
Setelah Ara beristirahat dan merasa tenang, dia dan suaminya turun ke bawah menemui teman - teman nya, gadis itu berniat ingin menjelaskan tentang pernikahan nya dengan Sean.
Ara dan Sean menuju ke ruang TV di villa tersebut di mana teman - teman nya sedang berkumpul di sana.
"gaes" sapa Ara.
"eh Ara, pak Sean" ucap Bimo sambil cengar cengir
"duduk pak" tawar Yuda.
Ara dan Sean duduk di antara teman nya, "emm sebelumnya gue mau minta maaf sama kalian semua" ucap Ara.
"minta maaf buat apa Ra?" ucap Tita.
Ara memandangi teman - teman nya satu per satu, "Gue mau minta maaf karena udah nyembunyi in status pernikahan gue sama kalian. Gue juga ga ngundang kalian di pernikahan gue. Bukan karna gue ga nganggep kalian sahabat, tapi awal nya ini berat banget buat gue" ucap Ara lirih.
Sean merangkul pundak Ara dan mengusap nya seakan sedang menenangkan istrinya. Pergerakan Sean tak luput dari pandangan Arsya.
Sean membiarkan Ara menjelaskan kepada teman - teman nya terlebih dahulu.
"Gue juga ga nyangka bakal menikah secepat ini dan dengan orang yang ga pernah gue duga sebelumnya" Ara menoleh ke suaminya.
"Papa gue jodohin gue dengan anak temen kecilnya, mereka mau persahabatan yang sudah terjalin sejak lama itu berubah menjadi ikatan keluarga, dengan cara menikahkan gue dan pak Sean. Gue ga mau durhaka dengan orang tua gue dengan cara memberontak dan menolak permintaan papa gue." Ucap Ara sembari terisak.
Teman - teman nya mendengarkan dengan seksama, termasuk Arsya yang sejak tadi mengepalkan tangan nya kuat.
" Gue awalnya mau ngerahasiain pernikahan ini karna gue ga mau semua orang tahu kalo gue istri nya pak Sean, gue masih mau bebas. Tapi lama kelamaan gue sadar, gue ga boleh gini terus, gue harus mengakui bahwa gue bukan single lagi. Dan inilah suami gue" ucap Ara sembari memandang Sean.
"Dosen yang nyebelin, galak, antagonis, Dosen yang selama ini gue caci maki, umpatin bahkan gue sumpahin, sekarang dia jadi suami gue. Ini bukan mimpi, berulang kali gue tepuk pipi gue, kali aja gue lagi mimpi tapi sayang nya gue lagi ga tidur, ini nyata dan gue harus terima" ucap Ara.
"Jadi gue mau minta maaf sama kalian karena ga jujur dari awal, gue masih labil saat itu. Dan untuk Arsya... " ucap Ara menggantung sembari menoleh ke arah Arsya.
Arsya menoleh ke Ara "Gue minta maaf sya, gue minta maaf karna gue ga bisa bales perasaan lo, dan gue harap persahabatan kita ga renggang karena masalah ini" ucap Ara yang hanya mendapat anggukan dari Arsya.
Sean mengernyit bingung, dia tidak mengerti dengan perkataan Ara, tapi dia tak ambil pusing.
"Ga papa Ra, kita ngerti perasaan lo waktu itu" ucap Tita.
"Lo hebat Ra, kalo gue jadi lo pasti gue udah kabur dari rumah" ucap Yuki.
Ara tersenyum menanggapi ucapan Yuki.
"Kalian mau kan maafin gue?" tanya Ara
"Iya Ra kita maafin kok, udah ya jangan nangis lagi" ucap Yuki dan Tita.
Mereka bertiga saling berpelukan, Bimo yang berniat ingin ikut memeluk ketiganya pun mendapat pelototan tajam oleh Sean dan Yuda.
"Muehehehe" cengir Bimo
Ara ingat sesuatu, dia menoleh ke arah Tita.
"kenapa?" tanya Tita.
__ADS_1
Tatapan Ara beralih ke Yuda.
"Kenape lu?" tanya Yuda.
"Lo berdua belom klarifikasi soal hubungan kalian" ucap Ara yang mendapat pelototan dari Tita dan Yuda.
"Hubungan? " ucap Yuki.
"Hubungan Apaan Woy" ucap Bimo.
"Wahhh main belakang lu ya?" tambah Bimo.
Tita dan Yuda gelagapan mendapat pertanyaan dari mereka.
"emm.. sebenernya gue dan Yuda udah pacaran sejak beberapa bulan yang lalu" ucap Tita.
