
Hari - hari berlalu tak terasa hari libur tiba, Ara dan Sean mengisi waktu mereka hanya dengan rebahan di kamar dan menonton TV.
"huft... liburan kenapa masss, suntuk ini udah seminggu goleran doang di kasur" keluh Ara.
"ngapain liburan, ngabisin uang"
"pelit banget sih" gerutu Ara.
"Yaudah kalo ga mau ngajakin liburan, besok Ara ikut yang lain ke puncak aja deh" sambung Ara
" itu juga ga boleh"
"Nyebelin banget sih, ini ga boleh, itu ga boleh, jadi boleh nya apa?"
"Ya di sini aja sama saya"
Ara memutar bola mata nya malas, "Bosen kali mas"
"Oh jadi bosan ngeliat saya? baru berapa bulan aja udah bosan, apa lagi seumur hidup"
"Bukan gitu, maksud saya bosen di sini sini doang, ga ngapa ngapain"
"Ya makanya ngapa - ngapain biar ga bosan"
"Yaaa apaan, mau ngapain lagi coba kalo di Apartemen doang"
"Ya mungkin trying to make a child" ucap Sean sembari mengangkat bahunya.
"Mas ih pikiran nya mesum mulu, heran deh. Udah ah pokoknya Ara mau ikut ke puncak"
"Kalo kamu kekeuh tetap mau ikut ke puncak, saya juga ikut"
"ihhh ngapaiiiin, nanti ketauan"
"Makanya disini aja"
Ara mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Sean, "Mas plis, sekali ini aja izinin saya ikut sama temen - temen ke puncak" ucap Ara dengan puppy eyes nya.
Sean menatap ke Ara dan menghela nafas, "Yasudah kalo kamu memang benar - ingin ikut ke puncak saya izinkan"
"YEAYYYYYY! " teriak Ara senang.
"Tapi! " ucap Sean terjeda.
"Tapi apa? "
"kamu harus menjaga jarak dengan laki - laki"
"Siapp bosssss"
"dan" ucap Sean menggantung lagi.
Ara memutar bola matanya malas " dan Apa lagi?"
"Besok kamu saya antar"
"Eh jangan dong mas, nanti kalo mereka liat mas gimana,? "
"gak akan, saya perlu tau dimana tempat kalian menginap dan memastikan kalau tempat itu aman"
"yaudah deh kalo gitu"
" Tapi mas jangan keluar dari mobil yaa"
"iyaa" ucap Sean.
"yeayy makasih mas udah ngizinin pergi besok" ucap Ara yang langsung refleks mencium pipi Sean.
"eh" Ara langsung menepuk bibirnya sendiri dan merutuki kebodohan dirinya.
Bego banget sih, ngapain pake cium - cium segala, abis ni gue bentar lagi.
Sean menyeringai melihat Ara lalu mendekatkan dirinya, "ma-mas mau ngapain? " ucap Ara terbata - bata.
"Kamu sekarang mulai nakal ya" ucap Sean yang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Ara.
Ara hanya bisa menahan nafasnya ketika Sean mendorong tubuh nya ke ranjang tempat mereka tidur.
Sean mengungkung tubuh Ara di bawah dirinya, lalu Sean mulai mencium bibir Ara dengan lembut.
Lama kelamaan ciuman tersebut berubah menjadi gerakan yang menuntut, menerima perlakuan Sean, Ara membuka mulutnya dan membuat Sean melancarkan aksinya.
Setelah puas bermain - main di bibir Ara, Sean mulai pindah ke area - area sensitif Ara yang sudah menjadi candu baginya.
Ara yang sudah di kuasai oleh nafsu sama seperti Sean mulai membalas semua sentuhan yang di berikan Sean.
Dan malam itu terjadi lagi pergulatan panas antara Sean dan Ara.
__ADS_1
Setelah selesai dengan pertarungan panas yang mereka lakukan, Ara masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ara membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum mereka tidur, tak lama tok.. tok...tok.. pintu kamar mandi di ketuk dari luar.
"iya, kenapa mas? tanya Ara.
" Ra buka pintunya"
"ogah, Ara lagi mandi ini"
"Saya sakit perut" ucap Sean
"Tahan dulu bentar mas, dikit lagi kelar ini"
"ngga tahan, cepet buka"
Ara menghela nafasnya lalu membukakan pintu. Setelah pintu terbuka Sean langsung masuk dan memeluk Ara yang sedang dalam keadaan polos.
"ARHHHHHHH" pekik Ara.
"mas apaan sih"
"kamu lama banget mandi nya"
"ish lepasin mas"
"kita coba di sini"
"dih.. coba apaan?
" yang kaya tadi"
"ihhhhhh gamau! tadi kan udah"
"iya tapi di sini belum" ucap Sean tangannya sembari bergerilya di tubuh Ara.
