OHHH MY LECTURE

OHHH MY LECTURE
Bab 11


__ADS_3

Ara mengetuk pintu ruangan Sean "Masuk" Ara langsung masuk setelah mendengar jawaban dari dalam.


"Permisi pak, bapak manggil saya?" tanya Ara


"duduk" perintah Sean.


Ara menurut, dia mengambil tempat di depan Sean.


"Kamu sudah makan?" tanya Sean.


Ara tak bergeming, dia masih kesal dengan berita yang di terimanya tadi "Maaf pak jika tidak ada hal penting yang mau bapak bicarakan lebih baik saya keluar" ucap Ara sambil beranjak berdiri.


"Duduk!" ucap Sean dengan tegas.


"Kamu kenapa, kamu marah karena saya usir dari kelas?" tanya Sean.


"enggak kok pak, memang sudah seharusnya bapak melakukan itu" jawab Ara. Ara memang sudah melupakan kejadian Sean mengusirnya tadi.


"terus kenapa kamu terlihat marah?" tanya Sean lagi, Ara diam tak menjawab.


"Maaf tadi saya meninggalkan kamu, karena katanya kamu tidak mau orang tau kalau kita sudah menikah, jadi saya berangkat terlebih dahulu" ucap Sean memberi penjelasan.


"Ra" panggil Sean, karena Ara tidak kunjung merespon perkataannya.


"Saya rasa tidak ada Mahasiswa dan Dosen yang membahas masalah rumah tangga di kampus" ucap Ara ketus.


"Dan tidak ada seorang istri yang berpegangan tangan dengan laki - laki lain di belakang suaminya" ucap Sean yang membuat Ara bungkam.


"Bukan karena kita merahasiakan pernikahan ini jadi kamu bisa seenaknya berpegangan tangan dengan laki - laki lain" ucap Sean yang sedari tadi menahan amarah di dadanya karena melihat istrinya di sentuh oleh laki - laki lain.


"Terus apa bedanya dengan bapak?" tanya Ara tak kalah emosi mendengar tuduhan Sean.


Sean mengerutkan dahinya "maksud kamu?" tanya Sean tidak mengerti dengan ucapan Ara.


"Bapak masih sering jalan kan sama bu Monik?" tuduh Ara.


"kamu kenapa hobi sekali membahas soal Monik? sudah saya bilang, saya sudah tidak memiliki hubungan apa - apa lagi dengan Monik" ucap Sean.


Ara berdiri dari kursinya "Ohh yaa ?? terus minggu kemarin ngapain jalan berdua dengan bu Monik di mall? disaat kita sedang mempersiapkan acara nikahan kita, bapak malah enak - enakan jalan sama pacar bapak" Ara sudah tidak bisa membendung air mata nya yang dari tadi sudah menutupi sebagian matanya, dia menangis meratapi kebodohannya yang sudah menerima Sean menjadi suaminya.


"Kamu sudah salah paham" ucap Sean yang tersadar kalau Ara sudah termakan gosip orang - orang yang tidak bertanggung jawab.


"salah paham bapak bilang? salah paham?" tanya Ara frustasi dengan jawaban Sean "saya sudah liat fotonya, bapak lagi pegangan tangan sama bu Monik" ucap Ara.


"Kamu harus mendengar penjelasan saya" ucap Sean.


"enggak ! semuanya sudah jelas, bapak udah bohong sama saya, bapak bilang udah putus sama bu Monik, tapi nyatanya kalian masih jalan. Saya nyesel terima bapak jadi suami saya" ucap Ara seraya menangis.


Untung ruangan Sean kedap suara, jadi perdebatan mereka tidak terdengar sampai ke luar.

__ADS_1


"Cukup Ara, dengarkan penjelasan saya dulu" Sean menuntun Ara untuk duduk di sofa ruangan Sean.


Sean mulai bercerita "Waktu itu saya memang pergi ke mall untuk membeli cincin pernikahan kita, tapi saya tidak tahu jika Monik juga berada di tempat yang sama dengan saya, kami bertemu saat saya baru keluar dari toko perhiasan tempat saya membeli cincin pernikahan kita. Saat itu Monik melihat dan menghampiri saya. Dia bertanya sedang apa saya di sana dan membeli perhiasan untuk siapa, hanya terjadi perbincangan biasa antara saya dan dia" jelas Sean pada Ara.


Ara mengusap kasar air matanya "terus kenapa pake pegangan tangan segala?" tanya Ara.


"hmmm..." Sean menghela nafas.


"Apa orang yang menyampaikan gosip itu mengatakan siapa yang pertama kali memegang tangan saya? apa orang itu tau apa yang terjadi sebelum dan sesudah foto itu di ambil?" tanya Sean yang hanya di balas gelengan oleh Ara.


"makanya di pastikan dulu kebenarannya, baru marah - marah" ucap Sean sambil mengacak - acak rambut Ara.


"memang nya apa yang terjadi?" tanya ara seraya menyingkirkan tangan Sean dari kepalanya.


"Setelah saya menjawab pertanyaan Monik lantas saya langsung beranjak pergi, tapi dia dengan lancang menarik tangan saya. Namun genggaman tangan Monik tidak lebih dari 2 detik, karna saat itu saya langsung melepaskannya. Dan soal foto itu saya rasa waktu mereka mengambilnya tepat ketika Monik memegang tangan saya jadi seolah - olah kami sedang bergandengan tangan" jelas Sean dengan sabar.


