
Pukul enam petang, Meera tiba di rumah Alexa dengan dua gaun malam dengan model dan warna yang berbeda.
Menjadi sekretaris Alexa bukan hanya membantu wanita itu untuk menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan urusan hotel dan kantor. Meera bahkan harus berusaha keras memahami gaya dan cara berpakaian Alexa untuk membantu wanita itu memilih gaun dan pakaian yang cocok di acara-acara tertentu.
"Dua gaun ini eksklusif, Nona. Masing-masing hanya ada satu model dan satu warna dari satu designer terkenal. Mana yang kau sukai?" tanya Meera. Ia memperlihatkan dua gaun yang sudah ia bawa.
"Hmm, aku suka keduanya." Alexa mengangguk puas. Ia suka pilihan Meera.
"Jadi, kau akan pakai yang mana untuk malam ini, Nona?"
"Aku pilih yang ini," ujar Alexa sambil menunjuk gaun di tangan kiri Meera.
Gaun berwarna merah maroon tanpa lengan dengan belahan dada rendah itu menjadi pilihan Alexa untuk malam ini. Alexa akan bertemu dengan seorang laki-laki yang telah dipilih oleh ayahnya sebagai kandidat calon suaminya. Maka demi menjaga kehormatan dan martabat keluarganya, Alexa pun harus tampil memukau malam ini.
Pukul tujuh lebih tiga puluh menit, Alexa telah selesai merias wajahnya dan berpakaian dengan cantik. Wanita itu memakai sepatu heels tinggi serta menenteng tas bermerk berwarna senada dengan gaun yang ia kenakan.
"Apa aku terlihat cantik?" tanya Alexa pada Meera.
__ADS_1
"Kau selalu cantik, Nona."
"Jawaban bagus!"
Alexa segera keluar dari kamarnya diikuti oleh Meera. Sementara Evan sudah menunggu di depan pintu utama.
Saat pintu terbuka, Evan menatap seorang wanita cantik bak bidadari yang berjalan ke arahnya. Alexa tampil begitu cantik dan mempesona. Namun, Evan merasa jika penampilan Alexa terlalu menonjol dan berani. Hal itu membuat Evan merasa khawatir dan tidak nyaman.
"Nona, bukankah pakaianmu terlalu terbuka? Kau tidak merasa dingin?" tanya Evan.
Segera, Meera memukul pundak Evan dengan keras.
"Lagi-lagi dia membuat moodku menjadi buruk," batin Alexa. Namun ia berusaha untuk tidak mengungkapkannya secara langsung di depan Evan.
Karena Evan tidak ingin membuat masalah, ia berhenti untuk protes dan segera mempersilahkan Alexa untuk masuk ke dalam mobil.
"Kau bisa pulang, Meera," ucap Alexa.
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin aku menemanimu, Nona?"
"Aku akan pergi berkencan, mana mungkin aku membawa rombongan?" Alexa balik bertanya. Keberadaan Evan yang selalu menempel padanya saja sudah cukup, ia akan terlihat aneh jika mengajak banyak orang untuk menemui laki-laki pilihan ayahnya.
"Hmm, baiklah kalau begitu." Meera mengangguk. "Semoga sukses, Nona."
Meera melambaikan tangan pada mobil yang melaju pelan meninggalkan halaman rumah, wanita itu segera memesan taksi melalui aplikasi online untuk mengantarnya pulang.
Selama perjalanan, Evan memperhatikan Alexa dari kaca yang berada di atas kepalanya. Laki-laki itu memang mengagumi kecantikan Alexa, namun ia merasa tidak senang saat wanita itu berpakaian terlalu terbuka. Selain khawatir Alexa kedinginan di tengah udara sejuk malam hari, Evan juga mengkhawatirkan pandangan buruk dari laki-laki jahat yang melihatnya.
"Kenapa kau terus melihatku? Apa ada yang tidak kau sukai?" tanya Alexa saat ia menyadari sikap Evan.
"Menurutku, kau tidak harus berpakaian seperti itu, Nona," ucap Evan menegur.
"Jika cara berpakaian ku menyakiti matamu, maka jangan melihatku!" seru Alexa ketus.
Mendengar jawaban itu, Evan diam. Ia paham bagaimana sifat Alexa. Evan sendiri sadar jika ia hanya seorang sopir sekaligus bodyguard, ia tidak punya hak untuk mengatur urusan pribadi majikannya.
__ADS_1
...****************...