
Sean mengepalkan tangan nya kuat, bisa bisanya Ara mengucapkan kata cerai dari mulutnya. Selama ini dia hanya diam dengan semua kelakuan Ara, bukan nya Sean tidak bersikap tegas, hanya saja dia tidak ingin Ara merasa dirinya di kekang oleh Sean.
"ikut saya! " ucap Sean sembari menarik tangan Ara keluar dari apartemen.
"Mau kemana mas" ucap Ara sembari tangannya di seret seret.
Sean hanya diam tak menjawab, dia hanya terus menarik tangan Ara dan memasuki mobil.
"Mas kita mau kemana sih, kamu mau aduin ke orang tua saya? " tanya Ara yang sudah mulai gelisah.
Ara tidak mau kedua orang tua nya tahu tentang kelakuan Ara malam ini, dia tidak mau membuat mereka kecewa.
"Mas Ara mohon jangan ke rumah Papa, Ara takut nanti papa marah" ucap Ara yang air matanya telah turun berderai.
"Masss" panggil Ara lagi karena Sean tan kunjung menjawab perkataan Ara.
Sean mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang terbilang cukup cepat, dia menginjak gas dengan emosi yang sudah di ubun ubun.
Dia sangat kecewa atas tindakan dan perkataan Ara malam ini, dia tidak menyangka jika kata cerai bisa keluar dari mulut manis istrinya itu.
15 menit berlalu Sean memarkirkan mobilnya di pelataran rumah sakit yang cukup terkenal di Jakarta. Sean keluar dan menarik tangan Ara agar segera mengikutinya.
"mas kita mau ngapain ke rumah sakit" tanya Ara.
Setelah sampai ke meja resepsionis.
"Mbak, tolong panggilkan dokter Obgyn yang bertugas malam ini.
"Baik pak, boleh jelaskan terlebih dahulu keluhan nya? " ucap Suster yang berjaga.
"Saya mau periksa kandungan istri saya" ucap Sean.
Mata Ara seketika membulat tak percaya, bisa bisa nya Sean membawanya ke dokter kandungan.
"Ma-mas mau ngapain? kan saya lagi ga hamil. Saya juga ga pernah macem macem selain sama mas" ucap Ara gelagapan.
Sean hanya menatap sekilas kepada Ara, hatinya sangat hancur ketika Ara meminta cerai pada dirinya.
"Permisi pak, silahkan sudah di tunggu oleh dokter Andre di dalam" ucap Suster tersebut.
Sean mengetuk pintu dan segera masuk bersama Ara.
"Permisi" ucap Sean.
"Silakan masuk pa... " dokter Andre menjeda perkataan nya.
"Sean? " ujar Dokter Andre seraya menunjuk Sean.
"Apa kabar? " tanya Dokter Andre.
__ADS_1
"Baik" ucap Sean yang masih dengan muka datarnya.
"Okey, sepertinya kamu sedang tidak baik baik saja. So, apa yang bisa ku bantu? ada keluhan apa? dan ini? " tanya Dokter Andre sambil menunjuk Ara di sisi Sean.
"Saya mau kamu periksa kandungan istri saya, apakah ada masalah atau apa di sana, kenapa dia tidak hamil hamil. " ujar Sean.
"Istri? ah, baiklah. Silahkan nyonya berbaring di sana" tunjuk Dokter Andre.
Ara dengan ragu berjalan medekat ke tempat tidur di ruangan Dokter Andre. Dia takut semuanya akan terbongkar.
Setelah semua pemeriksaan selesai di lakukan, Ara duduk kembali di samping Sean.
"Bagaimana? " tanya Sean
"Semuanya sehat dan baik baik saja, tidak ada semacam flek atau gangguan lainnya yang menghalangi kehamilannya" jelas Dokter Andre.
"Lalu kenapa istri ku belum hamil juga? " tanya Sean dengan wajah yang bingung.
"Ada beberapa faktor yang menyebabkan terlambatnya kehamilan, Apakah istri mu menggunakan KB? semacam suntik atau mengkonsumsi pil KB?" tanya Dokter Andre.
Sean langsung menatap tajam ke arah Ara, "Apa kau menggunakan KB? " tanya Sean dengan nada yang menusuk.
"Sa-saya..." ucap Ara terbata bata karena dia bingung harus mengatakan yang sejujurnya atau berbohong.
Sean mencengkram bahu Ara "Jawab saya dengan jujur! " ucap Sean kembali.
"Saya menggunakan suntik KB" ucap Ara seraya menundukkan kepala nya.
Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit, Sean langsung membawa Ara pulang ke apartemen mereka.
"Sekarang, apa alasan nya?" tanya Sean datar.
"Apa alasan kamu melakukan itu?"
"Dan sejak kapan? " ucap Sean lagi.
Ara hanya diam tak menjawab, dia kali ini benar benar takut dengan kemarahan suaminya. Biasanya Sean akan sangat mudah sekali memaafkan nya, tapi untuk kesalahan sebesar ini, Ara rasa dirinya tidak akan keluar dengan mudah dalam masalah ini.
