Oh My Bodyguard

Oh My Bodyguard
Basah Kuyup


__ADS_3

Alexa terus tertawa melihat Evan di dalam kolam. Ia tidak menyangka jika laki-laki seperti Evan ternyata takut pada seekor ular.


"Kau terlihat senang sekali, Nona," ujar Evan. Ia berusaha naik dan keluar dari kolam di sisi lain.


"Tentu saja, aku pikir kau tidak takut apapun," jawab Alexa.


Meskipun begitu, Evan sama sekali tidak merasa kesal. Ia justru merasa senang karena bisa membuat Alexa tertawa meskipun harus mengorbankan dirinya.


Karena sudah mengetahui kejahilan Alexa, Evan memilih untuk menjauh dan menjaga jarak. Ia benar-benar tidak mau mendekati ular itu.


Setelah puas menimang peliharaan kesayangannya, Alexa meninggalkan halaman belakang rumahnya. Wanita itu berjalan menyusuri taman samping dan mengagumi cara Evan menata setiap pot bunga dan merapikan semua pohon bonsainya.


"Selain menjadi bodyguard, apa papa juga memintamu untuk menjadi tukang kebun di rumahku?" tanya Alexa pada Evan yang berjalan di belakangnya.


"Ha? Apa, Nona?" Rupanya Evan tidak fokus mendengarkan ucapan Alexa. Laki-laki itu kedinginan karena pakaian dan tubuhnya basah kuyup.


"Tidak, tidak apa-apa." Alexa mengurungkan pertanyaannya.


Sesampainya mereka di halaman depan rumah, Meera sudah berdiri di dekat pintu utama dan menunggu Alexa.


"Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?" tanya Meera pada Evan dengan nada khawatir.


"Ya, aku baik-baik saja."


"Dia jatuh ke dalam kolam," sela Alexa.


"Nona, kau tidak mendorongnya, kan? Meskipun kau tidak menyukainya, kau tidak boleh melakukan kekerasan pada bawahanmu, Nona," tegur Meera dengan serius.


"Kau pikir aku gila?" bentak Alexa.

__ADS_1


"Untuk itu aku memastikannya," jawab Meera dengan senyum meringis.


"Dasar!" Alexa menendang kecil kaki Meera.


"Hehe!" Meera tertawa kecil.


"Pulanglah, dan ganti pakaianmu!" ujar Alexa pada Evan.


"Tidak perlu, sebentar lagi akan kering," tolak Evan.


"Terserah!"


Alexa berlalu masuk ke dalam rumah diikuti Meera. Sementara Evan tetap di luar rumah sambil mengibas-ngibaskan pakaiannya yang basah. Laki-laki itu berjalan ke halaman depan, duduk di bangku taman dan berharap sinar matahari segera mengeringkan tubuhnya.


"Kau sudah dapat yang aku mau?" tanya Alexa pada Meera. Alexa mengajak Meera naik ke lantai dua rumahnya dan mereka duduk di balkon sambil menikmati hangatnya matahari pagi.


"Kerja bagus. Kau cocok sekali menjadi detektif, Meera."


"Ah, Nona. Kau bisa saja." Meera tersenyum senang. "Ngomong-ngomong, apa kencanmu semalam berjalan lancar?"


"Tidak, itu kencan yang buruk."


"Kenapa?"


"Kau benar, Drax memang genit dan mata keranjang. Beruntung, ada Evan bersamaku," jelas Alexa.


"Apa laki-laki itu bersikap tidak senonoh padamu, Nona?"


"Dia terus mencari kesempatan dan berusaha menyentuhku. Jadi, Evan memukul wajahnya dan menendangnya hingga dia jatuh ke dalam kolam."

__ADS_1


"Wah, keren! Evan pasti keren sekali!" seru Meera seneng. Ia bertepuk tangan kecil dan membayangkan aksi Evan malam itu.


Alexa menatap Meera, sebelah bibirnya terangkat. "Biasa saja!" gumam Alexa.


Saat Alexa membaca lembaran kertas yang baru saja Meera berikan padanya, Meera sibuk melihat-lihat pemandangan taman rumah Alexa dari atas balkon.


Namun, pandangan mata Meera tertuju pada sosok Evan yang berjemur di bawah sinar matahari sambil sesekali mengibaskan kemeja hitamnya.


"Nona, kasihan sekali bodyguardmu," ucap Meera.


Alexa bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Meera, ia melihat ke bawah dan memperhatikan Evan.


"Dia tidak akan mati kedinginan, Meera," ujar Alexa tidak peduli.


"Meski begitu, kau akan mendapat masalah jika Tuan Vincent tahu apa yang sudah kau lakukan pada bodyguardmu."


"Papa tidak akan tahu jika kau tidak membuka mulutmu yang ember itu! Lagi pula, aku tidak melakukan apapun padanya, dia jatuh dengan sendirinya." Alexa membela diri.


"Hmm." Meera menghela napas panjang. "Meski begitu, dia akan sakit jika dibiarkan dengan pakaian basah seperti itu, Nona."


Alexa menatap Meera dengan mata menyipit.


"Cepat pulang! Kau hanya akan membuat sakit telingaku!" ucap Alexa sambil mendorong tubuh Meera.


"Baiklah, baik. Aku akan pulang!" seru Meera. "Semoga hari liburmu menyenangkan, Nona!" teriaknya sambil berlari kecil menuruni anak tangga.


Saat Meera sudah pergi, Alexa berdiri di tepi balkon. Ia memperhatikan Evan dari tempatnya berdiri sambil melamun. Entah apa yang sedang di pikiran wanita itu, Alexa merasa seperti ada sebuah magnet di tubuh Evan yang membuatnya kedua matanya seakan tak ingin lepas menatap laki-laki tampan itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2