
Selepas bejalan - jalan dan puas berfoto - foto di Menara Eiffel, mereka berdua pun kembali hotel tempat mereka menginap.
Ara segera membersihkan makeup yang melekat di wajahnya sedangkan Sean sibuk membersihkan dirinya di kamar mandi.
Setelah Sean selesai membersihkan diri, gantian Ara yang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
30 menit Ara bergelut dengan kegiatannya di kamar mandi dan akhirnya dia keluar, di lihatnya Sean sedang duduk di kasur sembari memainkan ponselnya, selesai mengeringkan rambut Ara pun menaiki kasur dan berbaring di samping Sean.
Ara menatap Sean yang sedang sibuk dengan ponselnya itu.
"Apa gue benar - benar beruntung bisa menikah dengan Pak Sean? kenapa hati gue perlahan - lahan seakan mengkhianati gue. Tapi apapun yang di lakukan pak Sean untuk gue, gue merasa sangat senang. Apa iya gue udah jatuh cinta sama Dosen galak ini, apa secepat ini rasa cinta gue tumbuh buat dia" ucap Ara dalam hati.
Sean yang merasa dirinya di tatap kini mengalihkan pandangannya ke Ara. Tanpa di duga Sean meletakkan ponselnya lalu dia berbalik badan dan seketika menindih tubuh mungil Ara.
Ara terkejut menerima gerakan refleks Sean, "mas nga.. ngapain?" ucap Ara terbata - bata.
"kamu kenapa mandangin saya terus?" tanya Sean sembari mengelus rambut panjang Ara.
"eng.. enggak kok sa.. saya cuma emmpppp emmppttt" Ara membulatkan matanya ketika Sean menarik tengkuk lehernya dan mendaratkan bibirnya ke bibir Ara.
Lama bibir Sean menempel lama - kelamaan berubah menjadi gerakan *******, Ara bingung harus berbuat apa, karena ini adalah pengalaman pertama baginya. Ara memilih untuk memejamkan mata.
Sean mulai memberikan gigitan kecil di bibir Ara hingga membuatnya terbuka, dengan itu Sean dengan cepat memasukkan lidah nya dan bermain - main dengan leluasa di sana.
Kemudian Sean turun ke leher Ara dan memberikan gigitan di sekitarnya yang membuat Ara mulai mengeluarkan ******* - ******* kecil.
Mendengar itu Sean mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang di kenakan Ara, dan malam itu menjadi malam yang tidak akan pernah di lupakan oleh Ara, malam dimana dia menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri seutuhnya.
***
Keesokan harinya Ara bangun dan termenung di sisi ranjangnya, "Apa bener yang udah gue lakuin semalem? apa secepat itu gue nyerahin milik gue untuk pak Sean? bahkan gue ga tau dia Cinta apa enggak dengan gue" ucap Ara pada dirinya sendiri dalam hati.
Tak mau pusing memikirkan itu semua, Ara beranjak berdiri hendak menuju kamar mandi, "Awww.." Ara meringis memegang area sensitif nya karena terasa sangat nyeri.
"Kamu kenapa?" tanya Sean yang terbangun mendengar ringisan Ara.
Ara malu di tanyai seperti itu oleh Sean "eh.. enggak kok mas, cuma masih agak nyeri aja" jawab Ara menunduk malu.
__ADS_1
Sean bangun dan memakai besarnya lalu beranjak hendak menggendong Ara ke kamar mandi.
"Eitsss... mau ngapain mas? tanya Ara curiga
"Katanya ga bisa jalan karna nyeri, ayo saya gendong"
"Ara bisa sendiri mas" tolak Ara
Sean diam memperhatikan pergerakan Ara, "Awww... ishh" Ara kembali meringis saat mencoba berdiri.
"Makanya sok - sok an gak mau di tolong" ucap Sean sembari menggendong Ara ke kamar mandi.
"Mandi bareng ya" ucap Sean
"ish... ga mau lah mas, maluuu" tolak Ara
"Malu kenapa? saya sudah lihat semuanya" ucap Sean dengan senyum jail nya.
Pipi Ara kembali bersemu merah mendengar perkataan Sean. Mereka pagi itu mandi bersama berdua, dan lagi - lagi sean meminta jatah untuk pagi itu.
Dan hari itu mereka isi dengan berjalan - jalan di Kota Paris, berbelanja pakaian dan kebutuhan Ara, membeli oleh - oleh, dan mengunjungi tempat - tempat romantis di sana. Sean benar - benar memperlakukan Ara dengan baik, Ara sangat bahagia atas perlakuan Sean.
Sudah satu minggu Ara dan Sean di Paris. Hari ini mereka baru sampai di Apartemen mereka.
"huft... gerah bodyyy"
"Mandi sana, terus istirahat besok sudah masuk kuliah" ucap Sean
"Siap boss" Ara melenggang pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
"Ra lo janji an ya sama pak Sean" Tita datang membawa semangkuk mie ayam di tangannya menghampiri Ara dan teman - temannya.
"Janjian apaan?" jawab Ara
"kemarin waktu lo cuti seminggu, pak Sean juga ngambil cuti seminggu, jangan - jangan kalian janjian.
__ADS_1
Ara bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan Tita. Pasal nya memang benar, ketika Ara cuti, Sean juga langsung mengajukan cuti, hal tersebut pasti mengundang curiga, apalagi Ara sebagai Asisten Sean.
"eh, eng... enggak kok siapa bilang, orang Gue Ke paris, lu ga liat instastory gue? kan waktu itu jg gue udah bilang ga jadi ke luar kota, tapi ke luar negeri sama keluarga gue" ucap Ara mengelak.
"Iyaaa sih, tapi kan kita ga tau lu pergi sama siapa aja, siapa tau ada pak Sean nya juga" ucap Tita.
"ngaco lu, ya enggak lah. Ngapain juga gue pergi sama dosen galak begitu, eh btw kita belom pada pesen makan nih" ucap Ara mengalihkan pembicaraan.
"iya nih laper, kuy kita pesen mie ayam aja sama kaya Tita, tenang Bimo yang traktir" usul Yuda.
"Eh woy apa - apaan, enak di lu, eneg di gue dong" tolak BImo.
"Yaelahh bim, mie ayam doang, paling berapa sih" Ucap Yuki.
"iya nih pelit banget, biasanya juga kita yang traktir, kalo lu lagi ga ada duit" ucap Yuki.
"iya kalo satu emang gak seberapa, tapi lu pada kan berlima, tekor dong gue. Lagian lu cuma mesenin gue es teh doang ki" ucap Bimo.
"elahh pelit amat si lu, udah pesen aje daahh, urusan duit itu biarin Bimo" ucap Arsya enteng.
"Woy kampret lu pada, bayar sendiri - sendirilah" teriak Bimo ketika teman - teman nya berlari menuju gerobak mie ayam.
"Bang mie ayam lima" ucap Yuda memesan untuk teman - temannya.
"saya ga pake sayur bang" ucap Ara.
"saya ga pake kecap" sambung Arsya.
"saya ga pake ayam" ucap Yuki
Seketika mereka semua menoleh pada Yuki, "Begimane ceritanye mie ayam kaga pake ayam?" ucap Yuda merasa aneh dengan selera temannya itu.
"Suka - suka gue lah kan gue yang makan, kenapa lu yang ribet" ucap Yuki.
"aneh - aneh aja neng mie ayam ga pake ayam" ucap mamang mie ayam.
***
__ADS_1