
Sinar mentari pagi mengusik indra penglihatan Ara, dia hari ini bangun lebih awal agar bisa menyiapkan barang - barang keperluan yang akan dia bawa ke rumah mama nya.
Ara menuruni tempat tidur lantas segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari bekas pertempuran semalam.
Selesai dengan urusan mandi, Ara langsung pergi ke dapur untuk membuatkan suaminya itu sarapan.
Ara merenung sejenak memikirkan sesuatu yang mengganjal di hatinya, "apa benar yang sudah ku lakukan?" ucap Ara dalam hati.
"gue takut buat mas Sean kecewa" Ara terus tenggelam dalam lamunannya hingga tak sadar ada seseorang sedang memeluknya dari belakang.
"Kamu masak apa? " ucap Sean sembari memeluk Ara dari belakang.
Ara terlonjak kaget dan sadar dari lamunannya, "eh mass udah bangun" ucap Ara.
"iyaa, kebangun karena bau masakan kamu enak banget" ucap Sean.
"Bisa aja, cuci muka dulu mas"
"iya saya mandi dulu ya"
"iya"
cup..
Sean mencuri ciuman di bibir Ara, dan lantas dia langsung melesat masuk ke kamar.
"MASSSSSSS ISH" teriak Ara.
***
Selesai dengan urusan makan, Sean dan Ara berkemas untuk menginap di rumah mertua Sean dan segera melaju ke sana.
"Assalamualaikum" ucap Sean dan Ara berbarengan saat tiba di rumah Ara.
"Waalaikumsalam, ehh mantu mama udah dateng" ucap Ayu saat melihat Sean dan Ara.
"Mantu nya doang nih yang di sapa" ucap Ara sewot.
Ayu beralih ke Ara " Ya engga dong, anak mama yang paling cantik apa kabar?" tanya Ayu sembari. memeluk anak perempuan satu - satunya itu.
"Baik mah" ucap Ayu.
"Papa mana mah? " tanya Ara.
"Papa sama abang lagi ketemu sama klien penting dari Malaysia, kalian istirahat aja dulu di kamar sekalian susun barang - barang kalian" Ucap Ayu.
Ara mengangguk "iya mah"
"Ayok mas" ajak Ara
Sean mengangguk mengiyakan "Ma kita ke atas ya" ucap Sean
"iya sayang" jawab Ayu.
Ara dan Sean sudah di kamar yang dulu di tempati oleh Ara.
"Ara" ujar Sean
"apa?" jawab Ara
"Saya penasaran kamu kenapa akhir - akhir ini bahas anak mulu" ujar Sean menatap Ara.
"Ya kenapa emang? bapak ga mau ? Yaudin" ucap Ara.
Ara yang tiba - tiba gugup di tanya seperti itu hanya bisa menjawab asal - asalan.
"ya saya pengen tau aja, siapa tau kamu udah ngebet banget mau punya anak dari saya" ujar Sean enteng.
__ADS_1
"Dih pede bener, lagian ngapa si pak repot amat" ujar Ara cuek.
"Ya jelaslah saya repot kan saya bapaknya" ujar Sean.
"iya juga sih" gumam Ara.
"Ayo jawab"
"jawab apaan"
"Ya itu tadi, kamu udah pengen punya anak ?" tanya Sean.
Ara berfikir sejenak, dia bingung dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi dia pengen punya anak, tapi di sisi lain dia juga belum siap untuk mengurus anak saat sedang kuliah.
"Kenapa diem, susah amat jawabnya kaya berasa lagi jadi host Who Wants to Be A Millionaire" ujar Sean.
Ara menatap Sean "emang bapak ga pengen punya anak?" tanya Ara.
Sean mendengus mendengar pertanyaan Ara, "Ya maulah, nanti siapa yang mau nerusin usaha saya kalo ga punya anak" ujar Sean.
"Dih gaya - gaya an, padahal sendirinya aja belum nerusin usaha papa" ucap Ara.
