OHHH MY LECTURE

OHHH MY LECTURE
Bab 31


__ADS_3

Kejadian tadi malam seakan terlupakan oleh mereka kecuali Arsya.


Sekarang mereka sedang asik bermain dan berfoto di halaman villa tersebut, sedangkan Arsya lebih banyak diam dan lebih memilih untuk memainkan ponsel nya di teras villa.


"widihhh kece parah pemandangannya" ucap Yuki.


"Iya nih, jarang banget bisa ngeliat pemandangan sebagus ini di kota" timpal Tita.


Di sana juga tersedia beberapa sepeda guna untuk mereka pakai jika ingin berkeliling di sekitar villa.


"Ra sepedaan yuk" ajak Tita.


"Ayok, udah lama gue ga naik sepeda"


"Eh kaga usah, emang kaki lo udah nyampe Ra?" tanya Bimo.


"Eh kampret! gini - gini gue udah kuliah, bukan anak TK" ucap Ara tidak terima.


"Lu anak kuliahan abal - abal"


"Pala lo abal - abal"


"udah yuk ah sepedaan aja, ngapain ngobrol sama korek kuping" ajak Yuki.


"HEH! KUTU KUDA SINI LU" ucap Bimo sembari mengejar sepeda Yuki.


Mereka semua tertawa lepas dan menikmati kebersamaan mereka. yang perempuan memilih bersepeda keliling villa, sedangkan yang laki - laki lebih memilih duduk di taman villa sembari bermain gitar dan bernyanyi.


Ketika sore hari saat udara sedang sejuk - sejuk nya, "Eh kita masuk ke labirin yuk, seru deh kaya nya? " ajak Yuki.


"ga mau ah labirin nya gede banget, takut nyasar gue" jawab Ara.


"kan ada cowok - cowok, kalo ilang nanti di cariin, gampang deh pokok nya" ucap Yuki meyakinkan.


Ara berfikir sejenak, "gimana Ta? " tanya Ara.


"Kalo gue sih oke oke aja" ucap Tita.


"emm.. yaudah deh gue ikut, tapi lu pada jangan ninggalin gue ya" ucap Ara.


"Beresss" ucap Yuki.


Ara, Tita, Yuki memasuki labirin yang ada di villa tersebut, "Woy bim ntar kalo kita kaga keluar - keluar tolong cari in kita yak" teriak Yuki.


"Ogah, males gue" timpal Bimo.


"Gue tabok lu ye"


"Yud kita masuk ke labirin, nanti cari in ya" ucap Tita pada Yuda.


"Telpon aja ntar,"


"iya kalo ada sinyal, kalo kaga ada gimana bego" ucap Yuki.


"Yaudah deh ntar di cari in, berisik banget dah"


"Oke"


Mereka bertiga mulai berjalan memasuki pintu gerbang labirin itu, di sepanjang dinding labirin banyak di tanami bunga - bunga yang beragam warna.


"Woww.. gila! Ga nyangka bagus banget labirinnya" ucap Yuki.


"Fotoin gue woy"


"kuy fotoo"


"sini Ra"


"eh gue di tengahhh"


"ribet banget si lo"


"udah udah sini giliran aja" lerai Ara.


Mereka bertiga berfoto foto di dalam labirin tersebut, setelah itu mereka lanjut menelusuri jalanan yang ada di depan mereka.


"Eh gimana kalo kita lomba cari bunga yang paling bagus di labirin ini" usul Yuki.


"ide baguss" jawab Tita.


"Jadi kita mencar ni?" tanya Ara.


"iya, kita mencar dulu, masing - masing cari satu bunga yang paling bagus, nanti titik kumpulnya disini lagi aja, oke? " ucap Yuki.


"yaudah Oke deh"

__ADS_1


Mereka mulai memisahkan diri berjalan ke arah yang berbeda. Yuki ke arah Utara, Tita ke arah timur, dan Ara ke arah barat.


Ara menelusuri tiap dinding - dinding pembatas labirin ini, "wahhh bunga nya banyak banget, ini bagus ni, eh tapi ini juga bagus, duhh jadi bingung" ucap Ara bermonolog.


