OHHH MY LECTURE

OHHH MY LECTURE
Bab 8


__ADS_3

Ara mengekor di belakang Sean, mereka berjalan menuju kursi teras. Angin malam yang berhembus sangat dingin tidak dapat Ara rasakan, karena terkalahkan dengan rasa penasaran yang menyelimuti dirinya.


Ara duduk di samping Sean "sejak kapan pak?" tanya Ara ambigu.


Sean mengerutkan dahi mendengar pertanyaan spontan dari Ara.


"Sejak kapan bapak tau kalo kita mau di jodohkan" lanjut Ara, karena dia tau Sean tidak paham dengan pertanyaan nya.


"Sejak malam ini" jawab Sean.


Ara menoleh ke arah Sean "jadi bapak juga baru tahu kalo mau di jodohkan dengan saya?" Sean mengangguk mengiyakan.


"terus kenapa bapak ga nolak?" tanya Ara lagi.


"kenapa saya harus nolak?" jawab Sean dengan pertanyaan.


"bapak kan udah punya bu Monik, nanti apa kata orang di kampus kalo bapak nikah sama saya dan bukan dengan bu Monik, saya ga mau di sebut perebut pacar orang pak" ucap Ara frustasi dengan jawaban yang di berikan Sean.


"sudah saya bilang kalau saya bukan pacar Monik" jelas Sean.


"bapak bohong, bukti nya orang-orang di kampus pada bilang begitu.


"yang punya kehidupan itu saya, bukan orang-orang di kampus" jawab Sean sembari memandang lurus ke Arah jalanan.


Sean menghela nafas "saya dulu memang pernah punya hubungan dengan Monik, tapi semua itu sudah berakhir" sambung Sean.


Ara menoleh ke arah Sean guna mau mendengarkan penjelasan Sean lebih lanjut, "saya sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan dia dan saya juga sudah tidak mencintainya sejak dia mengkhianati saya" ucap Sean dengan muka datarnya.


Ara tidak tau harus merespon seperti apa, dia tidak menyangka jika bu Monik adalah mantan kekasih Sean.


Ara tidak mau bertanya lebih lanjut mengenai hubungan Sean dan bu Monik karena menurut Ara itu adalah privasi mereka berdua dan Ara tidak berhak untuk tau.


"saya tidak punya alasan untuk menolak perjodohan ini, karena saya ingin berbakti kepada orang tua saya, jika kamu mau menolak silahkan, saya tidak akan memaksa" ucap Sean.


Ara menunduk dia bingung harus berbuat apa, apakah dia harus menerima atau menolak perjodohan ini. Jika dia menolak, sudah pasti orang tua nya akan sangat kecewa kepada nya. Ara tidak mau mengecewakan mama papa mya yang sudah sangat menyayangi nya itu.


Ara mengusap ujung mata nya karena bulir-bulir air mata perlahan membasahi sudut matanya.


"sejujurnya saya kaget dengan keputusan orang tua saya yang mendadak ingin menikahkan saya dengan bapak, bukan nya saya ga mau, tapi saya belum siap untuk berumah tangga. Seperti yang bapak dengar dari papa saya tadi, bahkan untuk bangun pagi saja saya belum siap, apalagi bangun rumah tangga" jelas Ara dengan muka murung nya.


"Kamu bisa perlahan-lahan belajar, tidak ada yang tidak mungkin jika kamu mau" nasihat Sean.


"Saya anak manja pak, bukan hanya tidak bisa bangun pagi, saya juga ga bisa masak, nanti bapak mau makan apa" ucap Ara malu karena dirinya sama sekali tidak bisa di andalkan.


Sean menghela nafas nya dan merangkul pundak Ara seraya berkata, "Kita akan sama-sama belajar, saya akan belajar menjadi suami yang baik, dan kamu juga belajar menjadi istri yang baik. Saya akan menuntun kamu dan kita akan berjalan beriringan dan tidak akan ku biarkan kamu berjalan sendirian di belakang ku. maka dari itu menikahlah dengan ku Ara" pinta Sean.


