OHHH MY LECTURE

OHHH MY LECTURE
Bab 40


__ADS_3

"Kamu hari ini ga ke kampus? " tanya Sean saat sedang bersiap pergi ke kantor.


"engga mas, saya di rumah aja mau ngetik bab 3, soalnya besok udah harus di kumpulin" ucap Ara sembari menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Yasudah, kamu semangat ya. Nanti kalo pekerjaan saya cepet selesai, mas akan cepet pulang dan nolongin kamu buat bab 3 ya" ujar Sean.


Ara tersenyum, "iya mas makasih ya" ucap Ara.


"iya sayang" ucap Sean mengelus puncak kepala Ara.


"Makan dulu mas" ujar Ara menyodorkan sepiring nasi goreng buatannya. .


Setelah sarapan Sean lantas beranjak pergi berangkat ke kantor, jadwal nya yang begitu padat mengharuskan dia pergi pagi dan pulang kadang sampai larut malam.


Sejak pagi hingga siang hari Ara hanya menghabiskan waktu untuk mengerjakan skripsinya yang sudah setengah jalan itu.


"huftt... pegel bangettt pinggang gueee" ujar Ara sembari menggerakkan tubuhnya lantaran pegal.


"Duh laper, makan apa ya" ucap Ara sembari membuka kulkas


"udah jam 2 lagi, gue cari makan ke luar aja deh"


Ara merasakan perutnya bergemuruh karna lapar, siang itu juga dia bergegas pergi ke cafe yang ada di depan apartemen. Dia lebih memilih untuk makan siang di sana, karna kalaupun mau masak dia sudah terlanjur lelah karna seharian hanya duduk mengerjakan skripsi.


Ara memasuki cafe yang tidak terlalu ramai, karena jam makan siang sudah lewat jadi otomatis orang yang makan siang di sana sudah kembali ke kantornya masing masing.


"Permisi kak, mau pesan apa? " ucap waiters yang datang membawa buku menu ke meja Ara.


"Mbak saya pesen udang asam manis satu, capcay satu, onion ring satu dan es teh manis nya satu ya" ucap Ara menyebutkan pesanan nya.


"Baik kak, di tunggu ya pesanan nya" ucap waiters yang bertugas hari itu.


"Ternyata lo makan nya banyak juga ya" tiba tiba suara itu muncul dari belakang Ara.


Ara menoleh untuk memastikan suara siapa yang barusan dia dengar.


"Tama, lo ngapain disini? " tanya Ara pada Tama yang sedang duduk di belakang kursinya.


"ini kan tempat umum, jadi siapapun bebas dong dateng ke sini" ucap Tama.


"iya juga sih" ujar Ara.


"Lo makan sendiri? " tanya Tama.


"iya gue sendiri" jawab Ara.


"Kalo gitu gue bisa join dong" ucap Tama.

__ADS_1


"emm.. boleh deh, ga enak juga makan sendiri" ujar Ara menyetujui.


"Nah gitu dong, Btw bab 3 lo udah kelar? " tanya Tama.


"Belom, baru setengah, ini gue lagi break makan siang. Lo udah udah kelar ya? " tanya Ara balik.


"Udah, semalem gue kelarin" ucap Tama.


"Wah gercep juga lo" ucap Ara.


Pesanan mereka akhirnya datang, Ara segera menyantap makanan yang dia pesan.


Mereka makan sembari larut mengobrol masalah per skripsian, hingga tiba tiba satu suara menginterupsi pembicaraan mereka.


"Ara, ngapain kamu di sini? " Ucap Sean yang tiba tiba datang dan menghampiri meja Ara dan Tama.


Ara menoleh ke sumber suara, dia terkejut melihat Sean yang sudah berdiri dengan muka datar nya.


"Ehh mas, kamu kok ada di sini, bukan nya lagi di kantor" ucap Ara yng malah balik bertanya.


"Loh pak Sean, bapak apa kabar? udah lama ga liat bapak setelah bapak resign dari kampus" ucap Tama menyapa Sean.


