Oh My Bodyguard

Oh My Bodyguard
Bukan Sandiwara


__ADS_3

Evan berkata dengan serius. Ia tidak mau salah sangka juga tidak mau salah paham. Evan tidak ingin menyalah artikan semua perubahan sikap Alexa.


Evan kini berpikir jika tujuan Alexa terus menyerangnya dengan ungkapan rasa suka hanyalah sebagai tameng agar Alexa bisa lolos dari tekanan kedua orang tuanya yang terus mendesaknya agar segera menikah.


"Kali ini, aku tidak bisa membantumu, Nona. Maafkan aku," ucap Evan bersungguh-sungguh.


"Kau pikir aku sedang mengajakmu bersandiwara?" tanya Alexa.


Evan terdiam, menatap Alexa.


"Aku mengatakan aku menyukaimu, aku mencintaimu. Aku ingin kau menyukaiku! Itu semua bukan pura-pura!"


"Aku tidak berpikir ...."


"Aku tidak munafik. Aku mengatakan apa yang aku rasakan dan aku sudah memastikannya. Kau tidak percaya?"


"Maafkan aku, Nona. Tapi bagaimana mungkin aku bisa percaya saat seseorang sepertimu menyukai laki-laki biasa sepertiku. Padahal kau bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dariku."


"Aku tidak punya apa-apa. Aku tidak kaya, aku tidak punya jabatan tinggi, aku bukan pemilik perusahaan atau seorang pewaris. Aku tidak memiliki apapun untuk dibanggakan. Bagaimana bisa kau menyukaiku?"


"Aku hanya menyukaimu, itu saja," jawab Alexa dengan singkat.


Sejujurnya, Alexa sendiri tidak mengerti. Mengapa ia begitu menyukai Evan, mengapa ia bisa jatuh cinta pada laki-laki itu? Cinta di hatinya tumbuh subur tanpa alasan.


"Maafkan aku, Nona." Evan menganggukkan kepala lalu berjalan meninggalkan Alexa.


"Hei, kau mau kemana? Beri aku jawaban!" seru Alexa.


"Aku akan menunggu di luar."


"Kembali kemari! Aku menyukaimu, Evan!" teriak Alexa.

__ADS_1


Evan berpura-pura tidak mendengar, ia terus berjalan menuju pintu keluar.


"Berhenti di sana!"


Namun Evan mengabaikannya. Laki-laki itu tetap berjalan keluar dari ruangan Alexa dan menunggu di luar pintu seperti biasanya


Alexa merasa kesal, ia menghentakkan kaki ke lantai dengan perasaan marah.


"Apa dia pikir aku hanya akan memanfaatkannya? Bagaimana bisa dia berpikir seburuk itu tentangku?"


Alexa merasa frustasi. Evan bahkan tidak bisa melihat kejujurannya. Dalam hati, Alexa sama sekali tidak memiliki niat tersembunyi perihal perasaannya.


Semua yang ia rasakan untuk Evan saat ini, adalah kejujuran hatinya.


Di luar ruangan Alexa, Evan berdiri mematung sambil memejamkan matanya. Ia mengingat suatu waktu yang terekam dengan jelas di ingatannya.


Itu adalah salah satu kenangan yang sulit ia lupakan dan akan selalu terkenang dalam sebuah ingatan yang menyakitkan dalam hidupnya.


...****************...


Alexa merasakan perubahan itu, namun ia tidak tahu harus melakukan apa agar Evan percaya jika ia sama sekali tidak berniat untuk mengajaknya bersandiwara. Dan apa yang Alexa rasakan, adalah benar-benar sebuah perasaan yang tulus.


Setiap hari, Alexa mengeluh pada Meera. Meminta sekretaris itu untuk membantunya meyakinkan Evan. Namun setiap kali Meera berusaha berbicara dengan Evan, laki-laki itu selalu memiliki cara untuk mengalihkan topik permasalahan.


Sore ini, setelah mengantar Meera pulang ke apartemennya, Alexa dan Evan hanya berdua di dalam mobil. Alexa sudah menahan diri selama beberapa hari untuk membiarkan Evan berpikir, namun nyatanya Evan tetap tidak menunjukkan perubahan.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya padaku?" tanya Alexa.


"Kita sudah membahasnya, Nona. Sebaiknya kau berkata jujur pada kedua orang tuamu. Mereka pasti akan mengerti," jawab Evan.


"Kau masih berpikir bahwa aku hanya berpura-pura? Apa aku terlihat seburuk itu?"

__ADS_1


"Nona, aku mohon jangan berkata seperti itu."


"Hentikan mobilnya!" seru Alexa.


"Kita akan segera sampai."


"Hentikan sekarang!" bentak Alexa.


Evan terpaksa berhenti. Alexa pun langsung membuka pintu dan keluar dari mobil dengan perasaan marah.


"Nona, tunggu! Kau mau kemana?" Setengah berlari, Evan menyusul Alexa yang sudah berjalan cepat.


"Kenapa aku harus menyukai laki-laki seperti itu? Kenapa aku harus mencintai laki-laki yang bahkan tidak bisa mempercayaiku?" gerutu Alexa.


Karena marah dan kesal, ia tidak memperhatikan langkah kakinya dan kendaraan di sekitarnya.


"Nona, berhenti!" teriak Evan.


Pada saat yang sama, sebuah sepeda motor melaju cepat dari arah berlawanan. Alexa berjalan di tepi aspal dengan tidak fokus, wanita itupun mengabaikan teriakan Evan yang terus memanggilnya.


"Alexa!" teriak Evan dengan keras.


NGING ....!!!


Tiba-tiba telinga Alexa berdengung, ia merasakan sakit kepala hebat tanpa sebab. Sekelebat bayangan masa kecil terlintas di kepalanya. Samar-samar, Alexa melihat wajah-wajah yang sempat hilang dari ingatannya. Saat kehilangan keseimbangan, sepeda motor dari arah berlawanan menyenggol tubuhnya dan wanita itupun jatuh tersungkur di tepi jalan.


"Alexa!" Evan berteriak keras, berlari cepat menghampiri Alexa.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2