
Alexa sengaja membahas hal ini untuk memancing reaksi Evan. Kini mereka bukan lagi seorang bos dan pengawal. Melainkan teman masa kecil, sahabat, serta dua orang yang saling menyayangi sejak lama.
Beberapa saat, Evan terdiam.
"Aku harus segera menemukan laki-laki yang baik, yang mau bersamaku dan melindungiku. Aku sadar, Mama dan Papa sudah semakin tua, mereka harus melihatku bahagia," terang Alexa.
"Kau akan berkencan dengan kandidat kedua?" tanya Evan.
"Hmm." Alexa mengangguk. "Tolong hubungi sekretarisnya dan buat jadwal pertemuan kami."
"Bukankah kemarin kau bilang tidak akan mau pergi. Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?"
"Bagaimana lagi, cintaku di tolak. Tapi hidup terus berjalan dan aku tidak mau hanya duduk diam dan menunggu pangeran menghampiriku. Aku juga harus mencari," ucap Alexa.
Wanita itu bangkit dari kursinya. Ia merangkul buket bunga pemberian Evan sambil membawa box donat dengan sebelah tangan. Alexa hendak masuk ke dalam rumah, namun Evan segera menarik lengannya.
"Alexa, bukan maksudku menolak cintamu," ucap Evan. Ia nampak bingung, malu, serta ragu.
"Lalu apa? Aku tahu, kau menyukai wanita lain. Tidak apa, aku mengalah saja."
__ADS_1
"Alexa, bukan begitu ...."
"Sudahlah, Evan. Kita sudah lama saling mengenal. Berbahagialah dengan wanita yang kau sukai. Aku baik-baik saja," ujar Alexa dengan senyum merekah sempurna.
"Alexa, wanita itu adalah ... kau!" seru Evan.
Mendengar ucapan Evan, Alexa tiba-tiba tertawa.
"Haha! Jangan bohong Evan. Jangan menghiburku, itu tidak lucu," ucap Alexa. "Cepat hubungi kandidat kedua. Aku tidak sabar berkencan dengannya!"
"Aku serius, aku menyukaimu! Bahkan sejak lima belas tahun yang lalu," tegas Evan.
"Alexa! Aku mencintaimu!" seru Evan.
Alexa terus berjalan, ia menahan senyum sambil meninggalkan laki-laki di belakangnya.
"Alexa! Hei, dengarkan aku! Aku mencintaimu!" Evan berteriak, suaranya menggema dari balkon lantai dua kediaman Vincent.
Karena Alexa mengabaikan dirinya, Evan pun berjalan cepat menyusul wanita itu. Evan setengah berlari menghampiri Alexa yang menunggunya di ujung anak tangga.
__ADS_1
"Katakan sekali lagi," ucap Alexa.
"Aku mencintaimu, bahkan sejak lima belas tahun silam. Aku menyukaimu, wanita yang aku sukai adalah dirimu!" ucap Evan penuh penekanan.
Alexa tersenyum senang. Ia langsung memeluk Evan hingga donat-donat dalam box berjatuhan di lantai.
Wanita itu tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Rupanya Evan adalah pemilik hatinya sejak lama. Pantas saja, ia tidak pernah sekalipun tertarik pada laki-laki lain selama ini. Rupanya hati wanita itu sudah lebih dulu berlabuh pada laki-laki yang sejak kecil menjadi teman bermainnya.
"Apa kau tetap akan menyukaiku meskipun aku adalah wanita yang kasar dan pemarah?" tanya Alexa tanpa melepaskan pelukannya.
"Aku mencintai wanita yang kepalanya sekeras batu namun kesabarannya hanya setipis tisu. Aku tetap mencintaimu," bisik Evan.
Mereka adalah pasangan yang saling melengkapi. Alexa dengan sifat yang keras kepala dan pemarah, namun bisa di kendalikan oleh sifat sabar dan pengertian Evan yang tidak terbatas.
Karena terlalu fokus satu sama lain, Evan dan Alexa bahkan tidak sadar jika adegan romantis dengan segala drama lucu mereka telah disaksikan secara langsung oleh Asmita dan Vincent, serta beberapa pelayan yang tidak sengaja lewat.
Setelah menyadari bahwa mereka telah menjadi tontonan, Alexa dan Evan pun melepaskan pelukan. Keduanya bergandengan tangan malu-malu menghampiri Vincent dan Asmita.
...****************...
__ADS_1