Air mata Ara menetes kian deras setelah kalimat yang begitu panjang Sean lontarkan kepada nya, dia terharu mendengar penyataan yang di berikan oleh Sean.


Ara mengangguk seraya masih menangis sesenggukan "iya pak, Ara mau menikah dengan bapak" ucap Ara sembari menghembuskan ingus yang keluar dari hidung nya menggunakan baju yang dia pakai.


Sean beringsut melepaskan rangkulan nya dan menjauh dari Ara "kamu itu jorok sekali" ucap Sean melihat tingkah laku Ara.

__ADS_1


"Tapi pak saya ga mau orang-orang di kampus sampai tau kalo kita udah nikah" ucap Ara tiba-tiba.


Sean mengerutkan dahinya "Maksud kamu?" ucap Sean tidak mengerti.


"Saya mau kita merahasiakan pernikahan kita, ya semacam Backstreet lah " jelas Ara


"Kenapa? apa kamu sudah punya pacar?" selidik Sean.


"pengen nya sih gitu, tapi sayang nya ga punya. Ya saya masih mau menjalankan kehidupan saya layaknya mahasiswi biasa pak, tanpa dibubuhkan julukan istri Dosen, nanti apa kata temen-temen saya kalo saya udah nikah, apalagi nikah nya sama bapak" jelas Ara.


"memang nya kenapa kalau menikahnya sama saya? tanya Sean


"eh.. e.. enggak papa kok pak" jawab Ara gugup.


"kamu sering membicarakan saya di belakang kan bersama teman-teman kamu" tuduh Sean.


"enggak pak, serius deh" kilah Ara


"jangan bohong sama calon suami sendiri"


"iya deh Ara ngaku, Ara suka ghibah in dosen sama temen-temen Ara, tapi ga cuma bapak aja kok, ada dosen lain juga" Ara mengaku.


"Kamu itu, tidak baik membicarakan orang lain" ucap Sean.


"iya iyaa, jadi gimana, pernikahan nya di rahasiakan yaaa pak, Please" mohon Ara.


Sean mengerti ke khawatiran Ara, dia belum mau sepenuhnya di bebani dengan rasa tanggung jawab sebagai seorang istri karena umur nya juga masih sangat muda, "baiklah kalo itu mau kamu" ucap Sean.


"Nah gitu dong" ucap Ara senang.


***


Hari pernikahan yang telah di tentukan dua keluarga itu akhirnya datang juga. Pernikahan Ara dan Sean di gelar di kediaman Bagas dan Ayu, sesuai permintaan Ara, hari ini mereka hanya melangsungkan acara akad nikah saja, itupun hanya mengundang keluarga dekat dari masing-masing kedua mempelai.


Ara menatap dirinya di cermin, dia sudah memakai gaun pengantin berwarna putih yang kontras dengan warna kulit nya, ditambah lagi dengan riasan wajah nya yang nampak natural, serta tak lupa hair do yang sangat cantik sudah tertata rapi di kepala nya.


"Anak mama cantik bangett" ucap Ayu yang terpukau melihat anak perempuan satu-satu nya.


"Makasih ma" ucap Ara


"iya sayang sama-sama, Ara sekarang dengerin mama. Sebentar lagi kurang dari 30 menit Ara akan menjadi seorang istri, mama cuma mau berpesan, tinggalkan semua perilaku buruk Ara di masa sebelum menikah, patuh lah dengan suami Ara jika itu hal yang baik, jangan pernah berlaku tidak sopan dengan nya. Ara di didik dengan benar kan oleh mama papa?" tanya Ayu yang di balas anggukan oleh Ara.


Ayu memeluk Ara dengan sayang, "ayo sekarang saat nya kita turun ke bawah, prosesi ijab kabul nya akan segera di laksanakan" ajak Ayu.


Ayu menuntun Ara turun dari tangga, semua mata tertuju pada Ara yang sangat cantik memakai gaun pengantin itu.


Ayu mendudukkan Ara di samping Sean yang sudah menunggu Ara sejak tadi, Sean memandang takjub ke arah calon istri nya itu.


