
Setelah keluar dari kelas, Ara mengikuti Sean ke kantornya seperti yang di perintahkan nya tadi. Ara mengekor di belakang Sean dengan patuh.
Ditengah perjalanan Sean di sapa oleh bu Monik seorang dosen muda yang juga satu angkatan dengan Sean.
"baru kelar ngajar Sean?" tanya bu Monik pada Sean.
"iya" jawab sean singkat. Banyak rumor yang beredar kalau Sean dan bu Monik ini berpacaran, karena mereka lulusan dari kampus yang sama dan menjadi dosen di kampus yang sama juga, mereka juga kerap kali terlihat berbincang dengan akrab walaupun padahal bu Monik duluan yang memulai percakapan, jadi banyak mahasiswa menyimpulkan bahwa mereka berpacaran, dan bahkan ada gosip yang beredar kalau mereka akan segera menikah.
"asisten baru lagi?" tanya bu Monik sembari menunjuk Ara yang berada di belakang Sean.
"iya" jawab Sean singkat, "saya duluan" pamit Sean kepada bu Monik.
Sean dan Ara berlalu meninggalkan bu Monik yang masih setia berdiri di tempatnya dan menatap nanar ke arah mereka berdua, "Sean, kapan kamu bisa membuka hati kamu lagi untuk ku, aku tau yang aku lakukan dulu itu salah tapi apakah kamu tidak mau kembali lagi kepadaku" gumam bu Monik.
Bu Monik dan Sean dulu sempat menjalin suatu hubungan sejak mereka kuliah hingga selesai. Namun bu Monik malah mengkhianati Sean dengan cara Selingkuh dengan sahabat Sean sendiri.
Sebenarnya dulu Sean adalah orang hangat dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajah tampan nya, namun setelah pengkhianatan yang di lakukan bu Monik menjadikan Sean sebagai pribadi yang dingin, cuek dan ketus dengan semua orang.
Di dalam ruangan Sean Ara berdiri di depan meja seakan menunggu perintah dari Sean. Ara kembali mengingat perkataannya kemarin jikalau dia berjanji tidak akan menginjakkan kaki nya lagi di ruangan ini, namun sepertinya janji nya tidak akan terlaksana dan bahkan sepertinya dia akan lebih sering masuk ke ruangan terkutuk ini.
"ngapain berdiri aja disitu, duduk" perintah Sean.
"eh i..iya pak" Ara duduk di hadapan Sean.
"untuk tugas pertama kamu, tolong kamu koreksi hasil ujian adik tingkat kamu, kunci jawaban nya di lemari sebelah kiri" perintah Sean.
"baik pak" Ara berdiri menghampiri lemari yang Sean maksud dan mengambil kunci jawaban yang ada di sana.
Ara mulai mengecek satu persatu lembar jawaban yang menumpuk di meja Sean, dengan wajah yang serius Ara memeriksa lembar jawaban tersebut.
sesekali Ara mengerutkan dahinya karena dia agak kesusahan membaca tulisan yang di tulis adik tingkatnya.
"Ni orang nulis pake pena apa pake kapur sih, ga jelas banget tulisannya" gerutu Ara.
Sean hanya menoleh sekilas lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Suasana hening menyelimuti ruangan kerja Sean, dua manusia itu disibukkan dengan kegiatan masing-masing, Sean sibuk dengan laptopnya sedangkan Ara sibuk mengecek lembar-lembar ujian adik tingkatnya.
Satu jam berlalu, tumpukan kertas yang menggunung itu perlahan-lahan semakin berkurang, berkurang dan akhirnya habis.
"huft... akhirnya selesai juga" ucap Ara sembari meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku akibat terlalu lama duduk.
"pak tugas saya sudah selesai, saya permisi keluar ya pak" pamit Ara, saat hendak beranjak keluar dari ruangan tersebut suara Sean menginterupsi "siapa yang suruh kamu keluar, lagian juga kamu udah ga ada mata kuliah lagi kan?" ucap Sean.
"Saya laper pak mau makan udah siang, Ara takut sakit magh kalau telat makan, nanti Ara kesini lagi deh selesai makan, bapak mau nitip apa ? Sini ara beli in." ucap Ara.
