Oh My Bodyguard

Oh My Bodyguard
Kau Menolakku?


__ADS_3

Seluruh persendian Meera terasa lemas dan lunglai. Ia hampir jatuh pingsan mendengar ungkapan perasaan Alexa pada Evan secara langsung. Alexa bahkan tanpa basa-basi mengajak Evan berkencan dengannya. Sungguh tanpa basa-basi lagi.


Sementara Evan. Ia terlihat gugup. Ia bingung dan tidak bisa mencerna situasi yang sedang terjadi. Ungkapan cinta tiba-tiba? Apa Alexa sedang bermain peran atau bercanda? Atau semua ini adalah mimpi?


"Ini tiba-tiba sekali," gumam Evan sangat pelan. Laki-laki itu menelan ludah sambil menetralkan detak jantungnya yang memompa dengan cepat.


"Bagaimana? Kau setuju?" tanya Alexa.


"Nona, sebaiknya kau beristirahat. Aku harus keluar," pamit Evan dengan terburu-buru. Ia tidak mau mengambil kesimpulan dengan cepat dan terlalu larut dalam situasi mendebarkan itu.


Evan jelas paham jika sejak awal Alexa sangat membencinya. Alexa bahkan secara terang-terangan menunjukkan sikap tidak suka. Bahkan Alexa berusaha keras untuk membuatnya berhenti dari pekerjaannya.


Namun pernyataan cinta secara tiba-tiba? Evan bagaikan mendengar suara petir di langit yang cerah. Mengejutkan dan tidak terduga.


"Apa itu tadi? Apa dia menolak cintaku?" tanya Alexa kesal. Ia melongo melihat Evan keluar dari kamarnya begitu saja tanpa memberi tanggapan apapun mengenai ungkapan hatinya.


"Nona, mungkin dia ...."


"Apa dia sungguh menolakku? Bagaimana bisa dia pergi begitu saja!" sela Alexa. Meera bahkan belum tuntas mengatakan pendapatnya.


"Ini sangat tiba-tiba, Nona. Evan pasti terkejut. Kau pasti membuatnya takut," ujar Meera.


"Dia takut? Kenapa takut? Aku mencintainya. Apa dia takut aku memakannya hidup-hidup?" Alexa menjadi kesal dan marah. Ia merasa diabaikan dan dicampakkan begitu saja oleh Evan. Alexa merasa usahanya sia-sia dan tidak di hargai.


"Nona, kau harus tenang. Tenangkan dirimu," ujar Meera sambil mengusap pundak Alexa dengan pelan.


"Apa aku sungguh di tolak?" Wajah Alexa berubah sedih.

__ADS_1


"Lain kali, sampaikan perasaanmu dari hati ke hati. Kau tidak bisa langsung mengatakan cinta dan memaksanya seperti itu, Nona."


"Begitukah? Kenapa tidak bilang dari tadi!"


"Aku sudah berusaha, tapi kau tidak mau mendengarkan ku," keluh Meera.


"Jadi, aku yang salah?" Alexa melirik tajam sekretarisnya.


"Tidak, bukan kau yang salah, Nona. Aku! Aku yang salah! Aku!" ucap Meera dengan penuh penekanan.


"Benar! Ini semua salahmu. Andai saja kau memberitahuku cara yang lebih baik, Evan pasti tidak kabur begitu saja!" seru Alexa. Ia melirik Meera.


Menjadi Meera bukanlah hal yang mudah. Ia harus bisa menjadi apapun di hadapan Alexa. Meskipun Meera dipekerjakan sebagai sekretaris, namun ia juga merangkap sebagai pembantu, penata rias, koki, pelayan, bahkan penasehat cinta.


Melihat sikap Alexa seperti ini, Meera harus segera terjun untuk membantu dari pada semua masalah akan menjadi semakin rumit.


"Apa dia sudah gila? Apa dia tidak melihat ketulusanku?"


"Apa aku kurang cantik?"


"Secantik apa wanita yang dia cintai!"


"Dasar! Breng*sek!" seru Alexa kesal. Baru saja bunga-bunga bermekaran indah di hatinya, kini semuanya seakan terbakar dan kembali gersang.


Meera menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Tenang, tenang, tenang. Meera harus tetap tenang di tengah badai dan hujan di depan matanya.


"Meera! Jangan diam saja! Katakan sesuatu!" seru Alexa.

__ADS_1


"Nona, kau seperti harimau Sumatra. Cantik namun buas dan menakutkan. Berhentilah merengek dan mari kita berpikir," ujar Meera.


Entah ada berapa jumlah nyawa yang Meera miliki. Ia begitu berani menyamakan Alexa dengan seekor binatang buas. Dari semua kata yang ada di kepalanya, Meera tidak menemukan satu katapun yang terdengar sopan di depan Alexa.


"Kau sudah gila? Berani-beraninya kau berbicara kasar padaku!"


"Nona, aku hanya punya satu nyawa. Dan setiap hari, aku mempertaruhkan nyawaku untuk menghadapimu. Jadi, aku memang sudah gila semenjak bekerja untukmu," jelas Meera.


"Berhentilah bercanda, Meera. Bantu aku! Ini masalah serius!"


"Baik!" seru Meera. "Jadi, ini adalah masalah yang sangat penting dan serius?"


"Hmm." Alexa mengangguk cepat.


"Kau sangat membutuhkan bantuanku, Nona?"


"Ya!"


"Baiklah, tapi berjanjilah kau akan bersikap baik padaku," pinta Meera.


"Setuju! Apapun yang kau minta, Meera."


"Yes!" seru Meera senang. Kapan lagi ia bisa memanfaatkan Alexa dan membuat hidupnya lebih mudah.


Setelah membuat kesepakatan, Alexa dan Meera mulai menyusun rencana. Meera membagikan tips untuk mengetahui perasaan Evan yang sebenarnya. Meera juga memberitahu Alexa tentang banyak hal yang diam-diam ia perhatikan dari Evan sejak pertama kali mereka bertemu.


Di tengah kekecewaan atas sikap Evan yang mengabaikan ungkapan hatinya hari ini, Alexa merasa jika ia harus berjuang lebih keras lagi. Ia tidak akan menyerah, bahkan jika Evan menolaknya seribu kali, maka ia akan mengungkapkan perasaannya seribu satu kali lagi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2