Tama memang cukup mengenal Sean, karena Sean juga pernah mengajar di kelas Tama.


Tama adalah seorang mahasiswa yang cukup di kenal di kalangan dosen, karena segudang prestasinya yang tidak dapat di ragukan, dia juga cukup aktif dalam berorganisasi tanpa mengganggu nilai akademik nya.


"Bapak abang nya Ara ya? " tanya Tama lagi karena dia mendengar tadi Ara memanggil Sean dengan sebutan mas.


"saya su.... " ucapan Sean terhenti


"iyahhhh betull Tam, Mas Sean ini adalah abang sepupu gue" ucap Ara yang memotong ucapan Sean.


"Ohh gitu, duduk pak kita makan bareng" ucap Tama ramah.


"Tidak perlu, terimakasih. Ara ayo pulang! " ucap Sean datar.


"Ta-tapi saya belum selesai makan mas" ucap Ara.


Sean langsung menarik tangan Ara menuju apartemen mereka. Sedangkan Tama hanya bengong melihat tingkah Sean.


"mas jangan di seret seret dong, tangan saya sakit" ucap Ara kesakitan.


"mas ngapain sihh, sakit tau" ucap Ara protes saat mereka sudah di apartemen.


"Sekarang jawab, kenapa makan berdua dengan dia" tanya Sean.


"enggak mas, tadi saya makan sendiri" ucap Ara.

__ADS_1


"kamu kira dia hantu, sampe - sampe saya ga bisa liat dia" ucap Sean.


"ih bukan gitu maksudnya" ucap Ara.


"terus? " ujar Sean.


"Tadi tuh saya laper, mau makan tapi males masak, jadi yaudah saya ke cafe depan buat makan, eh tau taunya Tama juga lagi makan di sana, jadi yaudah kita makan bareng deh" ujar Ara menjelaskan yang sejujurnya.


Sean diam mencerna penjelasan Ara, mungkin yang di katakan Ara ada benar nya, dia tidak berbohong. Tapi Sean begitu marah melihat Ara bersama laki-laki lain, dia tidak ingin miliknya di ganggu gugat.


"Beneran mas, saya ga bohong" ucap Ara lagi, karena Sean masih diam di tempatnya tak bergeming.


"saya ga mungkin mengkhianati mas, muka nya aja serem gitu" ucap Ara bercanda.


"Lain kali kalau mau kemana-mana bilang sama saya" ucap Sean mengingatkan.


Huft.. inilah yang Ara takutkan dari sebuah pernikahan. Dimana dia tidak bisa bergerak bebas, kemana-mana harus laporan, dengan teman laki-laki harus berjarak. Padahal tadi dia hanya makan siang bukan berpacaran.


Ara akui memang dia sudah mulai sayang bahkan mungkin jatuh cinta pada Suaminya, tapi ego nya sangat tinggi untuk mengakui itu semua dan alih alih malah merahasiakan tentang hubungan mereka dari muka umum.


gue bukan nya mau nyeleweng, tapi gue cuma ga mau di kekang.


"Hei kamu dengar saya kan" ucap Sean membuyarkan lamunan Ara.


"eh i-iya mas, saya denger kok" ucap Ara.


"Dan lagi, tadi ngapain kamu ngakui saya sebagai abang sepupu kamu" tanya Sean sewot.


"mass, kan mas tau sendiri saya belum siap buat go publik" ucap Ara lemah.


Sean menghela nafasnya, apa boleh buat.


"Yasudah" ucap Sean.


"Ngomong ngomong mas kok bisa ada di sana juga? " tanya Ara


"Iya tadi ada meeting di luar dengan klien, saya ajak aja ke cafe depan sini, biar kalo udah selesai saya bisa langsung pulang" jelas Sean.


"ohh gitu, jadi meeting nya udah? " tanya Ara


"udah, kenapa? " tanya Sean.


"mas ga lupa kan dengan janji mas? " tanya Ara.


"iya saya tidak lupa, mana laptop kamu" ucap Sean.


Sean hari itu membatu istrinya mengerjakan skripsinya.

__ADS_1


***


__ADS_2