
Pagi pagi sekali Ara sudah sampai di kampus, dia sudah ada janji dengan pak Yono kalau hari ini dia akan mengumpulkan Bab 3 skripsi nya.
Namun, sepertinya Ara datang terlaku pagi, hanya ada dia seorang di ruangan dosen.
Tak mau menunggu sendiri dengan hantu, Ara lantas bergegas ke kantin kampus untuk sarapan terlebih dahulu, karena tadi dia tidak sempat ikut sarapan bersama Sean.
Ara memesan semangkuk bakso dan segelas es teh, dia makan sendiri karena teman teman nya belum datang.
"Sorry, lo Ara kan? teman satu pembimbing Tama? " tiba tiba suara seorang perempuan menghentikan kegiatan makan nya.
Ara menoleh ke sumber suara, dia mengernyitkan dahi, dia sama sekali tidak mengenal perempuan ini dan dua teman di belakang nya.
Sadar dengan ekspresi bingung Ara, perempuan tersebut menjulurkan tangannya guna memperkenalkan diri.
"Kenalin gue Ghea Amanda, ini Lita dan yang ini Dinda" ujar Ghea memperkenalkan dirinya dan teman teman nya.
"Oh iya, gue Ara, Aralecia Triana" ucap Ara balik memperkenalkan diri.
"Kita boleh gabung? " ucap Ghea.
"iya boleh kok duduk aja" ucap Ara mempersilahkan.
"Btw, Lo tau nama gue dari mana? " tanya Ara penasaran.
"Dari Tama, dia cerita kalo dia punya temen bimbingan yang asik, kita penasaran jadi kita nemuin lo mau kenalan juga" jelas Ghea.
"Hahaa Tama berlebihan" ucap Ara terkekeh.
"Kita boleh kan temenan sama lo? " tanya Ghea.
"Ya boleh lah, temenan kan bisa sama siapa aja" ujar Ara.
"Okee sekarang kita temenan" ucap Ghea.
"DEAL! " Ujar mereka bersama-sama.
Ara dan Tama sekarang sedang menunggu di ruang dosen untuk menemui pak Yono.
"Silahkan masuk" ucap Pak Yono.
Pak Yono memeriksa skripsi milik Ara.
"Bagus, cukup bagus. Referensinya banyak, pemilihan katanya juga bagus" ucap Pak Yono manggut manggut.
Ara tersenyum girang mendengar pujian dari Pak Yono.
Iyalah bagus, orang laki gue yang buatin hahaha
"makasih pak" ucap Ara.
"Kamu gak nge joki kan? " ucap Pak Yono curiga
"Ya enggak lah pak, saya udah kerja keras, banting tulang dari siang sampe malem, sampe siang lagi ngerjain ini, masa di bilang nge joki" ucap Ara tidak terima.
"walahh, lebuayyyy kamu" ucap Pak Yono hampir menyemburkan air liurnya.
"Yaudah lanjut bab 4" ucap Pak Yono.
"Beneran ni pak, ga ada revisi?" tanya Ara.
"Ada sedikit, tapi nanti saja. Ini part paling berat, kamu harus sungguh sungguh mengerjakan nya" ucap Pak Yono.
"iya baik pak, saya akan bekerja keras unt.. " ucapan Ara terhenti ketika Pak Yono menginterupsinya.
"STOP!, YA YA saya tau kamu akan bekerja keras, sekarang silahkan kalian keluar dari ruangan saya" ucap Pak Yono.
"ish.. yaudah deh pak kita permisi dulu" pamit Ara dan Tama.
Ara langsung melesat menuju kantin untuk menemui teman teman nya, di sana mereka sudah menunggu Ara.
"Woy Ra, gimana ACC kaga?" tanya Bimo saat Ara baru mendaratkan bokongnya.
"Iya, lanjut bab 4" ucap Ara.
