
Hari hari berlalu, kasus mengenai Ara hampir di perkosapun perlahan hilang dari ingatan mereka semua, kini semuanya sudah berjalan seperti biasa. Ara dan Sean pun sudah kembali ke apartement mereka berdua, mereka menjalankan keseharian sebagai suami istri yang seutuhnya.
Perusahaan Yang di pimpin oleh Sean pun maju pesat, sangat di luar dugaan papanya. Alex kini lega putranya bisa memimpin perusahaan yang ia bangun sejak ia remaja.
Kesehatan jantung Alex juga sudah stabil dan jarang merasakan nyeri, mungkin inilah yang dinamakan kebahagiaan hidup oleh Sean dan Ara.
“Mas, Ara seneng deh” ucap Ara seraya berada di dekapan suaminya. Mereka sedang duduk di balkon kamar apartemen mereka.
“Seneng kenapa hem?” Tanya Sean.
“Seneng aja, keadaan sekarang sudah membaik, kesehatan papa Alex juga udah membaik dan mas makin cinta sama Ara” ucap Ara manja.
“Iya sayang, mas juga seneng banget dengan keadaan kita yang sekarang, mas bisa kerja dengan tenang” ujar Sean.
“Iya alhamdulillah mas” ucap Ara seraya mengeratkan pelukannya di dada Sean.
“Dan kita juga bisa lebih fokus dengan produksi kita” ucap Sean ambigu.
“Hah? Produksi apaan?” Tanya Ara tak paham.
“Produksi Sean Junior” ucap Sean nakal.
“Isss mas mesum banget” ucap Ara malu-malu.
“Gapapa dong mesum sama istri sendiri” ucap Sean Seraya mengangkat tubuh Ara ala bridal style.
“AAAAAA… mas ihhh turunin gak” ucap Ara berontak dalam gendongan.
“Gak mau” ucap Sean.
“Ishhh nyebelin” ucap Ara.
Sean membaringkan Ara ke kasur King size mereka dengan perlahan dan mengusap pucuk kepala istrinya dengan sayang.
“Teruslah menemaniku sampai kapanpun sayang” ucap Sean lembut.
“Mas akan melindungi dan menyayangimu seperti yang di lakukan papa padamu” sambung Sean lagi.
“Kamu adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan” ucap Sean seraya mengecup kening istrinya itu.
Pipi Ara tersemu merah mendengar pernyataan suaminya, “mas bisa aja” ucapnya malu-malu.
“Udah nikah lama tapi masih aja malu-malu” ucap Sean sambil menoel hidung Ara.
“Mas ihhh”
Sean mendekatkan wajahnya ke wajah Ara hingga sampailah ke salah satu bagian terfavorit dari tubuh istrinya, yaitu bibir ranum milik Ara.
__ADS_1
Sean begitu candu dengan bibir ranum itu, baginya tidak ada yang paling manis selain bibir isterinya, Ya Sean sudah di mabuk asmara pada isterinya sendiri.
Malam itu mereka lagi dan lagi melakukan kegiatan rutin mereka yaitu memproduksi calon Sean junior seperti yang di katakan Sean tadi.
*
“Hoaaammm…..” Ara menguap lebar di pagi yang gelap ini.
“Perasaan dingin banget deh, padahal AC nya suhunya ga kecil” ucap Ara sembari mengucek matanya.
Ara beranjak menuju jendela di kamarnya dan menyibakkan hordeng yang menutupinya.
“Oalahh… pantes aja dingin, wong hujan deras gini” ucap Ara.
“Emmmhh… kenapa sayang?” Tanya Sean yang baru saja terbangun mendengar gumaman Ara.
Ara menoleh ke arah Sean, “ini mas pantes aja dingin, ternyata di luar hujan deres banget” ucap Ara.
“Yaudah sini tidur lagi aja” ucap Sean sembari menepuk nepuk kasur di samping nya.
“Gak ah, nanti di suruh kerja rodi lagi. Mending Ara mandi terus siapin sarapan” ucap Ara seraya berlalu ke kamar mandi.
Setelah mandi dan memakai pakaian, Ara menuju ke dapur untuk membuatkan suaminya itu sarapan, sementara Sean masih sibuk membersihkan dirinya di kamar mandi.
