
Mereka berdua berjalan melewati jalan yang gelap. Setelah cukup lama menyusuri jalan tersebut, mereka berdua melihat cahaya yang terang. Mereka berdua berlari ke arah cahaya tersebut dan mereka telah berhasil keluar dari jalan tersebut.
"Apa kita sudah keluar? Di mana ini kak? Bukannya sekarang masih malam hari? Kenapa di sini sudah siang?" tanya Evan.
"Sepertinya kita berada di dalam hutan yang sering kita masuki, aku tidak tau kenapa di sini sudah siang," jawab Ivan.
"Tapi, sepertinya ini lebih dalam dari yang sering kita masuki," ucap Ivan menjelaskan.
Mendengar perkataan Ivan, kemudian Evan mendekat ke kakaknya, "Bukannya kita akan bertemu monster jika kita memasuki hutan ini sangat dalam..." Evan ketakutan.
"Tenang saja, aku akan melindungimu." Ivan menenangkan adiknya.
Mereka berdua memutuskan untuk beristirahat setelah berjalan cukup lama, "Baiklah, kita beristirahat sebentar disini," ucap Ivan.
Saat mereka sedang beristirahat, tiba-tiba monster mendatangi mereka.
Groaar....
Mendengar suara tersebut mereka berdua sontak kaget dan langsung bangun untuk kabur.
"Kakak, itu suara monster serigala. Ayo kita kabur dari sini!"
Kemudian mereka segera lari menjauh dari monster serigala. Monster serigala hanya berjarak beberapa ratus meter dari mereka, tapi karena monster itu berlari sangat cepat, mereka mudah terkejar.
Saat mereka sedang berlari, tiba-tiba Ivan terjatuh karena ranting pohon yang menghalangi. Dia juga menjatuhkan benda yang di berikan oleh ibunya. Melihat kakaknya terjatuh, Evan segera kembali untuk membangunkan kakaknya yang terjatuh.
"Kakak, ayo bangun." Evan menarik tangan kakaknya.
Grrrooarr...
Monster serigala hanya berjarak beberapa meter lagi dari mereka. Saat monster serigala sudah semakin dekat, mereka menutup wajahnya dengan tangannya dan menutup kedua matanya karena ketakutan akan di terkam oleh monster serigala tersebut.
"Ahhh, apa kita akan mati!!! teriak mereka berdua ketakutan.
Tapi mereka tidak merasa kesakitan karena monster serigala tersebut. Kemudian mereka membuka matanya, ternyata monster serigala itu tidak lagi di depan mereka.
"Apa aku sudah mati? Kenapa aku tidak merasa kesakitan waktu di serang monster serigala itu?" pikir Ivan yang sedang ketakutan.
Tiba-tiba terdengar suara Evan yang memanggilnya, "Kakak...kakak...ayo bangun...Monster serigala itu tidak menyerang kita." Evan berusaha membangunkan kakaknya.
"Apa kakak pingsan?" pikir Evan.
Mendengar suara adiknya, Ivan segera membuka matanya.
"Apa kita telah mati?" Tiba-tiba Ivan bertanya setelah membuka matanya.
"Tidak kakak, kita belum mati. Monster serigala itu tidak menyerang kita. Monster itu berlari seperti ketakutan karena sesuatu," ucap Evan menjelaskan.
Ivan menghela nafasnya, "Ahh syukurlah...tapi kenapa monster itu tidak menyerang kita? Apa dari arah monster serigala itu berlari ada monster yang mengerikan?" Ivan bertanya-tanya.
"Kalau begitu ayo kita pergi dari sini!" ucap Evan.
"Tunggu, aku mau mengambil benda pemberian ibu dulu."
Kemudian Ivan berjalan kearah benda itu terjatuh untuk mengambilnya. Saat di hendak mengambilnya, tiba-tiba seorang pria datang dan mengambilnya terlebih dahulu.
Ivan terkejut dengan kedatangan pria tersebut. Tapi kemudian pria tersebut mengembalikan benda yang diambilnya.
"Ini punyamu kan!" ucapnya sambil memberikan benda tersebut.
__ADS_1
"Ahh iya, makasih." Ivan langsung berlari menjauh dari pria tersebut.
Melihat Ivan berlari menjauh pria tersebut kemudian bertanya, "Kenapa kamu lari? Apa aku semenakutkan itu?"
"Apa paman kelompok pembunuh itu? Tolong jangan bunuh kami...jika tidak bunuh saja aku, jangan adikku," ucap Ivan memohon.
"Apa yang kau bicarakan, anak kecil? Aku tidak tau maksudmu," ucap pria tersebut.
"Bukannya paman mau membunuh kami?"
"Tentu saja tidak, aku hanya ingin bertanya. Dari mana kamu mendapatkan benda itu?"
"Ini pemberian dari ibuku."