Ara nampak bingung harus memilih bunga yang mana, semua yang di lihat terlihat sangat bagus. Bunga pertama menurutnya sudah sangat bagus, namun semakin berjalan ke depan, bunga yang lain juga tak kalah cantik.


Ara terus melangkah mengikuti arah belokan belokan yang ada di labirin tersebut dengan arah yang tak menentu.


Hari semakin petang dan langit semakin lama semakin menggelap.


"duh gue bingung mau yang mana, yaudah deh ambil yang ini aja" ucap Ara memetik salah satu bunga berwarna baby blue yang masih setengah kuncup.


Ara menoleh ke belakang, "kaya nya gue udah terlalu jauh jalan deh" Ara berjalan kembali ke tempat dia dan teman - teman nya menentukan titik kumpul.


Namun semakin dia berjalan, semakin dia tidak mengenal tempat tersebut. Ara tersesat !


Ara mulai panik, dia mulai mengatur nafas nya yang terengah - engah karna berjalan terlalu cepat.


"huh, tenang Ra tenang, ini cuma taman labirin, lo ga boleh takut" ucap Ara menyemangati dirinya sendiri.


Ara mulai berjalan kembali menelusuri labirin tersebut untuk mencari jalan keluar, gadis itu lurus, lalu berbelok, kembali lurus, dan berbelok lagi Namun tetap saja dia tidak menemukan jalan yang benar.


Cuaca yang semula mendung kini sedikit demi sedikit mulai menumpahkan hujan yang sudah terbendung sejak tadi.


"Yahh ujan lagi, gimana nihhh" ucap Ara


"Tadi gue lewat mana ya? "


"Kok jalan nya jadi ribet gini sih"


Ara terus menerus menyusuri lorong lorong labirin tersebut. Dia membuka ponselnya mencoba menelpon teman - teman nya, namun tidak ada yang menjawab.


Ara mencoba menelpon suaminya, tut.. tut..


"Tapikan mas Sean kan Di jakarta, mana mungkin dia bisa nolongin gue" ucap Ara mematikan ponsel nya.


"TITA"


"YUKIII"


"KALIAN DIMANAAA? " teriak Ara yang suaranya tenggelam di telan deras nya hujan.


Dia mulai frustasi dengan keadaan, Ara mulai menangis. Hujan semakin lama semakin turun dengan deras.


"Titaaaaa hikss.. "


Ara bingung harus berbuat apa, badannya sudah mulai basah kuyup, tubuhnya pun sudah mulai lelah karna berjalan sudah sangat jauh.


Ara terduduk di tengah - tengah labirin, gadis itu menekuk lututnya dan menenggelamkan kepalanya di atas lekukan lututnya. Hujan deras dengan keras menghantam tubuhnya yang lelah itu.


"Massss Seannnnnnnn hiksss"


"Aku mau pulangggggg" ucap Ara menangis.


Dreett.. dreet... ponsel Ara bergetar pertanda ada telpon masuk. Di sana tertulis nama "Pak Sean".


Mata Ara berbinar melihat nama yang tertulis di ponsel nya.


" Hallo mas, mas tolongin Ara hiks"


"Kamu kenapa? " tanya Sean panik di sebrang sana.


"Mas Ara terjebak di labirin, Ara ga tau jalan pulang" adu Ara.


"Kamu tunggu di sana" ucap Sean sembri menutup ponselnya.


Ara tidak yakin Sean akan datang secepat itu, dia memilih untuk melanjutkan mencari jalan keluar sendiri.


Gadis itu kembali berjalan lurus, lalu berbelok, berbelok lagi, lurus dan jalan buntu.


"Ya allah perasaan tadi masuk ga seribet ini"


"gue udah kedinginan banget"


Tubuh Ara menggigil kedinginan karena sudah di terpa hujan deras sejak tadi.


dret.. dret.. drett


Ara merogoh saku celana nya, ponsel Ara kembali bergetar, "Hallo mas" ucap Ara mengangkat telpon Sean.


"Kamu dimana sayang?" Tanya Sean.


"Di tengah labirin mas, Ara udah nyari jalan dari tadi tapi ga nemu, Ara udah capek mas udah kedinginan banget hikss hiks" ucap Ara.