"Widihhhhh"
"Bagi dong laper lagi gue abis ngeliat muka pak Yono" ucap Ara sembari menyendok nasi goreng milik Yuki.
"eh Ra Btw lo udah tau belom kalo bu Monik juga udah resign dari kampus" ucap Tita berbisik.
"engga, gue ga tau. Emang kenapa dia resign ?" tanya Ara penasaran.
"kabar kabar nya sih bu Monik kecewa di tinggal nikah oleh Pak Sean, jadi dia pindah dari sini" ucap Tita.
"Masa sih? " tanya Ara.
"ga tau juga deh, kan katanya doang"
__ADS_1
"Tapi kalian ga cerita ke siapa pun kan soal pernikahan gue? " tanya Ara memastikan.
"enggak lah" ucap mereka.
"Yaudah aman aman aja berarti. Eh ngomong ngomong gue udah beberapa minggu ini ga liat Arsya deh, dia kemana ya" tanya Ara yang baru ingat dengan Arsya.
"Ga tau, kita juga ga pernah ketemu dia lagi semenjak balik dari villa. Di chat ga di bales, di telpon juga ga pernah di angkat" ucap Yuda.
"Gue takut dia gamon deh" ucap Yuki.
"Gamon apaan njir" ucap Bimo
"Gagal Move On, bego banget si lu" ucap Yuki
"Mana gua tau galon, gamon, temon" ucap Bimo ngelantur.
"Ara"
Ara menoleh ke belakang, "eh Ghea, sini ge gabung sama kita" ucap Ara.
"Boleh ngomong bentar ga? " tanya Ghea.
Ara menoleh ke teman teman nya dan beralih ke Ghea, "iya boleh yuk" ucap Ara.
"Kenapa ge? " tanya Ara setelah hanya ada mereka berdua.
"gapapa sih, gue cuma mau ngajak lo jalan ke mall aja nanti sore, itung itung untuk perkenalan, tapi ga enak kalo ngomong di depan temen temen lo" ucap Ghea.
"Oh gitu, yaudah nanti sore ketemuan dimana?" tanya Ara.
"Di taman kampus aja, nanti gue jemput lo, oke? " ujar Ghea.
"okedeh" ucap Ara mengacungkan jempolnya.
Ara kembali ke teman temannya, "siapa Ra?" tanya Tita.
"oh itu temen nya Tama, baru kenalan tadi pagi, ntar sore mau ngajak jalan" jelas Ara.
mereka hanya ber oh ria mendengar penjelasan Ara.
***
Ara sudah menunggu di taman kampus tempat dia dan Ghea janjian.
"eh gue belum izin sama mas Sean" ucap Ara yang baru ingat kalau dia harus izin jika ingin pergi kemana mana.
"Halo" ucap Sean di sebrang sana.
"Hallo mas"
"iya kenapa Ra? " tanya Sean.
"Mas saya mau jalan ke mall sore ini sama anak anak boleh kan? " tanya Ara.
"ini udah sore kamu baru izin sekarang? " ucap Sean.
"iya maaf mas, tadi saya lupa ngabarin" ucap Ara.
"Yasudah, tapi jangan pulang terlalu malam, jam 8 udah di rumah" ucap Sean.
"Iya mas, nanti ga lama kok. ya udah saya tutup ya mas, dah mas" ucap Ara
"Waalaikumsalam" ucap Sean.
"eh hehe, assalamu'alaikum" ralat Ara.
Tin. tin..
Ara mematikan sambungan telpon nya, dan beranjak menghampiri mobil Ghea.
"Ra sorry ya nunggu lama, tadi parkiran macet banget" ucap Ghea ketika Ara sudah duduk di mobilnya.
"Gapapa kok santai" ucap Ara.
"eh iya Tama juga ikut loh" ujar Lita.
"ohiya? dia dimana?" tanya Ara.
"Nanti nyusul" ucap Dinda.
Mereka berepat menuju ke Mall terbesar di Jakarta.
