Oh My Bodyguard

Oh My Bodyguard
Perasaan Aneh


__ADS_3

Seperti sebuah angin segar berhembus di sekitarnya, Alexa bahkan melupakan rasa sakit pada kakinya saat Evan menggendongnya.


Wanita itu tidak tahu, apakah yang ia rasakan adalah sebuah rasa kagum? Rasa bahagia? Atau sesuatu yang lebih serius? Namun debaran jantungnya sedang tidak baik-baik saja.


"Beristirahatlah," ujar Evan setelah meletakkan tubuh Alexa di atas tempat tidurnya.


"Jika perlu sesuatu, telepon aku."


"Aku akan ke dapur untuk membuat makanan untukmu. Atau kau ingin aku memesan makanan khusus? Apa yang ingin kau makan?"


"Tidak, aku makan apa saja."


"Baiklah, tunggu di sini."


Evan keluar dari kamar Alexa. Hanya berselang beberapa menit, laki-laki itu kembali dengan sebuah roti tawar dengan selai nanas di tengahnya.


"Sepertinya stok bahan makanan di dapur sudah kosong. Aku hanya menemukan roti dan selai ini. Maafkan aku," ujar Evan.


"Tidak apa-apa. Aku suka ini." Alexa tersenyum dan mengangguk.


Setelah memastikan Alexa makan, Evan memberinya obat pereda nyeri dan antibiotik yang ia dapatkan dari kotak P3K.


"Aku akan membatalkan kencanmu malam ini, Nona. Aku akan mengaturnya lagi setelah kondisimu membaik."


"Apa itu tidak apa-apa?"


"Tentu saja. Kesehatanmu lebih penting dari apapun."

__ADS_1


"Hmm." Alexa mengangguk. Ia membiarkan Evan pergi agar ia bisa beristirahat.


Saat Evan sudah tidak lagi terlihat, Alexa melamun. Pikirannya dipenuhi dengan segala macam pertanyaan dan pernyataan tentang Evan.


"Kenapa dia begitu baik hati? Dia sangat sopan dan lemah lembut. Dia sangat perhatian, dia memiliki banyak kelebihan, dia penuh dengan kejutan."


Segala hal tentang Evan kini membuat Alexa begitu tertarik. Laki-laki yang awalnya begitu membuatnya tidak nyaman dan kesal, kini telah mengubah perasaan Alexa menjadi bunga-bunga yang bermekaran.


"Dari mana Papa menemukan laki-laki seperti Evan? Mengapa bukan dia saja yang berkencan denganku?"


"Ah, aku pasti sudah gila."


"Tidak, aku memang gila."


"Bagaimana bisa aku mengharapkannya?"


Alexa ingin menjerit. Ia menjadi kesulitan mengontrol perasaannya sehingga membuat pikirannya kacau. Wanita itu menjadi resah, mengapa secepat ini pikirannya tentang Evan bisa berubah?


...****************...


Pukul lima sore, Meera telah sampai di kediaman Alexa. Sekretaris itu terkejut saat mendengar cerita Evan tentang kejadian yang menimpa Alexa. Meera buru-buru menelepon Alexa untuk memberitahu wanita itu jika ia telah tiba.


Karena selain suara perintah dari Alexa, tidak ada seorang pun yang bisa membuka pintu rumah ini tanpa tahu kode khusus sebagai kunci cadangannya.


Setelah kunci pintu terbuka, Meera buru-buru masuk dan menghampiri Alexa ke kamarnya.


"Ya Tuhan, Nona. Bagaiman bisa ini terjadi padamu? Apa ini sakit? Apa kau baik-baik saja?" tanya Meera khawatir. Ia memperhatikan perban di kaki Alexa.

__ADS_1


"Sepertinya rasa sakit di kakiku sudah berpindah ke sini," jawab Alexa sambil menyentuh dadanya.


"Dadamu sakit? Bukankah kakimu yang terluka?"


"Hmm, tapi di sini terasa lebih tidak nyaman." Raut wajah Alexa terlihat serius.


"Apa kau mengalami sesak nafas? Apa kau salah minum obat atau bagaimana, Nona. Tolong perjelas lagi, kau membuatku cemas. Apa kita perlu ke dokter? Aku akan telepon dokter!" Meera panik.


"Tidak, aku tidak butuh dokter, Meera. Entahlah, rasanya aneh."


Meera terdiam, ia mengamati Alexa dan merasa jika bos-nya sedang tidak sehat. Meera bahkan tidak paham tentang apa yang sedang dibicarakan oleh Alexa, dan kemana arah pembicaraan mereka yang sebenarnya.


"Nona, sebaiknya kau istirahat. Aku akan meletakkan gaunmu di ruang ganti. Evan sudah menjadwalkan ulang pertemuanmu dengan Dylan Jordan."


Meera membawa paper bag ke ruang ganti. Ia menggantung gaun yang baru saja ia beli dan meletakkannya di lemari Alexa, berjejer dengan gaun-gaun mewah lainnya.


"Aku akan pulang, Nona. Beristirahatlah," pamit Meera.


"Emm, Meera!" ucap Alexa menghentikan langkah sekretarisnya.


"Ya?" Meera berbalik saat ia sudah tiba diambang pintu.


"Apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Alexa.


"Ini pertanyaan random sekali," gumam Meera. Ia merasa aneh, apakah ada yang salah dengan bos-nya?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2