Oh My Bodyguard

Oh My Bodyguard
Kandidat Pertama


__ADS_3

Hanya berselang lima belas menit, mereka telah tiba di sebuah restoran mewah bertema outdoor.


Restoran ini terkenal dengan sea food yang sangat lezat serta suasana yang romantis yang disajikan.


Evan mengantar Alexa masuk ke dalam restoran, laki-laki itu berjalan di samping Alexa dan membawa wanita itu menuju tempat kandidat pertama menunggu.


Saat mereka tiba di sebuah meja yang terletak di pinggir kolam bertabur bunga, seorang laki-laki tampan menyambutnya.


Laki-laki itu bernama Drax Cameron, laki-laki dengan wajah tampan dan tubuh tinggi berotot itu mengulurkan tangan di depan Alexa. Dengan senyum manis, Alexa menerima uluran tangan tersebut.


"Alexa Eleanor Vincent, kau lebih cantik dari dugaanku," puji Drax. Ia mencium punggung tangan Alexa.


"Terima kasih," jawab Alexa sambil menarik kembali tangannya.


"Ngomong-ngomong, siapa dia?" tanya Drax sambil memandang Evan.


"Ah, dia sopir sekaligus bodyguardku."

__ADS_1


Drax mendekati Evan, "Bisakah kami menikmati makan malam hanya berdua, kau bisa menunggu di luar," pinta Drax.


"Maaf, tugas saya adalah menjaga Nona Alexa. Saya tidak menerima perintah dari siapapun!" tegas Evan.


"Biarkan saja, Tuan Drax. Dia tidak akan mau pergi jauh," ucap Alexa. Memaksa Evan pergi hanya akan menimbulkan keributan, dan itu adalah hal yang tidak baik.


Drax nampak tidak suka sekaligus tidak nyaman, namun ia tidak memiliki pilihan.


Mengabaikan Evan, Drax mendekati Alexa dan merangkul pinggang ramping wanita itu, ia meminta Alexa untuk duduk di kursi yang telah disediakan.


Alexa terlihat risih, namun ia berusaha menjaga sikap. Sementara Evan, darahnya sudah memanas karena sikap lancang Drax yang menyentuh tubuh Alexa tanpa izin.


"Hmm." Alexa hanya mengangguk dan tersenyum.


Hanya berselang lima menit, meja telah penuh dengan berbagai hidangan yang nampak lezat. Sambil menikmati makanan di hadapan mereka, Alexa dan Drax mengobrol tentang bisnis dan saham. Meskipun Drax mendominasi obrolan dengan mengunggulkan kemampuan dirinya dalam berbisnis dan kehidupannya, nampaknya Alexa nampak bosan dan tidak terlalu tertarik.


Dari jarak dua meter, Evan terus mengamati Alexa dan memperhatikan gerak gerik Drax dengan seksama. Evan memahami situasi Alexa sebagai objek yang sangat menarik di mata Drax. Terlebih, Drax sudah menunjukkan sifatnya sejak awal pertemuan.

__ADS_1


"Kau sangat cantik, Nona Alexa. Meskipun sudah melihat fotomu ratusan kali, aku masih mengangumi sosok aslimu. Terlebih, kau pandai memilih pakaian yang cocok di tubuhmu," puji Drax. Ia tidak hanya menatap wajah Alexa, namun memusatkan perhatian pada kedua pa*yu*dara Alexa yang nampak menonjol dari balik gaun.


"Terima kasih," jawab Alexa singkat.


Setelah lebih dari satu jam menghabiskan waktu bersama, Alexa berniat mengakhiri kencan membosankan ini secepat mungkin. Wanita itu beralasan jika ia memiliki janji bertemu orang lain dan harus segera pergi.


"Secepat ini? Aku harap kita akan bertemu lagi," ujar Drax. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Alexa.


Drax merangkul kedua pundak Alexa dan menepuknya perlahan. Namun, Alexa segera menepisnya kasar.


"Berhenti untuk berusaha menyentuhku, Tuan Drax!" seru Alexa tidak tahan. Ia sudah berusaha keras bersikap baik namun sepertinya apa yang Meera katakan adalah benar. Drax memang genit dan mata keranjang. Evan dengan cepat mendekati mereka.


"Nona Alexa, aku tidak bermaksud ...." ujar Drax membela diri, namun ia masih berusaha mendekati Alexa.


Tanpa aba-aba, Evan memukul wajah Drax dan menendang laki-laki itu hingga ia terjebur ke dalam kolam. Alexa sangat terkejut sampai ia tidak bisa berkata-kata. Evan segera melepas jas hitam yang ia kenakan untuk menutupi pundak Alexa.


"Mari kita pergi, Nona," ajak Evan.

__ADS_1


Alexa menuruti Evan dan segera keluar dari restoran. Alexa merasa terkejut sekaligus takut. Ia tidak menyangka jika akan terjadi insiden seperti ini. Dan terlebih, ia merasa beruntung karena Evan berada di sampingnya untuk menjaganya.


...****************...


__ADS_2