"Kamu masuk dari arah mana?" tanya Sean

__ADS_1


" Barat mas"


"Kamu diam di tempat kamu, jangan melangkah kemana - mana" ucap Sean.


"Mas di sini juga?" tanya Ara.


"coba kamu teriak" ucap Sean ingin tahu dimana arah Ara.


"MAAAAAAAAASSSSSSSSSSSSS" Teriak Ara.


Sean langsung menuju di mana suara itu berasal, dia mengikuti lorong - lorong yang menuju ke tempat Ara.


"sekali lagi" ucap Sean.


"MAAAAAAAAASSSSSSSSSSSSS" teriak Ara lagi.


Ara sudah lelah berdiri, dia duduk di ujung lorong buntu itu, dia menangis karna lelah, dia juga tidak yakin kalau Sean akan menjemputnya, bisa saja dia hanya menyuruh orang lain yang menjemputnya, padahal dia berharap sekali Sean yang menjemputnya.


Gadis itu kembali menenggelamkan kepalanya di lutut dan menangis dalam derasnya hujan.


Tak Lama


"Sayang"


Ara mendongak ketika suara bariton milik suaminya terdengar memanggil nya.


"Mas Seannn" ucap Ara sembari bangun dan berlari memeluk Sean.


"Mas Ara takut, Ara ga bisa keluar, Ara udah hampir 2 jam di sini hiks" adu Ara pada suaminya.


"Sudah sekarang kamu aman, ayo keluar" ucap Sean.


Sean menuntun Ara keluar dari labirin itu, tak sampai 15 menit mereka sudah sampai di gerbang labirin.


Mereka menuju ke Villa tempat di mana teman - teman Ara berada.


"Araaa lo gak papa?" ucap Tita khawatir


"kita tadi udah cari in lo tadi Ra tapi ga ketemu, kita teriakin tapi lo ga denger, di telpon juga ga bisa" ucap Yuki.


"udah sejam lebih kita mencar nyari lo di labirin" tambah Yuda.


"Tapi kok lo bisa sama pak Sean?" tanya Bimo.


Semuanya baru sadar kalau Ara pulang di antar oleh Sean.


"Bapak kok bisa ada di sini?" tanya Arsya. Semua mata tertuju pada Ara dan Sean.


"Saya suami Ara" ucap Sean.


Semua orang yang ada di sana membulatkan mata nya karna kaget atas pengakuan Sean.


Ara hanya bisa pasrah karna Sean sudah mengaku pada teman - temannya.


"ini beneran Ra?


" Ra srius? "


"Jadi suami lo pak Sean Ra?


Ara mendapat pertanyaan bertubi - tubi dari teman nya hanya bisa mengangguk pasrah.


" Boleh saya mengantar istri saya ke kamar nya untuk mengganti pakaian? " ucap Sean menghentikan pertanyaan demi pertanyaan dari teman istri nya itu.


"eh i-iya pak silahkan" ucap Bimo


Sean dan Ara menuju ke Kamar Ara yang ada di villa tersebut dan mengganti pakaian nya.


"maaf mas" ucap Ara sembari memunduk.


"untuk? " tanya Sean.


"Maaf karna saya ga dengerin omongan mas yang melarang masuk ke labirin itu." Ucap Ara.


Sean memeluk Ara, " ya sudah tidak apa - apa, lain kali jangan di ulangi" ucap Sean.


Ara mengangguk dalam pelukan Sean, "tapi mas, kenapa mas bisa cepet banget sampe sini nya, mas kan kemarin langsung pulang ke jakarta" ucap Ara bingung.


"kemarin setelah saya mengantar kamu, saya lebih memilih untuk menyewa penginapan yang dekat sama villa kalian, saya takut kamu sewaktu - waktu membutuhkan saya" ujar Sean.


Mata Ara kembali berkaca - kaca mendengar penjelasan Sean. Berarti Papa nya tidak salah memilihkan suami untuk nya.


"Makasih ya mas udah peduli sama Ara. Papa bener - bener ngga salah memilihkan Suami untuk Ara" ucap Ara kembali memeluk Sean.


Sean tersenyum mendengar perkataan Ara.

__ADS_1


***


__ADS_2