
Liburan semester pun telah usai, kini Ara dan Sean pun sudah kembali lagi ke apartemen mereka.
Hubungan mereka pun semakin lama semakin lengket, tidak seperti awal awal mereka menikah yang masih agak canggung.
kini Ara sudah mulai bisa memposisikan dirinya sebagai seorang istri.
Bulan bulan berikutnya Ara yang sudah mulai di sibukkan dengan urusan per skripsian nya kini semakin sering pergi ke kampus.
Sedangkan Sean sudah Resign dari kampus dan bekerja di perusaan Alex papa nya sehingga waktu mereka bertemu hanya sebatas di rumah saja.
Sean kini lebih sering menghabiskan waktunya di kantor, di karenakan pekerjaan yang terbengkalai sejak papa nya sering sakit sakitan.
Ara yang biasanya ke kampus di antar oleh Sean, kini dia naik angkutan umum ataupun ojek online.
"Ra gue liat liat lo makin lengket aja sama si kulkas" ujar Bimo
Ara mengerut kan dahi bingung "kulkas? " tanya Ara.
"Pak Sean laki lo" jelas Bimo.
"Ya jelas lah, orang lakinya" jawab Yuki.
"Tapi sepi tau ga ada pak Sean lagi di kampus" ucap Yuki lagi.
"Sepi ngapa?" tanya Bimo
"Ya sepilah, ga ada lagi cogan yang bisa di pandangin" ucap Yuki murung.
"Istigfar lo, laki orang itu" ucap Yuda menimpali.
Ara hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Tapi Ra ngomong ngomong siapa aja sih yang tau lo udah nikah sama pak Sean? " tanya Tita.
"Baru kalian doang sih" jawab Ara jujur.
"Lo ga ada niatan mau go publik Ra? " Tanya Yuki
"Go publik, lo kira dia artis" timpal Bimo.
"Gue belum siap Ki, gue masih mau di anggep sebagai mahasiswa biasa, masih mau bebas" jelas Ara.
"Saran aja ni Ra, jangan terlalu nyaman sama keinginan sepihak lo, ntar ada pihak yang tersakiti" ucap Yuda memperingati.
Ara mengerutkan dahi, dia tidak mengerti maksud dari perkataan Yuda.
"Maksudnya? " tanya Ara.
Yuda memposisikan tubuhnya berhadapan dengan Ara.
"Jadi gini, saat ini lo belum siap mempublikasikan diri lo sebagai seorang istri dari pak Sean, yang dimana orang orang sekarang masih pada nganggep lo jomblo. Otomatis kalau mereka tertarik sama lo, pasti mereka ga akan ragu buat deketin lo atau bahkan nembak lo seperti Arsya tempo hari, secara mereka ngira lo belom nikah.
Sedangkan pak Sean, orang orang tau nya dia udah nikah, jadi hati lo aman dari cewek cewek yang bakal deketin dia.
Nah pak Sean? lo pernah mikirin perasaan dia ga si Ra? Saat lo di anter pulang oleh Arsya, saat lo di ajak makan bareng oleh cowok di kantin yang selain kita. Gue sebagai cowok pasti sakit banget ngeliat cewek gue jalan sama cowok lain, ataupun sekedar makan bareng, apalagi istri Ra" jelas Yuda panjang lebar.
Ara diam tak menjawab perkataan Yuda, dia masih kekeuh dengan keputusan nya untuk tidak mempublikasikan pernikahan nya dengan Sean.
Anggaplah Ara egois, hanya memikirkan perasaan nya sendiri tanpa memikirkan perasaan suaminya, tapi apakah dia salah? dia masih ingin bebas, lagipula pernikahan ini bukan kehendak dia, tapi hanya perjodohan yang di lakukan oleh Papa nya.
"Gue sebagai sahabat lo, cuma bisa ngasih nasehat Ra, Lo yang menjalani kehidupan pernikahan itu jadi pikirin baik baik sebelum mengambil tindakan, jangan sampai satu hal kecil bisa merusak kepercayaan orang lain" ucap Yuda sembari menepuk bahu Ara.
__ADS_1
Ara tersenyum "iya Yud, thanks ya udah nasehatin gue" ucap Ara yang di balas anggukan oleh Yuda.
"Raa" suara itu tiba tiba menginterupsi pembicaraan mereka.
Ara menoleh ke arah sumber suara, "eh Tama, bentar" ucap Ara pada laki - laki bernama PRATAMA PUTRA.
Tama adalah teman satu pembimbing dengan Ara saat ini, mereka mendapatkan pembimbing yang sama, yaitu pak Yono.
Mereka sering pergi bimbingan bersama di karenakan pak Yono menetapkan bahwa jadwal bimbingan di lakukan secara bersamaan, agar dapat menghemat waktu ujar nya.
"Gaes duluan ya, mau bimbingan gue" pamit Ara pada sahabatnya yang di angguki oleh mereka semua.
"Yuk Tam" ajak Ara.
"Yuk" jawab Tama.
Ara dan Tama berlalu pergi meninggalkan mereka semua.
"Nah lo baru aja di kasih wejangan, udah beduaan aja" ucap Bimo.
"Hush! orang mau bimbingan" ucap Yuki.
Yuda hanya melihat kepergian Ara dan Tama dengan helaan nafas pasrah, entah mengapa perasaan nya berbeda melihat kedekatan Ara dan Tama. Namun, dia berharap perasaan nya itu salah.
