah, Evan. Jangan membuat masalah," ujar Meera sedikit berbisik.


"Selain memiliki pengetahuan yang luas dan kemampuan yang luar biasa, seorang pemimpin harus memiliki hati yang besar. Mereka yang bekerja padamu telah menunaikan kewajiban dan kau memberikan hak mereka, hak untuk membela diri dari sebuah kesalahpahaman," ujar Evan panjang lebar.


Alexa menjadi sangat kesal, ia ingin berteriak marah dan memaki Evan. Namun entah mengapa, ia tidak bisa melakukannya. Wanita itu hanya diam dan menatap Evan tajam.


"Bawa dia keluar dari ruangan ku, Meera!" Perintah Alexa.


"Baik, Nona." Meera mengangguk. Segera, ia menarik lengan Evan untuk keluar dari ruangan Alexa.


"Sudah ku bilang, kau hanya akan membuatnya marah!" tegur Meera.


"Aku hanya berusaha membantu," jawab Evan tenang. Ia tidak tahu, jika Meera hampir mengalami serangan panik karena ulahnya.


Di dalam ruangan, Alexa berjalan mondar mandir sambil menggigit kukunya. Ia kesal, marah, dan tidak terima saat ada orang asing yang ikut campur dalam urusannya. Namun, amarah yang meledak-ledak di dalam dirinya, seakan terkurung dan sulit untuk ia luapkan.


"Maafkan aku, Nona. Aku sudah berusaha mencegah Evan," ujar Meera menghampiri Alexa.

__ADS_1


"Sejak dia ada, dia memang selalu membuatku kesal!" gerutu Alexa.


"Dia pikir, siapa dia berani mengoreksiku dan menentang keputusanku."


"Apa karena dia orang kepercayaan papa dan orang pilihan papa, jadi dia bertingkah sesukanya?"


"Menyebalkan!"


Meera hanya bisa diam dan tetap tenang. Ia hanya mendengarkan segala keluh kesah serta luapan kekesalan yang terus keluar dari mulut Alexa tanpa berani membantahnya. Meskipun ini sulit, Meera harus menahannya demi kelangsungan hidupnya.


Setelah lebih dari tiga puluh menit Alexa terus melontarkan perasaan kesal dari dalam hatinya, wanita itu akhirnya tenang.


"Hah, aku harus kembali fokus." Alexa memejamkan matanya sesaat, lalu duduk diam di kursinya. Marah hanya akan membuat kulit wajahnya mengendur dan mengeriput, ia tidak mau hal buruk itu terjadi.


"Drax Cameron, tiga puluh satu tahun. Dia pewaris bisnis fashion milik keluarga Cameron. Dia cukup tampan, tapi ...."


"Dia terkenal genit dan suka menggoda model yang kebetulan bekerja untuk perusahaannya, Nona," sela Meera.


"Berdasarkan pengakuan orang-orang yang mengenalnya, Tuan Drax adalah laki-laki yang baik hati dan ramah. Sifat buruknya hanya itu, genit dan mata keranjang," lanjut Meera.


"Kau harus menyiapkan gaun dan sepatu untukku malam ini, Meera. Aku tidak punya pilihan lain selain menemuinya," ujar Alexa.


"Baik, Nona."


...****************...

__ADS_1


Pukul empat sore, Alexa menyelesaikan semua pekerjaannya. Setelah ia menghadiri meeting dewan direksi, Evan langsung mengantar wanita itu pulang ke rumahnya. Sementara Meera harus pergi membeli gaun baru untuk Alexa.


"Di mana aku akan bertemu dengan kandidat pertama?" tanya Alexa saat berada di dalam mobil.


"Aku akan mengantarmu. Kau tidak perlu cemas," jawab Evan datar. Ia tetap fokus mengemudikan mobilnya.


"Pukul berapa kita pergi?"


"Kita harus sampai di tempat itu pukul delapan."


Alexa merasa aneh. Entah karena ia yang terlalu banyak pikiran, atau hanya perasaannya saja, jika Evan sedikit berubah sikap. Nada suara laki-laki itu tidak seramah biasanya.


Setelah mobil berhenti di halaman rumah, Evan membuka pintu mobil dan mempersilahkan Alexa keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Alexa berjalan cepat memasuki rumahnya, perasaannya menjadi aneh.


"Apa dia sedang marah padaku?"


"Bukankah aku yang seharusnya marah?"


"Aneh!"


Alexa mencebik dan masuk ke dalam kamarnya. Memangnya, sejak kapan ia peduli dengan perasaan orang lain?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2