"ish.. mesum banget sih mas"
"kan sama istri sendiri"
"udah ah mas saya mau mandi"
"kalo kamu ga mau ya ga boleh ke puncak"
"ish bisanya ngancem aja"
Setelah satu jam mereka di dalam kamar mandi, akhirnya mereka selesai dan hendak beranjak tidur.
ting.. ponsel Ara berbunyi pertanda chat masuk
-Pejuang Toga-
Yuki : Gimana besok jadi kan ?
Tita : Jadi lah, ga boleh ga jadi, udah di booking juga villa nya.
Bimo : Ara jadi ikut kaga?
Yuki : iya nih, Ara mana ya atau jangan - jangan udah tidur.
Yuda : inikan udah hampir tengah malem, pasti udah tidur lah.
Ara : Woy gue masih melek.
Yuki : Tumben.
Bimo : Gimana Ra ikut ga?
Ara : gue ikut, tapi gue nyusul
Arsya : loh kok ga bareng aja Ra? biar lo ikut mobil gue aja kalo lo gamau sempit - sempitan.
Ara : Eh bukan gitu sya maksudnya, gue besok di anter sama sepupu gue, soalnya gue lagi nginep di rumah nya.
Arsya : oh yaudah kalo gitu.
Ara : Besok share loc aja ya.
Bimo : wokehhhh.
Ara meletakkan ponselnya lalu segera menyusul Sean yang sudah hanyut dalam mimpinya.
***
Keesokan harinya Ara sudah bersiap dengan ransel yang ada di punggungnya, "mas ayok cepet"
"Sabar"
__ADS_1
"Lama amat kaya kukang"
"apa kamu bilang?" tanya Sean .
"enggak, ga bilang apa - apa" elak Ara.
Mereka memasuki mobil dan melajukan mobilnya menuju villa tempat mereka menginap, Sean rencananya setelah mengantar Ara akan segera pulang.
Ara membuka ponselnya dan menghubungi teman - teman nya.
-Pejuang Toga-
Ara : Share loc dong , gue otw nih.
Tita mengirim lokasi tempat mereka menginap.
Ara : Kalian udah nyampe?
Yuki : iya Ra, baru banget sampe, lo ati - ati jalanan licin, di sini baru beres hujan.
Ara : ngokheyyyyy
Ara mengunci ponselnya dan fokus melihat jalanan sekitar.
"kalau ada apa - apa cepat hubungi saya" ucap Sean
"siap bosss" balas Ara.
"Kamu jangan deket - deket sama siapa itu teman kamu nama nya Rasya, Pasya, Marsya atau siapa lah itu" ucap Sean.
Ara terkekeh mendengar Sean yang tidak tahu nama Arsya, "Arsya mas" ralat Ara.
"iya itu maksudnya"
"memang nya kenapa saya ga boleh deket - deket sama Arsya?" tanya Ara.
"dia suka sama kamu"
"kok mas tahu? " tanya Ara.
"ya tau lah, kelihatan banget dari muka dia"
"emangnya muka dia kenapa mas?" Ara terkekeh.
"Ya cara dia mandang kamu, megang tangan kamu keliatan banget kalo dia suka sama kamu" ucap Sean.
"Terus kenapa kalo dia suka sama Ara?"
Sean memalingkan wajahnya "saya putar balik lagi deh, kamu nyebelin banget" rajuk Sean.
"eh iya iya iya mas ih rajukan banget. Mas tenang aja saya akan jaga jarak sama Arsya, saya juga tau diri mas kalo udah nikah"
Ucap Ara.
"Bagus deh" ucap Sean lega.
Lama mereka di jalan hingga sampailah di sebuah villa besar, yang sudah mereka sewa sebelumnya.
Halaman villa tersebut sangat luas, banyak pohon - pohon rindang yang menjulang tinggi di sana, bunga - bunga bermekaran di sepanjang pekarangan villa itu.
Di halaman samping villa terlihat sebuah labirin besar yang terbentang di sana.
"GILA! mereka niat banget nyewa villa segede gini. Kampret! pasti patungan nya mahal banget" gerutu Ara.
"eh mas liat deh di sana ada labirin, pasti seru banget masuk ke sana" ucap Ara antusias.
"Kamu ga boleh ke sana" ucap Sean.
"loh kenapa mas? "
"ga usah nanti kamu hilang"
Ara cemberut mendengar perkataan Sean, "yaudah deh Ara masuk dulu, mas langsung pulang kan? " tanya Ara.
"emm" balas Sean hanya dengan gumaman.
Ara pamit dengan Sean, mencium punggung tangan Sean dan segera membuka pintu mobil.
"tunggu" ucap Sean.
"kenapa mas?" tanya Ara bingung.
"kamu hati - hati, terus kabari saya apapun yang terjadi" ucap Sean sembari mencium kening Ara.
Ara tersenyum dan mengangguk pertanda mengiyakan perkataan Sean lalu keluar dari mobil dan memasuki villa tersebut.
Setelah Ara sudah tidak terlihat lagi di mata Sean, dia segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
***