"Di mana ibumu sekarang? Aku ingin menemuinya."
"Ibuku, di bunuh oleh para petualang semalam."
"Apa! Aku turut berduka atas kematian ibu kalian." Pria tersebut terkejut mendengar kabar tersebut.
"Iya, terimakasih paman."
Kemudian Ivan memanggil adiknya, "Evan kemari! Paman ini bukan kelompok pembunuh itu!"
Evan mendatangi kakaknya. Tiba-tiba pria tersebut meminta untuk memberikan benda tersebut. "Boleh paman meminta barang itu? Paman membutuhkannya."
"Untuk apa paman menginginkan benda ini? Ini pemberian terkhir dari ibuku, jadi aku tidak akan memberikannya," jawab Ivan.
"Baiklah begini saja, kamu berikan benda itu dan aku akan mengabulkan 1 permintaanmu."
"Kalau begitu aku ingin membalas dendam!"
Tiba-tiba Evan menghentikan kakaknya, "Tunggu kakak! Ini pemberian terakhir dari ibu, jangan kamu berikan pada paman itu."
"Tapi kak....."
"Baiklah aku akan memberikanmu potion ini." Pria tersebut mengambil sebuah potion.
"Potion ini dapat meningkatkan kekuatanmu, Ini cukup untukmu membalas dendam. Tapi ini hanya dapat bertahan selama 2 jam saja dan efek sampingnya kamu tidak akan bisa menggerakan tubuhmu selama 1 minggu." Pria tersebut menjelaskan.
"Baiklah, aku akan memberikannya benda ini." Ivan memberikan benda pemberian ibunya.
"Sebelum aku pergi, aku akan menceritakan tentang teman petualangku, kemungkinan besar itu adalah ayah kalian," ucap pria tersebut.
"Apa! Ayah kita? Apa itu benar paman?" tanya mereka berdua.
"Ya itu benar, dulu ayah kalian sering berparty denganku dan selalu membawa benda ini. Tapi sewaktu terakhir berparty denganku dia bilang bahwa dia sudah menikah dengan wanita dari desa yang sangat jauh dan dia sudah mempunya 1 orang anak dan akan segera memiliki 1 anak lagi...." Pria tersebut bercerita.
"Hey, kemana benda yang selalu kau bawa itu?"
"Ahh, aku sudah memberikannya ke istriku."
"Apa! Kau sudah menikah? Kenapa kau tidak mengundangku?"
"Ahh maaf, tempat itu sangat jauh jadi aku tidak bisa mengundangmu."
"Jadi, bagaimana kabar istrimu sekarang?"
"Dia sedang hamil, aku akan segera menemuinya setelah menyelesaikan misi ini."
__ADS_1
"Jadi kamu akan memilki seorang anak...."
"Tidak, aku sudah memilki seorang anak dan akan memilki 1 lagi hahahah."
"Hehh, jadi kau akan memilki 2 anak lagi...."
Tapi saat menjalankan misi tersebut seseorang berkhianat dan membawa para petualang lainnya untuk menyerang kami berdua dari belakang.
"Aku dapat kabur dari mereka karena ayah kalian mengulur waktu untukku kabur."
"Setelah aku berhasil kabur dari mereka, aku kembali menemui ayahmu tapi dia sudah tiada." Pria tersebut selesai bercerita.
Mendengar cerita tersebut Ivan menjadi sangat marah dan langsung pergi ke desanya untuk membalaskan dendam.
"Terima kasih paman telah bercerita tentang ayahku, kalau begitu kami pergi dulu," ucap Ivan berpamitan.
"Ahh baiklah, kalau kalian ingin keluar dari hutan ini lewat sana." Pria tersebut menunjukkan arahnya.
Kemudian mereka berjalan melewati jalan yang di tunjukkan oleh pria tersebut dan ternyata cukup dekat dengan desanya. Setelah cukup dekat dengan desanya Ivan miminta adiknya untuk menunggu di luar desa.
"Kamu tunggu disini, aku akan segera kembali," ucap Ivan.
Setelah itu Ivan menemui para petualang dan membunuh mereka semua dengan bantuan potion yang di berikan oleh seseorang di hutan. Ivan mengamuk setelah meminum potion itu dan menghancurkan seluruh desa. Dia berhasil membalaskan dendam ibunya. Setelah 2 jam mengamuk, Ivan akhirnya pingsan karena efek samping dari potion itu. Dia tidak dapat menggerakkan tubuhnya selama 1 minggu. Dia di bantu oleh adiknya saat dia tidak bisa menggerakan tubuhnya.
Sejak kejadian itu, Ivan mulai berlatih dengan sangat keras agar dapat menjadi seorang petualang yang kuat. Yang awalnya dia ingin menjadi seorang petualang yang melindungi banyak orang tiba-tiba keinginannya berubah. Keinginan dia sampai sebelum dia meninggal hanyalah membalas dendam kepada para petualang. Dia menjadi sangat membenci para petualang. Walaupun dia telah membalas dendam kepada para petualang yang telah membunuh ibunya, kebenciannya tetap tidak menghilang.