"kamu tunggu di sini saya pesankan makanan" ucap Sean.
Ara menurut, dia tidak jadi ke kantin karena Sean sudah memesankan dia makanan, "lumayan makan gratis" sorak Ara dalam hati.
Makanan yang di pesan Sean sudah sampai dan mereka sedang makan bersama di sofa yang ada di ruangan Sean.
Ara merasa risih dengan keheningan yang menyelimuti mereka, Ara mencoba buka obrolan.
"bapak kesepian ya? sampe nyogok segala" tanya Ara tidak sopan.
"maksudnya?" jawab Sean dengan pertanyaan
"bapak minta saya temenin bapak disini kan ?sampai-sampai di beli in makanan" jawab Ara dengan cekikikan.
"saya kasian aja sama kamu, anggep aja lagi sedekah" jawab Sean santai
Ara mengeram kesal, niat hati ingin membuat Sean kesal malah dia yang kesal.
Selesai makan Ara membereskan bekas-bekas sampah yang ada di meja ruangan Sean, sedangkan Sean kembali berkutat dengan laptopnya.
Di sana Ara hanya duduk menunggu perintah dari Sean, tidak ada kegiatan yang bisa dia lakukan selain duduk manis di ruangan itu.
"pak ada yang bisa saya kerjakan lagi gak? saya bosan nii duduk doang dari tadi kaya batu" keluh Ara
Sean tidak menggubris ocehan Ara, "pak.." panggil Ara lagi.
"Pak Seannn..." pekik Ara karena sedari tadi dia di abaikan oleh Sean.
"kamu itu berisik sekali" ucap sean.
"saya harus ngapain pak, saya ngantuk kalo diem aja gini" keluh Ara, karena dia baru saja kekenyangan kemungkinan dia akan mengantuk nanti.
"cukup kamu duduk disana diam dan jangan berisik, saya lagi sibuk" perintah Sean.
Ara memilih untuk diam sembari membuka ponsel nya yang sedari tadi dia abaikan karena sibuk mengoreksi lembar ujian adik tingkatnya.
__ADS_1
Disana sudah banyak chat yang masuk dari teman-teman nya, termasuk chat dari Arsya yang mencarinya kemana-mana.
Pasalnya setelah Ara di boyong Sean ke ruangan nya, Ara tidak terlihat lagi di sekitar kampus sehingga membuat teman-teman nya sibuk mencari Ara, karna biasanya mereka akan berkumpul di kantin kampus untuk sekedar mengobrol.
Arsya : Ara kamu dimana ?
Tita : Ra lo udah pulang ?
Yuki : Araaa, lo di apain pak Sean?
maksudnya apa chat dari Yuki ini, memang nya Ara di culik.
Ara memilih mengabaikan chat dari mereka dan memilih membuka grup chat Pejuang Toga, biar di bales sekalian.
-Pejuang Toga-
Ara : gue di ruangan Pak Sean, rindu banget ya sm gue hihi.
Yuki : Lama amat lu disana, ngapain hayo.
Ara : otak lo cuci dulu, gue disuruh koreksi lembar ujian adik tingkat.
Arsya : Ra lo udah makan ?
Ara : udah kok, tadi di beli in pak Sean.
Bimo : baik banget doi tumben.
Tita : suka kali sama Ara.
Ara : sembarangan lu, gamau gue.
Arsya : pulang nanti bareng gue ya ra
Ara : liat nanti ya sya, gue juga ga tau pulang jam berapa
Arsya : oke
Read
***
Ara menutup ponsel nya setelah puas menscroll halaman instagramnya dan membalas chat dari teman-teman nya.
Gerak gerik Ara tidak luput dari penglihatan Sean.
Ara mengambil beberapa buku dan kembali lagi ke sofa,
Ara duduk dan membaca buku tersebut dan mengabaikan Sean yang ada di depannya, hingga tidak terasa Ara malah ketiduran di sofa dengan mulut yang terbuka dan buku yang berserakan di dekatnya.