“Masak apa sayang” ucap Sean seraya memeluk Ara dari belakang.
“Masak apa hem” tanyanya lagi.
“Ini masak nasi goreng aja mas, soalnya bahan masak di kulkas udah pada abis” ujar Ara.
”yaudah setelah hujan reda kita belanja oke” ucap Suaminya itu.
“Iy….. huekkkkkkk” perkataan Ara terputus ketika perutnya terasa sangat mual dan ingin muntah.
Ara segera melepaskan pelukan Sean dan langsung berlari menuju wetafel yang ada di dapur, “huekkkkk, huekkk” Ara memuntahkan semua isi dalam perutnya.
“Ara kamu kenapa?” Tanya Sean panik, “Kamu sakit?” Sambungnya sambil memijit pelan tengkuk leher Ara.
“Ga tau ni mas tiba-tiba mual banget” ucap Ara seraya mengelap mulutnya.
“Ayo kita ke dalam” ajak Sean sambil menuntun Ara duduk di sofa.
“Masih mual?” Tanya Sean.
Ara mengangguk, “masih mas” jawab Ara.
“Yaudah kita ke dokter ya” ujar Sean.
__ADS_1
“Ga usah mas, paling masuk angin doang ini” ucap Ara.
“Gak, pokoknya kita ke rumah sakit sekarang” paksa Sean.
“Yaudah Ara siap-siap dulu ya mas” Ara beranjak menuju kamarnya namun belum sampai masuk ke dalam kamar tubuhnya ambruk jatuh ke lantai.
“Sayangg” teriak Sean dan ia langsung mengangkat istrinya menuju ke mobil, Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia khawatir istrinya itu kenapa-kenapa.
Sampai di rumah sakit Ara langsung di bawa masuk ke ruang UGD dan di periksa oleh dokter, selang beberapa menit Sean di panggil ke ruangan dokter yang menangani Ara.
“Bapak suaminya?” Tanya dokter tersebut.
“Iya dok saya suaminya” ujar Sean, dia sangat gugup menunggu pernyataan dokter mengenai istrinya.
“Selamat pak, bapak sebentar lagi akan menjadi ayah” ucap Dokter tersebut dengan lembut.
“Ma..maksud dokter istri saya hamil?“ tanya Sean tidak percaya.
“Betul pak, kandungannya sudah masuk minggu ketiga, bapak harus ekstra menjaga istri bapak, karena kandungannya masih rentan” jelas dokter tersebut.
“Baik dok, terimakasih. Boleh saya menemui istri saya?” Ucap Sean yang sudah tidak sabar bertemu dengan istrinya.
“Silahkan pak” ucap Dokter pada Sean.
Sean berjalan menuju tempat tidur Ara, “mas Ara sakit apa?” Tanya Ara khawatir soal kesehatannya.
“Kamu hamil sayang, mas sebentar lagi akan jadi Papa” ucap Sean dengan mata berkaca.
“Yang bener mas?” Tanya Ara tak yakin.
“Iya sayang, kamu gak seneng ya?” Tanya Sean mulai lesu.
“Ishh mas kok nanya gitu, Ara seneng banget mas sebentar lagi Ara punya baby” ucap Ara yang akan segera menangis.
Sean memeluk istrinya sayang, dia tidak menyangka bahwa Ara hamil sekarang. Dia harus ekstra menjaga istrinya yang pecicilan itu, bila perlu dia akan menyuruh Ara untuk cuti kuliah untuk sementara.
“Mas kita harus kasih tau kabar bahagia ini sama keluarga yang lain” usul Ara.
“Iya sayang pasti, setelah kita tebus obat kita langsung ke rumah orang tua kamu ya” ajak Sean.
Dengan hati yang senang sepasang suami isteri itu pulang mengendarai mobil menuju ke rumah Ara, tangan Ara yang tidak pernah lepas dari genggaman Sean karena dia tidak ingin berpisah walau sedetikpun dengan isteri tercintanya itu.
Tidak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan yang sedang Sean rasakan saat ini, momen ini memang sudah sangat ia nanti-nantikan selama ini.
Sean junior.
***
__ADS_1