
"Apa yang terjadi disini? Mengapa bisa seperti ini?" Celine terjatuh setelah melihat keadaan kota Argo yang sudah hancur sepenuhnya, bahkan sampai membentuk kawah yang sangat besar.
Para petulangan yang belum pernah pergi ke kota Argo bertanya kepada petualang yang disebelahnya.
"Dimana kotanya?"
"Ya, dimana? Aku sudah tidak sabar untuk membantai mereka semua!"
"Ya, aku sudah tidak sabar!"
"Kalian semua diamlah!" Petualang yang memimpin para petualang tersebut menghentikan mereka.
Sontak mereka langaung diam mendengar perkataan tersebut, "Ayo kita kembali ke kota!" lanjut pemimpin tersebut. Kemudian dia mengawali pergi dari tempat itu.
Sementara para petualang lain yang tidak melihat keadaan kota Argo merasa kebingungan dengan perintahnya. Mereka baru saja sampai tetapi sudah diperintahkan untuk kembali.
"Mengapa kita kembali? Bukannya kita akan membunuh pasukan goblin?" Petualang yang tidak melihat keadaan kota Argo bertanya.
Para petualang yang sudah melihatnya langsung mengikuti pemimpin mereka pergi. Sambil berjalan mereka juga menjawab pertanyaan tersebut.
"Kota itu sudah hancur dan tidak ada apapun lagi di sana. Kalian bisa melihatnya sendiri."
Satu persatu mereka melihat keadaan kota tersebut. Mereka terkejut setelah melihatnya.
"Ini mengerikan!"
"Siapa yang melakukan ini? Goblin tidak mungkin memiliki kekuatan seperti ini."
Mereka semua kemudian ikut kembali ke kotanya dan hanya tersisa Celine saja yang masih terpuruk atas kejadian yang menimpa kota.
Walaupun kota itu bukan tempat kelahirannya, kota itu masih memiliki banyak kenangan yang mendalam bagi Celine selama menjadi petualang.
Bahkan kedua anggota partynya terbunuh karena kejadian ini. Dia mengingat kembali kenangan-kenangan yang dia dapatkan di kota tersebut. Dan air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.
Setelah beberapa saat dia mengusap air matanya dan bertekad untuk menjadi petualang yang kuat sehingga dapat melindungi banyak orang.
"Aku berjanji akan menjadi petualang yang terkuat! Aku berjanji akan membalaskan dendam kalian kepada monster yang telah menghancurkan kota kalian," teriaknya.
Sementara itu, aku masih belum menemukan seseorang di hutan itu. Aku masih mencari keberadaannya bersama Komandan Pasukan Raja Iblis.
"Setelah dipikir-pikir lagi, apa aku tidak berlebihan menghancurkan kota Argo seperti itu?" pikirku.
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu."
Komandan Pasukan Raja Iblsi melirik ke arahku dan bertanya, "Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau berpikir untuk lari dariku?!"
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan kabur! Karena aku juga penasaran mengapa kau ingin membawaku menemui Rajamu itu."
__ADS_1
Beberapa menit berjalan, mereka menemukan sebuah goa yang didalamnya sangat gelap jika dilihat dari luar.
"Apa kita akan masuk ke dalam?" tanya Komandan Pasukan Raja Iblis.
"Yah, mungkin saja orang itu ada di dalam sana. Tapi aku tidak yakin kalau dia akan tinggal di goa yang gelap seperti itu."
"Kalau begitu ayo masuk!" ajaknya.
"Tunggu sebentar!" Aku menghentikan langkahnya.
"Detektor!"
"Aneh, skill ini tidak dapat berfungsi mendeteksi sesuatu di dalam goa itu?" batinku.
"Baiklah, ayo kita masuk!" Aku berjalan ke depan hendak memasukinya.
"Ahhh, ya... baiklah."
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam. Di dalam ternyata sangat gelap, bahkan mataku tidak bisa melihat apapun.
Tetapi tiba-tiba cahaya yang cukup terang muncul. Cahaya itu adalah sebuah bola api yang di buat oleh Komandan Pasukan Raja Iblis. Bola api itu melayang di atas telapak tangannya.
Suasana di dalam sangat sunyi. Tidak ada suara apapun selain langkah kaki mereka berdua.
Beberapa menit setelah berjalan, sebuah cahaya yang menyilaukan mulai terlihat. Mereka mempercepat jalan mereka karena sudah merasa bosan dikegelapan.
Boomm!
Boomm!
