OHHH MY LECTURE

OHHH MY LECTURE
Bab 9


__ADS_3

Pagi harinya Ara terbangun karena dia merasakan hembusan nafas pelan yang menyapu tengkuk nya.


Ara membuka matanya dan melihat ternyata tangan Sean melingkar di perutnya.


Ara beringsut maju dan perlahan - lahan mengangkat tangan Sean untuk menyingkirkan nya dari tubuh Ara, lalu Ara duduk di tepi kasur, "ternyata ini bukan mimpi, gue bener-bener udah nikah , gimana cara nya gue ngejelasin sama temen-temen gue kalo gue udah nikah" pikir Ara frustasi.


"Apes banget gue tiap hari harus ngeliat muka dosen galak ini di rumah, gak di kampus, ga di rumah ngeliat dia mulu" gerutu Ara sembari melihat ke wajah Sean, "Tapi kalo di pikir-pikir omongan Yuki ada bener nya juga, Pak Sean ganteng banget kalo lagi tidur" sambung Ara dalam hati.


"Udah puas ngeliatin saya?" ucap Sean yang tiba-tiba membuka matanya dan beranjak duduk.


"Eh.." Ara tersentak kaget sekaligus malu karena kepergok memandangi wajah suami nya itu, "siapa yang ngeliatin bapak ge'er banget" elak Ara.


Sean beranjak bangun dari tempat tidur, "Terserah kamu, yang penting sekarang kamu beresin baju-baju kamu, hari ini kita pulang ke Apartemen saya" ucap Sean.


"Ke Apartemen bapak ? ngapain?" tanya Ara.


"Kalau boleh saya ingatkan kita ini sudah menikah, jadi sudah seharusnya kamu tinggal dengan saya" ucap Sean.


"Tapi saya ga mau tinggal di Apartemen bapak, kenapa ga bapak aja yang tinggal di rumah saya" tawar Ara.


"ga bisa, itu kesan nya saya ga tanggung jawab banget, ga bisa nyediain tempat tinggal untuk kamu" ucap Sean


"Ya gapapa, kita tinggal di sini aja ya pak" mohon Ara


"Tidak, pokoknya kamu ikut saya pulang ke Apartemen" Putus Sean.


"Ta... tapi pak" sela Ara


"Saya tidak suka di bantah" ucap Sean yang seketika membuat Ara kicep. Jika Sean sudah berkata seperti itu artinya dia benar-benar tidak ingin di bantah.


***


 Siang nya setelah mereka makan bersama, Ara dan Sean pamit kepada kedua orang tua Ara untuk tinggal di Apartemen Sean, "Ma, Pa Sean pamit mau bawa Ara tinggal di Apartemen Sean" pamit Sean.


"iya Sean, papa titip Ara ya, jaga dia seperti papa menjaganya selama ini. Tolong bimbing dan tuntun dia untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Ara ini masih harus banyak belajar, dia anak yang manja dan kadang juga suka membantah, mulai sekarang papa percayakan Ara sama kamu" ucap Bagas.


Sean mengangguk dengan mantap mengiyakan perkataan Bagas "iya pa, Sean akan selalu mejaga dan melindungi Ara dengan sepenuh hati Sean, papa jangan khawatir" ucap Sean meyakinkan Bagas.


Bagas tersenyum seraya menepuk pundak Sean lalu beralih ke Ara "Ara, kamu harus menuruti perkataan suami kamu, ingat kamu sudah menikah sekarang, jangan kaya anak kecil lagi" ucap Bagas menasehati Ara.


"Iya pa" jawab Ara


"Ara sayang, kamu baik-baik ya di sana, kalo ada apa-apa kamu bilang sama mama ya nak" ucap Ayu sembari memeluk dan mengusap pundak Anak kesayangan nya itu.


Ara membalas pelukan mama nya "iya ma, mama juga baik-baik ya di sini, Ara titip abang kelvin ya ma, Ara takut nanti abang nangis karena kesepian di tinggal Ara" ucap Ara cengengasan sambil melihat ke abang nya.


"enak aja lo, gue mah jadi enak gak harus nganterin lo lagi ke kampus" ucap Kelvin.


"jahat banget" ucap Ara sembari mengerucutkan bibirnya.


Kelvin beralih menatap Sean "Gue titip adek gue ya, jangan lo sakitin, gue ga suka ngeliat dia nangis, abis lo kalo sampe nyakitin Ara" ancam Kelvin yang di balas Sean dengan tepukan d pundak pertanda dia tidak akan mengecewakan Kelvin dan keluarga nya.

__ADS_1


***


Di perjalanan menuju Apartemen, Ara dan Sean tidak banyak berinteraksi, mereka tenggelam dalam pikiran masing - masing.


Ara menatap ke arah jendela samping di kirinya, "gue ga tau kehidupan seperti apa yang akan gue jalani setelah gue menikah dengan Pak Sean, apa dia memang benar - benar orang yang tepat, yang di pilihkan papa" pikir Ara.


"apa gue bisa menjalankan peran sebagai seorang istri? gue bahkan belum mencintai pak Sean, gimana bisa gue tinggal serumah dengan orang yang menurut gue masih asing" keluh Ara pada dirinya sendiri dia menatap nanar ke arah jalanan yang padat pengendara itu.


Sean yang melihat Ara termenung lantas menyadarkan Ara dari lamunan nya, "Apa kamu baik - baik saja? apa ada yang membuatmu sedih?" tanya Sean.


"Ara" panggil Sean lembut.


Ara menoleh "saya baik - baik saja pak, saya hanya masih belum terbiasa dengan status baru saya sebagai istri bapak" jelas Ara.