"Ara bangun udah sore pulang-pulang" ucap Sean sembari menggoyang-goyang kan tubuh Ara, "Ara terperanjat kaget melihat Sean di depan nya.
"Ehh bapak ngapain? saya kok bisa ada disini?" pekik Ara sembari memundurkan badan dan menyilangkan tangan nya di dada.
Sean ikut kaget melihat tingkah Ara yang menurutnya aneh, "memangnya saya ngapain kamu, jangan mikir yang aneh-aneh kamu ketiduran tadi, mana ngeces lagi" ucap Sean yang tidak terima di tuduh berbuat macam-macam oleh Ara.
"maaf pak saya lupa, sekarang jam berapa pak?" tanya Ara, karena dia tidak tahu sudah berapa lama dirinya ketiduran di ruangan Sean.
"jam 5" jawab Sean singkat.
"WHATTTTTTT !!!!!!" pekik Ara, dia kaget karena sudah tidur sangat lama di sana.
"kamu ini hobi sekali teriak-teriak, ini bukan di hutan. ayo cepat saya antar kamu pulang" ajak Sean.
"eh.. ga usah pak, saya bisa naik ojek online kok" tolak Ara, dia tidak mau merepotkan Sean.
"saya tidak suka di bantah" putus Sean.
Mereka keluar dari ruangan kerja Sean, suasana di kampus sudah cukup sepi karena kegiatan belajar mengajar sudah selesai sejak satu jam yang lalu, isi kampus paling di isi oleh mahasiswa-mahasiswa yang sibuk nongkrong di taman kampus.
Ara mengekor di belakang Sean, sebenarnya dia masih mengantuk karena tadi Sean membangunkan nya dengan tiba-tiba.
"Sean belum pulang?" suara itu milik ibu Monik yang datang dari arah depan Sean dan
BRUUKKK, Ara yang memang matanya belum terjaga dengan sempurna menabrak punggung Sean.
"pak ngapain pake acara berenti mendadak sih?" gerutu Ara karena dia menabrak punggung Sean. "eh ada ibu Monik" sapa Ara kepada bu Monik.
bu Monik hanya mengangguk membalas sapaan Ara lalu berpaling ke Sean, "Sean boleh aku minta tolong antarkan aku pulang? pinta bu Monik.
Sean hanya memandang bu Monik dengan tatapan datar, "Mobil ku sedang di bengkel jadi aku mau minta tolong antar aku pulang" ucap bu Monik lagi.
__ADS_1
Ara hanya diam memperhatikan keadaan yang sangat canggung ini, dia tidak tau harus berbuat apa dan kenapa pula pak Sean cuek sekali dengan bu Monik, "apa mereka lagi berantem ya?" pikir Ara. Ara yang termakan oleh gosip yang beredar di kampus ini kalau Sean dan Bu Monik memiliki hubungan merasa heran dengan interaksi mereka berdua.
"saya sibuk, permisi" ucap pak Sean lalu berlalu meninggalkan bu Monik.
Melihat Sean sudah jalan jauh di depan ara segera pamit kepada bu Monik, "saya permisi bu" Ara menundukkan kepalanya seraya berjalan melewati bu Monik.
Sampai di mobil Sean Ara langsung masuk dan duduk di kursi bagian depan, sepanjang jalan Sean hanya diam dengan muka datar nya.
Ara yang tidak tahan dengan keheningan ini mencoba memecahkan suasana "bapak lagi berantem ya sama bu Monik?" tanya Ara
"tidak" jawab Sean singkat
"trus tadi kenapa ga mau nganterin bu Monik pulang dan malah nganterin saya, kasian tau pak pacar nya di tinggalin, saya berasa lagi jadi pelakor kalo gini caranya" jelas Ara panjang lebay.
Sean mengerutkan dahi nya "siapa yang bilang saya pacaran sama Monik?" tanya Sean penasaran.
"se isi kampus juga udah pada tau kali pak kalo bapak itu pacaran sama bu Monik" jelas Ara.
"saya tidak pacaran sama Monik" sangkal Sean
"jahat banget sih gak ngakuin pacar sendiri, entar di tinggalin nangis" sindir Ara.