"Ya sabar, nanti kamu susah ketemu saya di kampus kalau saya sudah mulai ngurus perusahaan papa" ujar Sean
"Bagus deh kalo bakal jarang ketemu di kampus" gumam Ara.
"Apa kamu bilang? " tanya Sean
"enggak enggak" Ara menggeleng.
"saya kurangi uang jajan kamu" ancam Sean
"eh jangan dongg pak, uang jajan udah dikit malah di kurang - kurangin" ucap Ara menggerutu
"dikit kamu bilang? uang yang saya kasih cukup untuk 8 keturunan di bilang dikit? " ucap Sean.
"galak bener dah" ujar Ara.
"iya lupaaa" ujar Ara. .
"Mas"
"emm" gumam Sean
"kalo mau nerusin usaha mas, berarti anaknya harus cowok ya?" tanya Ara.
"iyaaa"
"Kalo anak nya cewek? " tanya Ara.
"Ya buat lagi sampe dapet cowok" ucap Sean enteng.
"Set dah enteng bener tu mulut, di kira melahirkan anak gampang, kaya ngupil" ujar Ara.
"Makanya ayo" ucap Sean
"Ayo apaan, maen ayok ayok aja" ujar Ara beringsut
"buat anak" ucap Sean enteng
"gamau" tolak Ara
"kamu nolak saya"
Sean melangkah maju "Stop! " ucap Ara sambil merentangkan tangan nya kedepan.
"kamu ngapain sih, sini"
__ADS_1
"kaga mau guaa" ucap Ara
"kamu ngomong sama suami pake gua gua, dosa tau" ujar Sean.
"Tenang Aja mas, tahun depan pasti sungkem" ujar Ara.
"kenapa?" tanya Sean
"kan lebaran" ucap Ara.
"iyain biar cepet" ujar Sean
"gaul bener sekarang perasaan" ujar Ara
"kamu aja yang baru tau"
"masa sih" ucap Ara.
"iya sayangg" ucap Sean
Mereka menyusun baju baju yang mereka bawa untuk menginap beberapa hari di rumah orang tua Ara.
"mas" panggil Ara
"emm" gumam Sean.
"nanti kalo mas udah ngurus perusahaan, berarti mas berhenti ngajar dong" ujar Ara
"mungkin iya, mungkin juga engga"
"kenapa gitu, plin plan banget" ucap Ara
"saya masih punya tanggung jawab untuk menyelesaikan mata kuliah saya di kelas kamu semester depan, baru setelah itu saya resign dari kampus" ujar Sean.
Ara ber oh ria mendengar penjelasan Sean.
"Kamu jangan rindu sama saya" ucap Sean
"apa banget deh, di rumah juga ketemu terus" ujar Ara
"kali aja kamu rindu di usir dari kelas" ujar Sean
"ga banget" Ara memutar bola matanya malas.
"Kalo nanti saya udah resign, nanti kamu jangan deket - deket sama Marsya" ujar Sean.
"Arsya mas" Ara jengah mendengar Sean selalu salah menyebut nama Arsya.
"iya itulah pokoknya, lagian perasaan kamu ga terima banget kalo saya salah nyebut nama Pasya" ucap Sean.
"Serah deh mas, bebas mau panggil apa aja" ucap Ara menyerah.
"Lagian mas cemburuan banget sama Arsya" ujar Ara
"iyalahh jelas, kamu istri saya. Istri orang di tembak tembak" ucap Sean sewot.
"tapi kan dia ga tau mas" ucap Ara.
"bodo amat deh, pokoknya saya ga suka kalo dia deketin kamu terus" ujar Sean
"iya mass, elah ribet bener deh kalo urusan Arsya" ucap Ara.
"emm.. bagus" ucap Sean.
"iya bagusss, bagus kalo mas diem" ucap Ara
"apa kamu bilang?" tanya Sean.
__ADS_1
"engga enggak mas maap" ucap Ara.
***