
Setelah mandi dan bersih - bersih Ara dan Sean memutuskan untuk menonton TV di ruang tengah.
Sembari Sean menekan - nekan tombol remote TV guna mencari siaran yang bagus, Ara beranjak ke dapur untuk mengambil cemilan.
"Film apaan ni pak?" tanya Ara menenteng stoples keripik kentang di tangannya.
"Titisan jenglot perawan" jawab Sean.
"Dih film apaan tu, aneh bener judulnya"
"Film horor"
"Yaa jangan dong pak, saya takut" .
"Kan ada saya, kamu bisa meluk - meluk saya kalo lagi ketakutan"
"ish.. modusnya bisa banget ya"
"saya hanya menawarkan, kalo ga mau juga gapapa" ucap Sean.
Ara menonton dengan fokus sembari mengunyah cemilan yang ada di pelukannya, sesekali dia menyuapkan keripik kentang itu ke mulut Sean.
Film yang mereka tonton sedang menampilkan adegan dimana sosok hantu di film tersebut akan muncul, "AAAA..." teriak Ara sembari memeluk lengan Sean ketika sosok perempuan berbaju putih lusuh tiba - tiba memenuhi layar TV mereka, dan keripik kentang di pelukan Ara terlepas dan jatuh ke lantai.
"Modus banget meluk - meluk" sindir Sean.
"kan tadi bapak sendiri yang bilang boleh meluk kalo ketakutan, lagian juga tadi cuma refleks doang".
Mereka menikmati film yang sedang di putar itu, kecuali Ara yang sedari tadi hanya mengintip - ngintip dari balik lengan Sean.
Film yang mereka tonton pun akhirnya selesai.
"Tidur yok pak, ngantuk ni saya" ajak Ara.
"iya ayok"
"eits... tapi sebelumnya anterin dulu saya ambil minum dong pak"
"ambil aja sendiri kan deket" ucap Sean
"saya takut pak, ayo dong pak udah haus banget ini, nanti kalo saya pingsan gimana" ucap Ara dramatis
"Lebay banget" ucap Sean sembari berjalan menuju dapur yang di buntuti oleh Ara.
Sean mengambilkan segelas air putih dan menyerahkannya pada Ara.
"Ahhh lega"
Sean memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum tidur.
__ADS_1
20 menit kemudian Sean keluar dari kamar mandi dan melihat Ara sudah berbaring di tempat tidur.
Sean pun memutari ranjangnya dan ikut merebahkan diri di samping Ara, mereka tidur saling berhadapan. Sean memperhatikan wajah polos Ara, kemudian mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman di kening Ara.
"Good night, sleep well" ucap Sean yang tidak bisa di dengar Ara karena dirinya sudah terlelap tidur.
***
Keesokan harinya Ara memilih tidak masuk kuliah, karena mau mempersiapkan barang - barang yang akan di bawa besok berangkat ke Paris.
Pagi - pagi sekali Ara sudah bangun dan mandi lalu bergegas membuat sarapan untuk suaminya.
Ara sekarang sudah terbiasa bangun pagi sehingga dia punya banyak waktu memasak untuk Sean.
Hari ini dia membuat nasi goreng untuk suaminya itu, "Lama - lama gue bisa buka restoran kalo gini caranya" ucap Ara.
ting... ponsel Ara berbunyi pertanda chat masuk.
Tita : Dimana lo, telat lagi?
Ara : Gue ga masuk hari ini ta, izinin gue yak.
Tita : Kenapa lo, sakit?
Ara : Enggak, gue lagi ada acara keluarga di luar kota, gue juga udah ngajuin cuti seminggu.
Tita : Lama amat lu ga masuk.
Tita : Yaudah ati - ati di jalan Ra.
Ara : sip.
Sebenarnya Ara masih bingung bagaimana cara menyampaikan kepada teman - temannya kalau Ara sudah menikah.
