Overpowered Healer

Overpowered Healer
CHAPTER 62


__ADS_3

Mentari pagi telah menampakan diri dari ufuk timur. Sinarnya terpancar hingga memasuki kamar tempatku berbaring menahan rasa sakit.


Rasa sakit itu perlahan mulai menurun dan aku mulai tersadar bahwa hari sudah pagi. Aku perlahan melihat ke arah jendela kamar itu dan melihat mentari pagi yang sangat indah.


"Rupanya sudah pagi, tetapi rasa sakit ini masih ada namun tidak sesakit semalam," gumamku.


Aku beranjak bangun dari ranjang dan perlahan berjalan keluar dari kamar. Aku mencari dapur di rumah itu untuk mencari makanan karena perutku terasa sangat lapar.


"Sudah beberapa hari ini aku tidak makan, mungkin 2 hari tetapi aku tidak terlalu mengingatnya karena rasa sakit ini yang terus kuingat," gumamku.


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya aku menemukan dapur itu. Tetapi ketika melihat-lihat, tidak ada satupun makanan yang tersisa.


Kemudian aku beranjak keluar dari rumah untuk menemui pria tua itu untuk meminta makanan.


Seperti yang dilakukannya kemarin, dia sedang memotong kayu dan potongannya selalu sama. Itu adalah keterampilan yang menakjubkan bagiku.


Ketika melihatku, dia langsung bertanya tentang keadaanku, "Apa lukamu sudah sembuh?"


"Apa kau mengkhawatirkanku? Itu sungguh lelucon yang bagus. Sekarang aku meresa lebih baik dari pada semalam," jawabku sembari berjalan mendekat.


Tiba-tiba saja aku terjatuh karena tersandung kayu yang ada di tempat itu. Melihatku terjatuh, pria tua itu tetap tidak peduli dan terus melanjutkan memotong kayunya.


"Kakek tua sialan! Kau melihatku terjatuh tapi tidak mempedulikannya!" ucapku berdecak kesal.


"Itu salahmu sendiri karena tidak bisa berjalan dengan baik," ucapnya sembari memotong kayu.


"Itu karena kau memukulku sangat keras! Tubuhku terasa sangat sakit semalam!" ucapku keras.


"Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya kalau lukamu belum sembuh sepenuhnya, tapi kau memaksaku."


"Asal kau tahu saja, luka akibat pukulanku ini tidak bisa disembuhkan hanya dengan potion ataupun sihir penyembuh."


"Luka itu hanya bisa disembuhkan dengan kecepatan regenerasi tubuhmu saja," ucapnya menjelaskan.


"Jika kecepatan regenarasi tubuhmu cepat, luka itu semakin cepat disembuhkan. Kalau tidak ya, kau tahu sendiri..." lanjut pria tua.


"Sial! Setidaknya aku harus menahan ini selama 3 hari dengan kecepatan regenerasiku saat ini," batinku kesal.


"Ada apa? Kau kesal denganku? Kalau begitu kau harus menjadi kuat untuk mengalahkanku."


"Bukan itu, apa kau tidak memberiku makanan?! Kau mengurungku di tempat ini, tapi kau tidak memberiku sedikit makananpun!" teriakku.

__ADS_1


"Tidak ada makanan untukmu," jawabnya singkat.


"Sialan kau kakek tua! Apa kau mau membunuhku disini?! Aku belum makan apapun beberapa hari ini!" teriakku kesal.


"Kalau begitu aku akan mencarinya sendiri di sekitar sini!"


Aku berbalik dan beranjak pergi untuk mencari makanan, baik itu buah-buahan atau apapun yang bisa dimakan.


Tapi tiba-tiba pria tua itu menghentikanku, "Tunggu! Aku akan memberimu makan. Tapi kau harus membantuku memotong kayu-kayu ini. Kau tidak harus memotong sepertiku."


"Tidak perlu, aku akan mencari makananku sendiri!" Aku menolak tawarannya dan berpaling.


"Kau tidak bisa mendapat makanan apapun disini. Hanya aku yang bisa mendapatkannya," jelas pria tua.


"Aku tidak mempercayaimu!" tegasku.


Aku pergi meninggalkan pria itu dan kemudian mencari makanan. Aku berjalan disekitar daerah itu, banyak pohon-pohon yang rindang.