Kebencian itu semakin menguat setelah mendengar cerita dari teman ayahnya, bahwa ayahnya adalah seorang petualang juga. Ayahnya terbunuh saat menjalankan misi bersama dengannya karena salah seorang anggota party petualang mengkhianatinya.
Setelah Ivan merasa sudah cukup kuat, dia bersama dengan adiknya menuju kota argo dan mendaftar menjadi seorang petualang.Mereka berdua saat ini berumur 16 tahun. Ivan dan Evan mendaftar menjadi seorang bukan semata-mata untuk berpetualang ataupun melindungi banyak orang, tetapi dia ingin menghancurkan petualang di kota itu.
Ketika sampai di kota Argo, dia segera menuju ke guild petualang dan mendaftarkan diri menjadi seorang petualang. Ivan sangat bersemangat ketika sudah mendaftar menjadi seorang petualang karena akhirnya dia dapat menghancurkan para petualang.
Sebenarnya Evan sudah menasehati kakaknya agar dia tidak melakukan hal itu selama bertahun-tahun, tapi tetap saja kakaknya sangat keras kepala.
"Kakak apa kita akan melakukannya? Aku mohon kak, kakak jangan melakukan itu," ucap Evan.
"Kamu itu! Selalu menasehatiku setiap waktu! Apa kamu tidak capek! Aku tetap akan melakukannya walaupun kamu tidak ikut!" bentak Ivan
Akhirnya Evan hanya mengikuti rencana kakaknya saja. Walaupun ibunya di bunuh oleh para petualang, dia tetap tidak membenci para petualang seperti kakaknya. Dia tetap ingin menjadi seorang petualang yang melindungi banyak orang.
Tapi keinginan itu tidak dapat dilakukannya karena keinginan kakaknya. Dia sebenarnya berniat untuk menjauh dari kakaknya tapi dia teringat dengan perkataan terakhir ibunya bahwa, mereka harus terus bersama.
Dia tidak dapat melakukan apapun untuk melakukan keinginannya, dia akhirnya selalu ikut dengan rencana kakaknya. Dia selalu menasehati kakaknya saat kakaknya melakukan keinginannya. Dia berharap kakaknya dapat berhenti dari keinginannya tersebut.
Suatu hari, kami mengajak salah seorang petualang untuk berparty dengan mereka untuk menghancurkan petualang itu, tetapi gagal karena petualang tersebut ternyata sangat kuat. Mereka hampir terbunuh oleh rencananya sendiri. Ivan akhirnya mengetahui bahwa dirinya itu belum cukup kuat. Pada akhirnya dia hanya mengincar para pemula saja.
Kami telah menghancurkan cukup banyak pemula setelah beberapa tahun menjadi petualang. Ivan akhirnya menjadi ketagihan melakukan keinginannya. Evan yang selalu menasehati kakaknya akhirnya menjadi putus asa karena nasehatnya tidak didengarkan sama sekali oleh kakaknya. Tapi Evan tetap berharap agar kakaknya berubah.
Kami awalnya melakukan hal itu hanya berdua saja, tetapi tiba-tiba 2 orang petualang datang dan bergabung dengan mereka. Mereka juga memiliki alasan untuk mwnghancurkan para petualang. Mereka ternyata juga sangat membenci para petualang karena keluarga mereka di bunuh oleh para petualang juga.
Pada akhirnya Ivan menerima mereka berdua untuk bergabung. Mereka terus menerus mencari para pemula untuk di ajak party dan melakukan rencananya. Tapi ada juga yang menolak karena mereka mendengar kabar dari temannya bahwa mereka sering meninggalkan para petualang saat menjalankan misi sehingga petualang itu tidak pernah kembali lagi.
Sampai pada akhirnya kami terjebak oleh rencana kami sendiri setelah mengajak seorang healer berparty. Mereka semua terbunuh oleh komandan Goblin kecuali Evan. Dia di selamatkan oleh seorang healer yang mereka ajak. Ternyata healer tersebut ternyata sangat kuat sampai bisa mengalahkan Komandan Goblin sendirian.
Dan saat ini Evan terbunuh oleh Komandan Goblin karena berusaha melindungi seseorang saat berperang melawan jutaan Goblin.
Sebelum kematiannya, dia berkata dalam hatinya, "Aku akan menyusul kalian Ibu, kakak.
Aku baru saja melakukan keinginanku yang sejak kecil ingin aku lakukan. Walaupun itu hanya satu orang saja. Tapi aku tidak tahu apakah dia akan selamat atau tidak. Aku harap dia akan baik-baik saja."
__ADS_1
#Sangkyuuuu
Jangan lupa like yaaaa