"kira kira ada ga ya pak Yono nya, males banget gue kalo harus nunggu lagi di ruang dosen" keluh Ara sembari menyusuri koridor kampus.
"Tadi sih gue liat ada, lagi ngobrol sama dosen lain" ucap Tama.
"Bagus deh" ucap Ara lega.
Sesampainya di ruangan dosen, Ara dan Tama sudah menghadap ke pak Yono.
"Ara, untuk referensi kamu ini masih kurang, kamu harus cari literatur yang lebih spesifik lagi dengan judul kamu, kalo kaya gini doang sama aja kaya makalah" ucap Pak Yono.
Buset dah si botak malu malu in gue aja, ini mah mulutnya lebih pedes dari laki gue.
"Iya pak nanti saya perbaiki" ucap Ara.
Pak Yono mengangguk "emm bagus, Sekarang kamu lanjut ke Bab 3, sekalian revisi bab sebelumnya, saya beri kamu waktu 3 hari" ucap Pak Yono.
"Loh masa cuma 3 hari sih pak" protes Ara.
"kenapa memangnya ? kamu mau cepat lulus tidak? " tanya Pak Yono.
" Ya mau lah pak, tapi masa bab 3 cuma di kasih waktu 3 hari" ucap Ara lagi.
"Kamu SD berapa tahun ?" tanya pak Yono
"6 tahun pak" jawab Ara.
"kalo kamu menyelesaikan skripsi kamu ini sampe 6 tahun berarti otak kamu otak anak SD! kerjakan dan kumpulkan pada saya 3 hari kedepan" putus pak Yono.
Sialan! ga ber peri kemahasiswaan banget sih, gue tendang ngondek lu.
"Baik pak" ucap Ara.
Pak Yono beralih ke Tama, "Tama untuk Bab 2 kamu nyaris sempurna, tapi kamu harus cek lagi ada typo atau tidak, jangan sampe malu maluin saya pas sidang" ujar Pak Yono pada Tama.
"Baik pak" ucap Tama.
"Kamu juga lanjut bab 3 dan kumpulkan 3 hari kedepan" ucap Pak Yono.
__ADS_1
Sebenarnya Tama ingin protes dengan keputusan pak Yono, tapi dia tidak mau berakhir seperti Ara yang di maki maki di depan dosen lain, karena ruangan Pak Yono ini tepat di tengah tengah ruangan dosen, dan sekarang dosen sedang berada di meja nya masing masing, jadi Tama memilih untuk menurut daripada di permalukan di depan umum.
"Baik pak, akan saya kumpulkan 3 hari ke depan bersama Ara" ucap Tama.
Ara dan Tama pamit keluar dari ruangan Pak Yono.
"Sialan, enteng banget tu mulut maki maki gue di depan banyak orang" umpat Ara setelah keluar dari ruang Dosen.
"Udah sabarin aja, kan dia emang gitu" ucap Tama menenangkan.
Ara hanya memberengut kesal dengan kejadian di ruang dosen.
"Yuk ke perpustakaan, kita cari referensi sama sama" ajak Tama yang di angguki oleh Ara.
Ara dan Tama di sibukkan dengan mencari literatur literatur untuk skripsi mereka. Sebenarnya Ara sudah di peringatkan sebelumnya oleh Sean bahwa skripsinya itu masih kurang referensi, tapi Ara lebih memilih tidak peduli dan tidak mendengarkan perkataan Suaminya itu.
ting.. Ponsel di Saku Ara berbunyi pertanda ada chat masuk.
Mas Sean : Kamu lagi apa? sudah makan? gimana bimbingan nya?
Chat dari Sean mengalihkan perhatian Ara dari buku buku yang ada di hadapan nya.
Nanyanya satu satu dong, mau bales yang mana dulu ni.
Ara : lagi cari referensi di perpustakaan mas, Pak Yono nyuruh lanjut bab 3 tapi di kasih waktu cuma 3 hari, jadi kaya nya hari ini saya pulang sore.
Mas Sean : Nanti pulang saya jemput.
Ara : Ga usah mas, saya pulang sendiri aja.
Mas Sean : Ya sudah, kabari saya kalo udah pulang dan jangan lupa makan.
read.
Ara hanya membaca chat dari Sean, Jangankan makan, mau napas aja males kalo inget kejadian di ruang Dosen.
"Kamu kenapa?" tanya Tama sembari menepuk pundak Ara.
"engga kok, gapapa lagi bad mood aja" ucap Ara.
"Mau makan siang dulu ga? " tawar Tama.
"ga deh nanti aja Tam" tolak Ara.
"Kaya nya di sini kurang lengkap deh Ra buku bukunya, mau nemenin gue ke toko buku ga? " ajak Tama.
"ehh, ke toko buku? " tanya Ara memastikan.
"iya, kamu mau kan? " tanya Tama lagi.
"Ngapain? " tanya Ara.
"Gue mau cari referensi lain, siapa tau ada. Biar cepet selesai Ra, waktu kita cuma 3 hari" ujar Tama.
Ara berpikir sejenak, kira kira gapapa ga ya kalo gue pergi sama Tama, Mas Sean marah ga ya?
Ara bingung dengan ajakan Tama, jika nanti Sean tahu bisa bisa dia ngamuk.
Tapi kan gue pergi sama Tama buat keperluan skripsi, Mas Sean pasti ngerti.
"Yaudah yuk" ajak Ara.
__ADS_1
***