Sean terdiam dan tidak menggubris perkataan Ara lagi, tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Ara "makasih ya pak udah nganterin Ara" ucap Ara yang hanya di jawab dehaman oleh Sean.
***
Setelah mengantar Ara pulang Sean memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua nya karena dia sudah merasa rindu dengan mamanya.
Sean sudah lama tinggal di Apartemen miliknya sendiri karena dia merasa pusing dengan mama nya yang terus menerus menyuruhnya mencari calon isteri.
Setelah penghianatan yang dilakukan Monik kepada dirinya, Sean menutup diri dari perempuan manapun, dia belum merasa menemukan seseorang yang cocok untuk di jadikan isteri.
"assalamualaikum" ucap Sean setelah masuk ke rumah orang tua nya.
"waalaikumsalam, Sean kemana aja sih, mama kangen tau" ucap Alya mama Sean sembari menghampiri dan memeluk Sean.
"Sean baik mah, papa mana mah?" tanya Sean, karena dia tidak melihat keberadaan papa nya disana.
"ada di dalam, ayo masuk mama buatkan minum dulu" ucap mama Alya.
Sean masuk ke ruang TV dan menghampiri Alex papa nya yang sedang menonton TV di sana. "pah" panggil Sean sembari duduk di samping Alex.
"emm, gimana kerjaan kamu, lancar ?" tanya Alex.
"lancar pah" jawab Sean
"lama kamu gak pulang ke rumah, emang gak kangen sama kami" ucap Alex
"kangen pah, tapi mau gimana kerjaan Sean numpuk" Adu Sean.
Sean dan Alex mengobrol seperti layaknya interaksi ayah dan anak, "ini minum dulu" sela Alya sembari meletakkan gelas berisi jus mangga di depan dua orang yang sangat disayangi nya itu.
"Gimana udah nemu?" tanya Alya ambigu.
Sean mengerutkan dahinya dia tidak mengerti dengan pertanyaan Alya, "nemu apaan mah?" tanya Sean.
"Yaa calon istrilah, kalo boleh mama ingatkan umur kamu itu udah 27 tahun Sean, mau kapan lagi mama sama papa dapet cucu" ucap Alya bersungut-sungut.
Sean mendengus, bahasan ini sudah pasti akan dia jumpai jika dia pulang ke rumah orang tua nya, tapi mau bagaimana lagi dia harus menghadapinya.
"Sean, papa sama mama ada rencana mau ngenalin kamu dengan anak temen papa" ucap Alex yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara Alya dan Sean.
"Apa?" pekik Sean
"Iya, ketemu aja dulu, cocok atau enggak terserah kamu aja nanti, tapi papa sama mama berharap kamu cepat menentukan pilihan, karena kamu sudah tidak muda lagi, dan kami juga sudah menua, kamu harus jadi penerus papa dan mengurus perusahaan papa.
Sean memang di beri kebebasan dalam berkarir, namun dia harus tetap menjalankan perusahaan papa nya kelak, karena dia anak satu-satu nya dari Alex dan Alya.
"Baik pah" Sean mengangguk pertanda dia setuju untuk bertemu anak teman papa nya, tapi kalau dia tidak suka dia tentu saja akan menolak, karena menurut Sean menikah itu hanya satu kali seumur hidup, jadi harus dengan orang yang benar-benar tepat dan orang yang dia cintai juga.
"nah kalo gitu kamu siap-siap sekarang, karena nanti malam kita akan ke rumah temen papa buat ngenalin kamu sama anaknya" jelas Aly
"APAA... malam ini!" Pekik Sean.
"Sean kamu itu kenapa, dari tadi teriak mulu kerjaan nya" protes Alya.
Sean juga merasa dia sudah ketularan Ara yang hobi teriak-teriak.
"memang nya harus malam ini banget ya mah?" tanya Sean dengan nada frustasi.
"Iyalah, semakin cepat kamu menikah, semakin cepat juga kami punya cucu" jawab Alya
__ADS_1
"Sean baru setuju untuk ketemu dia ma, belum setuju untuk menikah" protes Sean.
***