"Sudah siap?" tanya bapak penghulu yang sedari tadi sudah stand by di rumah itu.


"Siap pak" jawab Sean dengan pasti

__ADS_1


"Pak Bagas silahkan Jabat tangan Ananda Sean" perintah bapak penghulu.


Bagas berjabat tangan dengan Sean dengan kokoh seraya mengucapkan "Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda SEAN ALEXAN WIJAYA dengan putri saya yang bernama ARALECIA TRIANA dengan mas kawin berupa kalung berlian dan uang tunai sebesar 300 juta rupiah di bayar tunai" ucap Bagas, lalu langsung di jawab Sean dengan lantang "Saya terima nikah dan kawin nya ARALECIA TRIANA dengan mas kawin tersebut TUNAI" ucap Sean dengan satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi? sah ?" tanya bapak penghulu kepada saksi-saksi yang sudah di tunjuk sebelumnya.


"SAH" jawab para saksi dengan serentak , bersamaan dengan air mata Ara yang jatuh membasahi pipinya. Dia terharu karena dia sekarang sudah sah menjadi seorang istri dari Sean, yaitu Dosen nya sendiri.


"Alhamdulillah" semua orang mengucap syukur atas terlaksana nya pernikahan Sean dan Ara.


***


Setelah acara akad nikah selesai, Ara memasuki kamar nya yang sudah di sulap menjadi sebuah kamar pengantin.


Ara melamun dan duduk di tepi kasur miliknya, "sekarang gue udah jadi istri orang, ntar kalo gue hamil gimana?" ucap Ara dalam hati.


Pintu kamar Ara terbuka dan menampilkan Sean yang masuk ke kamar nya, Sean heran melihat Ara duduk melamun di sana, bahkan tak bergeming saat Sean memanggil namanya.


"Ara" panggil Sean


"Araa" Sean melambaikan tangan nya di depan wajah Ara


Ara tersentak kaget melihat Sean sudah ada di depan wajahnya " eh.. bapak" ucap Ara.


"Kamu kenapa?" Sean kembali bertanya.


"enggak kok saya ga papa, saya mau mandi" Ara langung beranjak menuju ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya.


20 menit berlalu Ara udah selesai dengan ritual mandi nya, Ara pun keluar dari kamar mandi, ketika membuka pintu Ara kaget melihat Sean tengah berdiri di depan kamar mandi dan hanya memakai handuk di pinggangnya.


"AAAAAAAA....!!!!" teriak Ara sembari memalingkan wajah nya ke samping.


"Heh... berisik ! kamu itu kenapa sih hobi banget teriak-teriak" ketus Sean, karena dia pun kaget mendengar Ara berteriak.


"Bapak ngapain sih ga pake baju" ucap Ara.


"Ya saya mau mandi lah, masa saya mandi pake jas" jawab Sean.


"Ya bapak kan bisa lepas baju di dalam kamar mandi" ucap Ara seraya berjalan melewati Sean menuju kaca rias nya.


Sean tidak menggubris perkataan Ara, lantas dia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya.


Setelah selesai dengan kegiatan nya di kamar mandi, Sean lantas keluar dan melihat Ara sudah berbaring membelakangi diri nya di tempat tidur.


Sean ikut menyusul menaiki tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Ara. Ara masih belum tertidur, buktinya saat Sean menaiki tempat tidur, dia tersentak kaget dan beringsut ke arah pinggir kasur.


Sean yang melihat pergerakan Ara tersadar bahwa dirinya belum bisa meminta hak nya kepada Ara, karena mungkin Ara belum siap untuk memenuhi kewajiban nya.


Lantas Sean menarik selimut untuk menutupi tubuh Ara dan segera mematikan lampu di samping tempat tidurnya.


"Tidurlah, jangan khawatir saya tidak akan menyentuh kamu jika kamu belum siap" ucap Sean pada Ara.

__ADS_1


Ara mendengar itu langsung menutup kedua matanya dan berharap dia akan segera tertidur.


***


__ADS_2