Udara di tempat itu begitu menyejukkan. Bahkan tubuhku yang semula terasa sakit terlupakan karena terasa nyamannya tempat itu.


Aku melihat sebuah pohon yang cukup besar dan aku berbaring di rerumputan bawah pjon itu dan memejamkan mataku menikmati sejuknya tempat itu. Di belakang pohon itu juga terdapat danau yang sangat jernih dan cukup dalam.


"Ini sangat nyaman... bahkan lukaku seperti terobati oleh tempat ini," gumamku pelan.


Di sing hari


Setelah selesai memotong semua kayunya, pria tua itu kemudian pergi untuk mencari keberadaanku.


"Kenapa dia keras kepala sekali. Padahal aku sudah mengatakan yang sejujurnya kalau dia tidak akan bisa mendapatkan makanan apapun di sini."


Pria tua itu berjalan mencari keberadaanku mengikuti arah pergiku sebelumnya. Setelah beberapa lama mencari akhirnya dia menemukanku.


"Hah, dia tertidur... bukannya kau ingin mencari makan?" ucapnya setelah melihatku.


Pria tua itu kemudian membangunkanku dari tidurku, "Hey, bangun! Bukannya kau ingin mencari makanan? Hey, ayo bangun!"


"Ahhh, kenapa kau menggangguku? Pergi sana! Aku masih mengantuk!" ucapku dalam keadaan setengah sadar.


Pria tua itu kemudian mengangkatku dan melemparkanku ke danau.


BYURR!

__ADS_1


Aku tersadar dan kemudian berenang naik ke atas permukaan danau. Setelah sampai di permukaan, "Kakek tua sialan! Kau terus saja menggangguku! Padahal aku tidak mengganggumu sedikitpun!" Aku berdecak kesal.


Pria tua itu tertawa terbahak-bahak melihatku ada di tengah danau. "Hahaha, rasakan itu! Salahmu sendiri tidur seperti itu!" ejek pria tua.


Saat aku hendak berenang ke tepi danau, tiba-tiba kakiku keram dan tubuhku kembali terasa sakit.


"Arggghhhh, kenapa disaat seperti ini!" Perlahan-lahan aku tenggelam di danau tersebut.


"Mengapa dia tidak muncul lagi di permukaan?" Pria tua khawatir.


Melihat diriku tidak menampakan diri terlalu lama, pria tua itu langsung menjeburkan diri di danau itu dan kemudian berenang ke tengah danau untuk menyelematkanku.


Aku tenggelam semakin dalam. Cahaya mulai menghilang dan kesadaranku mulai kabur. "Mengapa aku harus bertemu dengannya?" kataku menanyakan dalam hati.


"Padahal aku hanya ingin menghidupkan seseorang yang berharga bagiku, tapi aku malah mendapatkan kejadian seperti ini..." Kesadaranku menghilang.


Pria tua itu mengangkatku dan membawaku ke tepi danau. Dia mengeluarkan semua air danau yang masuk ke tubuhku dan akhirnya aku sadar.


"Apa aku telah mati?"


"Apa kau sudah sadar?" tanya pria tua dengan wajah yang berjarak beberapa cm dariku.


"Sialan kau Kakek tua!" Aku membenturkan kepalaku.


Bukk!


"Aduh, ternyata sakit juga." Kataku.


"Sialan kau Kakek tua! Kenapa kau tadi melemparku ke tengah danau? Aku hampir mati karenamu!"


"Maaf... maaf... sebagai permintaan maafku, aku akan membawakanmu makanan, bagaimana?"


"Sekarang kamu meminta maaf padaku, kemana perginya permintaan maafmu sebelumnya? Tapi aku tidak akan menolak dengan tawaranmu." Kataku.


"Tunggu di sini, aku akan mengambilkannya untukmu."


Pria tua itu kemudian pergi untuk membawakanku makanan. Sementara itu aku melepas bajuku dan menjemurnya di bawah terik matahari.


"Huhh, sepertinya di sini aku tidak perlu menggunakan topeng ini lagi." Aku melepaskan topeng yang kugunakan dan menyimpannya di inventory.


Setelah cukup lama menunggu, pria tua itu kembali dengan membawa banyak makanan. "Ini, makanlah semuanya agar lukamu cepat sembuh."

__ADS_1


Aku sedikit curiga dengan tujuannya memberiku makanan, tapi karena perutku sangat lapar aku tidak mempedulikannya.


__ADS_2