"kamu hanya perlu tau bahwa saya tidak pernah berbohong dan saya sama sekali tidak berniat mengkhianati pernikahan kita, mungkin bagi kamu pernikahan ini terjadi hanya karna keterpaksaan, namun tidak bagi saya, saya tulus menjalaninya." sambung Sean.


Ara mencari kebohongan di mata Sean, namun yang terlihat hanyalah ketulusan. Mendengar itu tangis Ara semakin pecah "hey kamu kenapa?" tanya Sean sembari membawa Ara kedalam pelukannya.


"Apa benar yang bapak bilang?" tanya Ara memastikan.


"Saya tidak pernah berbohong Ara" Ucap Sean yang menekankan kata bohong disana.


"Saya minta maaf pak, saya salah sudah percaya begitu saja dan tidak mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu" ucap Ara menyesal.


Ara hanya mengangguk dan menghapus jejak - jejak air matanya.


"kamu sudah makan?" tanya Sean.


"Udah, setelah bapak usir saya tadi, saya langsung ke kantin untuk makan" jelas Ara.


"mulai besok kita berangkat kampus sama - sama" ucap Sean.


"Eh ga mau pak, nanti orang - orang curiga" tolak Ara. Namun seketika Ara ingat sesuatu "oh iya pak, tadi katanya bapak menjawab pertanyaan bu monik perihal bapak membeli perhiasan untuk siapa, terus bapak jawab apa?" tanya Ara penasaran.


"untuk calon istri saya" jawab Sean jujur.


"APAAA... jadi bapak bilang sama bu Monik kalau bapak beli cincin nikah?" tanya Ara histeris yang hanya di jawab anggukan oleh Sean.


"Yaah... kok gitu sih pak, kan saya udah bilang pernikahan ini di rahasiakan" rengek Ara.


"kan saya bilang untuk calon istri saya bukan untuk kamu" ucap Sean santai.


"iya juga sih, lagian kan pak Sean ga bilang calon istrinya siapa, jadi bu Monik ga tau kalau pak Sean nikahnya sama gue" ucap Ara dalam hati.


"Yaudah deh kalo gitu saya mau pulang" ucap Ara.


"Kalau boleh saya ingatkan kamu masih menjabat sebagai asisten saya, jadi tugas kamu sekarang menemani saya disini" ucap Sean mengingatkan.

__ADS_1


"Yaelah pak gitu banget jadi suami" gerutu Ara.


"Di rumah kamu memang istri saya tapi di kampus kamu tetap mahasiswi saya" jelas Sean.


"iya iyaa saya juga tau" ucap Ara.


"Bagus, sekarang tolong kamu ketik materi dari buku yang ada di meja untuk mata kuliah saya besok" suruh Sean.


"tapi saya ga bawa laptop" ucap Ara.


"pakai laptop saya" balas Sean.


Ara berjalan menuju meja kerja Sean dan mulai membuka laptop milik Sean.


Ara fokus merangkum materi - materi dari buku yang Sean maksud, sedangkan Sean sibuk dengan iPad ditangannya.


Konsentrasi Ara terpecah saat suara pintu ruangan Sean seketika di buka dari luar, di sana muncul bu Monik yang tiba - tiba duduk di samping Sean.


Sean terperanjat kaget melihat bu Monik yang tiba - tiba duduk di sampingnya sambil memegang tangan Sean, "Sean kamu sudah makan siang?" tanya bu Monik.


Sean beringsut menjauhi bu Monik, Sean menoleh sekilas melihat Ara.


Ara hanya menunduk setelah menyaksikan kejadian di depan matanya itu, dia tidak mau bu Monik sadar bahwa dirinya sedang memperhatikan mereka berdua.


"Mau apa kamu?" ucap Sean dengan muka datarnya.


bu Monik kembali meraih tangan Sean "Sean aku hanya ingin mengajak mu makan siang bersama" ucap bu Monik.


Ternyata bu Monik belum sadar jika ada Ara di ruangan itu, "apa kamu tidak malu bersikap seperti itu di hadapan mahasiswi mu?" tanya Sean yang menunjuk Ara dengan dagunya.


bu Monik menoleh ke arah dimana Ara duduk, "Hey, kamu ngapain di situ?" tanya bu Monik dengan nada yang tidak bersahabat.


"eh" Ara gelagapan mendapat pertanyaan dari bu Monik "sa.. saya asisten pak Sean bu, saya sedang merangkum materi untuk pak Sean mengajar" jelas Ara pada bu Monik.


"Sebaiknya kamu keluar dulu, ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan Sean" Usir Monik.


Ara melihat ke arah Sean dan mendapat anggukan dari Sean, pertanda Ara harus menuruti perintah bu Monik.


Ara beranjak dari duduknya " baik bu, saya permisi" ucap Ara seraya berjalan melalui mereka berdua.


***


Hayyy semuanya..


makasih sudah mampir ke cerita baru aku, ini cerita pertama aku.


aku minta support ny ya, jika ada kesalahan silahkan tinggalkan kritik kalian di kolom komentar, tapi berkomentarlah dengan kata-kata yang baik😊


Aku akan usahain update secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2