Tak lama Sean keluar dari kamar dengan setelan rumah menggunakan baju kaos oblong berwarna hitam dan celana bokser selutut berwarna putih.
"Masak apa?" tanya Sean
Ara menoleh sekilas ke arah Sean "Nasi goreng, ayo pak kita makan udah selesai ini" ajak Ara
Merekapun duduk di meja makan, Ara menyendokkan nasi goreng ke piring Sean.
"Segini cukup?"
"cukup"
Ara menyerahkan piringnya dan lantas mereka makan, "bapak ga ngajar?" tanya Ara penasaran, karena setahunya Sean ada jadwal mengajar hari ini di kelasnya.
"Enggak, saya juga sudah mengajukan cuti satu minggu" jelas Sean, Ara cuma ber oh ria mendengarnya.
__ADS_1
Mereka sudah selesai dengan kegiatan makannya, sekarang mereka di sibukkan dengan menata baju - baju mereka di koper masing - masing.
"Duhhh ga muat nihh, mana sepatu gue belum masuk lagi" Ucap Ara seraya menekan - nekan isi dalam kopernya.
Ara melirik ke arah koper milik Sean yang ternyata masih longgar, Ara menyeringai "Pak saya nitip sepatu dong" ucap Ara.
Sean menoleh "Kamu kan ada koper sendiri"
"Udah full pak, udah di jejel - jejelin ini tapi masih ga muat"
"Ngapai juga bawa barang banyak banget, kita cuma seminggu di sana bukan setahun" ucap Sean jengah melihat barang bawaan Ara yang melebih orang mau pindahan.
"Ya kan saya cewek pak jadi banyak keperluannya, Baju, celana, daleman, hairdryer, catokan, makeup, skincare" ceroros Ara.
"Bawa baju seperlunya saja, nanti kalau kurang bisa beli di sana" ucap Sean.
"Wededede.... orang kaya mah beda" ucap Ara seraya menaik turunkan alis nya.
"Saya memang kaya"
Mulai deh kumat sombongnya, gue rampok juga lu.
Ara tidak menanggapi Sean, dia sedang sibuk menggapai - gapai kotak sepatunya di atas lemari pakaian mereka yang menjulang tinggi.
Ara melompat - lompat untuk mengambil kotak sepatu tersebu, Ara menyerah lalu dia beralih menatap Sean " Pak, tolong dong ambilin kotak sepatu saya di atas lemari, saya ga nyampe " mohon Ara.
Sean menoleh ke Ara lalu beranjak berdiri dan menghadap Ara "Panggil saya mas baru saya ambilkan" ucap Sean.
"Dih gamau... perhitungan banget sih jadi suami, minta tolong aja harus ada imbalannya dulu." tolak Ara
"Yasudah kalo tidak mau ambil saja sendiri, lagian juga saya ini suami kamu, bukan bapak kamu" ucap Sean mengingatkan, karena Sean sudah jengah mendengar Ara memanggil dirinya Bapak.
"tapi kan bapak Dosen saya"
"Itu di kampus, kalau di rumah saya suami kamu, jadi mulai sekarang kamu harus panggil saya Mas" putus Sean.
"Nanti kalo saya kelepasan manggil Mas di kampus gimana"
"Ya itu masalah kamu, jadi mau di ambilkan tidak?"
"Iyaaa, ambilin lah"
"Mas tolong ambilkan Sepatu saya" Ucap Sean mengajari Ara
Ara memutar bola matanya malas, merasa geli dengan panggilan Mas yang di sematkan Suaminya untuk dirinya sendiri.
"Mas tolong ambilin sepatu saya" ulang Ara
"Nah gitu dong" Sean menarik kursi di meja rias Ara dan menaikinya untuk mengambil kotak sepatu Ara, karena sejujurnya dia juga tidak sampai untuk mengambil kotak sepatu itu .
__ADS_1
Lah sialan, kenapa gue ga kepikiran naik kursi juga tadi, kalo gitu kan gue ga usah capek - capek manggil dia Mas.
***