"eh itu Tama" ucap Lita setelah sampai di depan Mall tersebut.
"Tama" panggil Dinda sembari melambaikan tangannya.
"ehh kalian udah lama? " tanya Tama.
__ADS_1
"engga kok, baru sampe juga" ucap Dinda.
"eh Ra, jadi ikut juga lo? " tanya Tama.
"iyaa Tam" jawab Ara.
Mereka berlima berjalan menelusuri mall besar itu, memasuki outlet demi outlet entah apa yang mereka cari.
"ehh foto box yuk" usul Dinda.
"Yukkkk" setuju Lita.
"eh Ra di tengah aja, Tam sini deket sini" atur Ghea.
Merekapun berfoto foto dan bercanda tawa di sana layaknya pertemanan yang memang sudah lama terjalin.
Lama mereka berjalan dan makan di sana tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Damn! Ara lupa waktu.
"eh guys, gue harus pulang" ucap Ara.
"loh belom juga malem Ra" ucap Ghea.
"iya eh maksud ku ini udah malem, gue harus pulang" ucap Ara.
"Kenapa lo takut di cari cowok lo ya?" tanya Lita.
"Hah? cowok? eh enggak enggak gue ga punya cowok" ucap Ara.
"Yaudah berarti bentar lagi aja, kita beli eskrim dulu baru pulang, oke?" ucap Ghea.
"Yaudah deh" ucap Ara pasrah.
Tepat pukul 10 malam Ara sampai di Apartemen, dia takut takut untuk masuk ke dalam, dia sudah berjanji kepada suamiya untuk pulang pukul 8, tapi ini sudah lewat 2 jam dari perjanjian.
Ara masuk mengendap endap ke dalam Apartemen, ruangan sudah gelap semua, tanda nya Sean sudah tidur pikirnya.
Klik.
Mampus gue!
Seketika lampu di ruangan TV menyala, Sean keluar dari persembunyian nya.
Sean berdiri tegap, sembari menyilangkan tangan nya di dada, dan tak lupa wajah datar yang selalu nangkring di mukanya.
"Jam kamu rusak?" tanya Sean.
Ara menggeleng.
"HP kamu ilang? " tanya Sean lagi.
Ara menggeleng.
"Jadi ga susahkan nyempetin waktu buat ngabarin? " ucap Sean datar.
"di telpon juga ga aktif" sambung Sean.
"Maaf mas tadi Hp saya abis batre" ucap Ara jujur, karena sejak jam 7 tadi Ponselnya habis batre.
"Kamu sudah janji akan pulang jam 8, sekarang liat jam udah jam berapa? " ucap Sean.
Ara menoleh ke arah jam dinding yang sedang menggantung menyaksikan dirinya sedang di sidang oleh suaminya.
"ja-jam 10 mas" ucap Ara.
Sean menatap Ara datar.
"Maaf mas, tadi saya lupa waktu, maafin Ara mas" ucap Ara.
"kamu tau? betapa khawatir nya saya ketika hari sudah larut, kamu belum juga pulang dan sama sekali tidak bisa di hubungi. Jika tadi 5 menit lagi kamu belum pulang, saya sudah mau lapor polisi" ujar Sean.
"Maafin Ara mas, maaf udah buat mas khawatir, Ara ga bermaksud sengaja untuk pulang larut, tapi Ara bener bener lupa waktu mas" ucap Ara dengan air mata yang sebentar lagi menetes.
Sean menghela nafasnya, dia tidak mau melihat istirnya mengeluarkan air mata karna dirinya.
Sean meraih tangan Ara dan memeluknya.
"Yasudah, lain kali jangan di ulangi, saya ga mau kamu kenapa kenapa" ucap Sean.
Ara mengangguk dalam pelukan suaminya.
"Maaf ya mas" ucap Ara lagi.
"iya sayang, udah sekarang kamu mandi terus istirahat" ucap Sean.
***
__ADS_1