Hawa di ruangan itu sangat pengap dan mencekam, aura kemarahan Sean dapat Ara rasakan di sekujur tubuhnya.
"JAWAB! " ucap Sean dengan keras, karna dirinya sudah sangat kehilangan akal dalam menghadapi kelakuan istrinya.
"Se-sebelum kita ke Pa-paris mas" jawab Ara jujur.
Sean mengepalkan tangan nya, bisa bisa nya Ara Suntik KB sesaat sebelum keberangkatan mereka ke Paris.
"Kenapa?! " ucap Sean.
"Apa kamu berfikir pernikahan ini akan berjalan hanya sebulan dua bulan saja?"
__ADS_1
"Apa kamu menganggap pernikahan ini hanya bercandaan?" ucap Sean datar.
"Saya sudah benar benar jatuh dalam pesona kamu, saya benar benar sayang dan cinta dengan mu. Tapi apakah cinta ku hanya bertepuk sebelah tangan? " ujar Sean lagi.
"Apakah tidak cukup bagi mu semua yang sudah ku lakukan selama ini?"
Air mata Ara turun dengan deras nya, dia tak kuasa membendung lautan air mata yang sudah terbendung di kelopak matanya.
"Saya kecewa dengan kamu Ara" ucap Sean.
"Mungkin yang jatuh cinta disini hanya saya"
"Jika kamu merasa tidak bahagia hidup disini bersama saya, baik, saya akan kabulkan keinginan kamu tadi, kamu minta ce... " ucapan Sean terhenti ketika Ara tiba tiba memeluk dirinya.
"enggak enggak enggak, engga mas. Ara ga mau pisah dari mas. Maafin Ara mas, tadi Ara emosi dan ga sengaja ngomong gitu." ucap Ara seraya menangis sesenggukan.
"Ara juga sayang sama Mas, Ara juga cinta Mas Sean. Ara cuma mau merasa bebas mas, Ara mau kaya teman teman Ara yang lain, yang masih bisa jalan ke sana kemari tanpa harus di batasi jam nya dan orang orang nya." jelas Ara lagi.
"Dan untuk suntik KB, saat itu kita baru menikah beberapa minggu, dan saya belum sepenuhnya dapat menerima perjodohan kita mas, pikiran saya terlalu pendek saat itu."
"Saya takut ketika mas bilang bahwa tujuan kita ke Paris adalah untuk bulan madu. Saya takut jika nanti setelah pulang bulan madu akan hamil. Karena yang ada di pikiran saya saat itu, saya tidak mau mengandung sambil kuliah, saya malu untuk mengakui semuanya" sambung Ara.
Ara menjelaskan dengan sejujur jujurnya kepada Sean, dia tidak ingin berpisah dengan Sean, dia menyesal tadi dia mengucapkan kata ceria pada Sean.
Ara sadar bahwa dirinya juga sudah jatuh cinta dengan suaminya itu, Namun rasa cinta Ara masih kalah dengan Ego nya.
"Mas Ara janji, kejadian malam ini ngga akan terulang lagi mas, Ara juga janji akan menghentikan semua per KB an ini. Jangan tinggalin Ara mas, Ara sayang sama Mas Sean, hikss... " ujar Ara.
Sean hanya diam mendengarkan perkataan Ara, hati nya begitu nyeri ketika tahu Ara tidak ingin memiliki anak dengan nya. Bukan nya Sean egois, ingin memiliki anak saat Ara masih kuliah.
Namun, Sean hanya ingin memiliki istri nya secara utuh, dia sudah sangat mencintai istrinya ketika Kata "SAH" menggema di penjuru ruangan saat mereka akad nikah beberapa bulan yang lalu.
Sean menarik Ara ke dalam pelukan nya, air mata nya turun membasahi rambut hitam Ara.
"Maaf kan saya, sama terlalu emosi" ucap Sean lembut.
"Maafkan saya karna belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu" ucap Sean lagi.
"enggak mas, mas ga salah, Ara yang salah, Ara egois mas ga pernah mikirin perasaan mas." ujar Ara.
"Maafin Ara mas.. hiksss... " ucap Ara sambil menghapus air mata Sean yang membasahi pipi Sean.
Sean menggenggam tangan Ara dan meletakkannya di dada bidang Sean.
"Kita mulai dari Awal" ucap Sean sembari mengelus Pipi Ara dan menghapus jejak air mata yang tersisa di sana.
Ara mengangguk dan tersenyum, hati nya merasa lega.
Dia mengira akan di ceraikan oleh Sean, dirinya terlalu bodoh saat mengucapkan kata cerai tadi sehingga membuat Sean begitu emosi, tak sepantasnya dia minta cerai pada suami yang begitu mencintai dirinya.
__ADS_1
Malam itu mereka habiskan untuk saling menghibur hati masing masing. Ara berjanji akan mengubah sikap nya dan akan lebih menerima dirinya sebagai istri dari Sean Alexan Wijaya.
***