"Sial! Siapa yang menyerangku? Aku bahkan tidak merasakan kehadirannya."
"Tidak, kesadaranku mulai menghila—" Suaraku perlahan mulai menghilang.
Pukulan itu membuat mereka berdua pingsan di tempat itu juga. Monster itu menarik kaki keduanya memasuki cahaya tersebut dan membawanya kesuatu tempat.
Keesokan paginya mereka bangun dengan tabuh yang sudah terikat di sebuah batang kayu pohon.
Komandan Pasukan Raja Iblis mencoba untuk melepaskan diri dari ikatannya tetapi tidak berhasil. Kemudian dia mau menggunakan sihirnya untuk menghancurkan tali yang menginkatnya, tetapi energi sihirnya tidak dapat keluar.
"Sial! Tali apa ini? Tali ini membuatku tidak bisa mengeluarkan energi sihirku!" ucapnya kesal.
Sedangkan aku tidak terlalu mempedulikan ikatannya. Aku hanya melihat sekitar untuk mencari tahu siapa yang telah mengikatnya.
"Aku dapat dengan mudah keluar dari ikatan ini karena yang kugunakan bukanlah sebuah sihir, melainkan skill yang diberikan oleh system."
"Tetapi aku akan menunggu orang yang mengikatku kemari," batinku.
__ADS_1
Tidak lama kemudian seorang pria tua dengan jenggot panjang berwarna hitam bercampur putih datang menemui mereka berdua.
Komandan Pasukan Raja Iblis langsung mengancamnya agar melepaskan ikatannya, "Kau! Lepaskan aku! Kenapa kau mengikatku! Kalau tidak aku akan membunuhmu!"
Pria tua itu tertawa kecil mendengar ancamannya. Kemudian dia berkata, "Kamu bahkan tidak bisa keluar dari ikatan itu, bagaimana bisa kamu membunuhku?"
"Sial! Siapa kau sebenarnya? Apa tujuanmu menangkapku?" tanya Komandan Pasukan Raja Iblis.
"Hey, yang dia tangkap bukan kamu saja. Lihatlah aku ada disini... apa kau melupakanku?" Aku menyela pertanyaannya.
"Hahaha, seharusnya aku yang bertanya padamu... mau apa Komandan Pasukan Raja Iblis datang kesini? Apa kau mau berulah disini?"
"Bagaimana kau tahu identitasku?" Dia terkejut identitasnya sebagai Komandan Pasukan Raja Iblis diketahui.
"Karena aku sudah pernah melihatmu bersama Raja Iblis dan Komandan yang lainnya," jawab pria tua tersebut.
Pria tua itu kemudian berbalik melihatku dan berkata, "Dan kau manusia menjadi bawahan Ras Iblis, aku harus membunuhmu." Dia mengeluarkan energi sihir yang kuat di telapak tangannya dan langsung menyerangku.
Boom!!
Ledakan kecil terjadi hingga membuat tempat disekitnya berantakan. Tetapi aku baik-baik saja karena menggunakan Skill Gelombang Penghancur sebagai pertahanan.
Pria tua itu mengangkat kedua alisnya karena terkejut serangannya tidak berhasil membunuhku.
Kemudian dia menyerangku kembali dengan kekuatan yang lebih kuat tetapi tetap dapat ditahan oleh skill milikku.
"Bagaimana kau bisa menggunakan sihir pertahanan yang sangat kuat? Seharusnya tali itu bisa menyerap energi sihir yang kau gunakan."
"Kakek tua, tali ini tidak cukup kuat untuk mengikatku. Aku sudah melepaskan diri ketika kau berbicara dengan dia."
"Apa! Bagaimana bisa?!"
"Sudahlah, kakek tua. Lagian ini hanya salah paham saja. Aku bukan bawahan Ras Iblis. Aku kesini hanya untuk mecari seseorang dan dia mengikutiku kesini," jelasku.
"Siapa yang kau cari?"
"Seseorang memberiku surat ini untuk diantarkan ke seseorang Hutan ini." Aku menunjukkan suratnya.
"Ahhh, ternyata begitu... rupanya aku salah paham. Cepat berikan surat itu!"
"Kenapa aku harus memberikannya padamu?"
"Surat itu dari Saint Mage dan orang yang kau cari adalah aku."
"Ohh, ternyata surat ini untukmu... kalau begitu kami akan pergi dari sini."
Aku melepaskan ikatan dari Komandan Pasukan Raja Iblis dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
__ADS_1