"it's okay tidak masalah, lama kelamaan pasti akan terbiasa" jawab Sean menenangkan Ara.


"kamu tenang saja, saya tidak akan meminta hak saya sebagai suami jika kamu memang belum siap, jangan kamu pikirkan soal itu" ucap Sean yang membuat muka Ara bersemu merah.


Whattt... bisa - bisanya Sean berkata seperti itu, buat Ara malu saja.


Ara hanya diam tak menanggapi ucapan Sean dan kembali menatap jalan yang ada di samping nya.


Setelah menempuh sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai di Apartemen Sean.


Sean turun dari mobil dan mulai mengeluarkan Koper dan barang - barang milik Ara yang lainnya, Ara mengambil satu tas dan membawanya, sisanya Sean yang bawa.


Seperti biasa Ara berjalan mengekor di belakang Sean, namun saat di tengah perjalanan menuju lift Sean berhenti dan menggapai tangan milik Ara.


Pipi Ara memerah mendengar pernyataan Sean, dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senang di hatinya karena Sean benar - benar memperlakukan nya dengan baik.


Mereka berdua memasuki lift, Sean menekan angka 9 dimana lantai Apartemennya berada.


Pintu lift terbuka, mereka berjalan menyusuri lorong di lantai tersebut hingga sampailah kedua nya di depan sebuah pintu yang bertuliskan nomor 135.


Sean memencet password Apartemen miliknya lalu masuk dan tak lupa mengajak Ara.


Ara mengedarkan pandangannya menyusuri segala sudut ruangan itu "huft... mulai sekarang gue tinggal berdua doang sama pak Sean" keluh Ara yang merasa sedih karena meninggalkan rumah orang tua nya.


"Belum juga sejam ninggalin rumah, udah kangen aja sama abang Kelvin" ucap Ara yang memang sangat dekat dengan abang jail nya itu.


Sean menepuk pundak Ara "kamu kenapa dari tadi diem aja, ga suka sama Apartemennya?" tanya Sean yang kebingungan melihat Ara yang sedari tadi hanya diam.


Biasanya Ara itu mulutnya tidak pernah bisa diam dan sering bertingkah absurd, jadi agak aneh melihat Ara yang sekarang lebih sering diam dan melamun.


"Eh..enggak kok pak" jawab Ara.


"Besok sudah mulai kuliah, jadi sekarang kamu istirahat dulu di kamar" perintah Sean.


Ara mengangguk patuh, dia lalu berjalan meninggalkan Sean yang pergerakannya tak luput dari penglihatan Sean.


Belum jauh melangkah, Ara stop dan berbalik menatap ke Arah Sean "Pak kamarnya dimana?" tanya Ara yang tersadar kalau dia belum hapal letak - letak Apartemen Sean.

__ADS_1


Sean menghela nafas "makanya nanya dulu, main nyelonong aja" ucap Sean berjalan menuju kamarnya.


"kan saya udah nanya, sensi banget sih" gerutu Ara.


***


Keesokan harinya Ara terbangun karena mendengar Alarm di ponsel nya yang terus berbunyi memekakkan telinga sejak sejam yang lalu, Ara bangun dan menggapai ponsel nya yang terletak di samping kasur.


Matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang ada di kamar tersebut, "Astaga udah jam 8, mampus gue telat" Ara lantas berlari menuju kamar mandi di kamar itu.


Setelah mandi dan ganti pakaian dia dengan cepat turun dan memesan ojek online.


"Pak Sean jahat banget sih, bisa - bisanya dia ninggalin gue, kan pagi ini mata kuliah dia" gerutu Ara saat sudah naik di motor abang ojol.


Setelah setengah jam lebih Ara menempuh perjalanan dari Apartemen Sean ke kampus akhirnya Ara sampai dan langsung membayar ongkos ojeknya, Ara berlari menuju kelasnya yang berada di lantai 2.


Ara mengetuk pintu "Permisi, maaf pak saya terlambat" ucap Ara.


Semua isi ruangan tersebut menoleh ke arah Ara yang berdiri di dekat pintu.


"Si Ara ya bener - bener deh, dia udah telat sejam loh" ucap Yuki.


"tau tu bocah, dia kemana aja sih seminggu ini ga ada kabar, sekali nya masuk terlambat" ucap Bimo


Ara sudah satu minggu tidak masuk kuliah, karena sibuk mengurus pernikahannya dengan Sean.


Dan selama satu minggu itu juga Ara menutup diri dari teman - temannya, dia tidak saling bertukar kabar dengan ke lima temannya itu.


Sean menoleh ke arah pintu dan menghentikan kegiatan mengajarnya "Sepertinya kamu tidak pernah jera dengan hukuman, sekarang alasan apalagi yang akan kamu berikan" ucap Sean dingin.


"Maaf pak saya kesiangan" jawab Ara.


"Besok - besok coba untuk bangun lebih pagi !" ucap Sean.


"Gue kesiangan gara - gara lo ga bangunin gue" umpat Ara dalam hati.


"maaf pak" Ara menunduk


"Sekarang silahkan tunggu di luar" perintah Sean.


"Ta.. tapi pak saya mau ikut belajar" jawab Ara.


"Silahkan keluar" tunjuk Sean ke Arah luar kelas.


Ara mendapat tatapan miris dari teman - temannya. Mengingat track record keterlambatan Ara di kelas pak Sean sudah sangat menyedihkan, kalau di hitung - hitung sudah 5 kali Ara terlambat di kelas Pak Sean.


"Baik pak" ucap Ara dengan ketus.


"jangan lupa tutup pintunya" perintah Sean yang mendapat bantingan pintu yang tidak terlalu keras dari Ara.


***

__ADS_1


__ADS_2