Lagi - lagi mereka yang ada di sana membulatkan mata mereka.
"Wah bener - bener lu pada ya, kaga ada abis - abis nya ngasih kejutan"
"Kok lo ga cerita sih Ta?" tanya Yuki.
"Hehehe gue belom siap aja ki, awalnya kita mau backstreet, tapi keburu ketauan sama Ara" ucap Tita.
"ga bisa gitu dong, PJ dulu lah" ucap Bimo.
"Yud PJ"
" Ta, Ra PJ woy"
Sean memandang ke arah Bimo, " Kalian pesan makanan sebanyak yang kalian mau, nanti saya bayar" ucap Sean sembari meraih tangan Ara dan mengajaknya ke halaman belakang villa.
"beneran ni pak? " ucap Bimo.
"emm" jawab Sean singkat.
"uhuuuuyyyy makan gratis, buruuu woy pesen elah"
"makan aja lo pikirin, noh temen lo lagi berduka" ucap Yuki sembari menunjuk Arsya.
Bimo, Yuda dan Tita memandang ke Arah Arsya, dan menghampirinya. .
Yuda menepuk pundak Arsya, "Yang sabar bro, lo pasti bisa ngelupain Ara" ucap Yuda
"Lupain sya, dia udah nikah sama orang lain" ucap Tita.
"Iya sya, mau gimanapun usaha lo buat ngedapetin Ara ga bakal bisa, dia udah jadi milik pak Sean" tambah Yuki.
"Tenang brooo kita cari yang lain, mau cari mana pun gue jabanin" ucap Bimo yang hanya mendapat senyuman dari Arsya.
Terkadang cinta tak harus memiliki, melihat dia bahagia dengan orang pilihan nya itu sudah lebih dari cukup. Kata - kata ini memang terdengar klise, tapi yakinlah cinta yang datang dari keterpaksaan tidak akan berakhir dengan indah.
"Mas kita mau ngapain ke sini?" tanya Ara setelah sampai di taman belakang villa tersebut.
__ADS_1
Hari sudah gelap, langit yang semula mendung kini berubah menjadi gelap. Tak ada bintang yang menghiasi langit, hanya ada semilir angin dingin yang meniup tubuh mereka.
"Terimakasih kamu sudah mau mengakui saya sebagai suami kamu" Ucap Sean
Ara sedikit tertohok dengan perkataan Sean, seolah - olah dia malu dan tidak ingin mengakui Sean sebagai suaminya.
"Maafin saya yang baru berani mengakui pernikahan kita mas" ucap Ara kembali terisak.
"Saya sadar saya salah, maafin saya mas"
Sean menarik Ara ke dalam pelukan nya, " Sudah tidak apa - apa, yang penting semuanya sudah selesai" ucap Sean menenangkan.
Ara tersenyum "iya mas"
Sean melepas pelukan nya " tapi tadi kamu bilang kamu nyumpahin saya. Kamu nyumpahin saya apa?" tanya Sean baru ingat dengan perkataan Ara tadi.
"eh.. eng.. ngganu mas" ucap Ara terbata
"anu apa? "
"itu" ucap Ara lagi.
"iya itu apa? kamu sumpahin saya apa?" tanya Sean lagi.
Ara nyengir "nyumpahain mas biar ga kawin - kawin muehehe" ucap Ara.
"kamuuu" ucap Sean sembari menjewer telinga Ara.
"Adu duhh sakit mas"
Sean melepaskan telinga Ara, "tapi sumpah kamu ga manjur ternyata" ucap Sean enteng.
"kenapa? " tanya Ara bingung.
"Ya kan saya sudah menikah, jadi sumpah nya ga berlaku" ujar Sean.
Ara menggaruk kepala nya yang tak gatal, "iya juga yaa" ucap Ara.
"Yasudah ayo kita masuk, angin nya semakin kencang, nanti kamu masuk angin" ucap Sean.
Lama mereka berbincang di luar dan akhirnya mereka masuk lagi ke villa, menuju tempat teman - teman Ara berada.
Di sana terlihat sudah terhampar berbagai macam makanan yang terhidang di sana.
"Astagaa! kalian mesen kira - kira lah woy, kasian suami gue yang bayarin" ucap Ara emosi.
"hehehe sekali - sekali lah Ra" ucap Bimo yang sudah makan dari tadi.
"Makan pak" ajak Yuda.
Sean mengangguk dan mengajak Ara makan bersama teman - teman nya.
Malam itu mereka habis kan dengan saling bertukar cerita satu sama lain, walaupun agak di selimuti kecanggungan karena adanya sean di sana.
__ADS_1
***