
Setelah aku selesai makanan yang diberikan oleh peia tua itu, dia mengajakku untuk mengobrol sebentar.
"Hey, mengapa aku menjebakmu disini? Mengapa aku tidak membiarkanmu pergi? Apa itu pertanyaan yang ingin kau tahu jawabannya?" ucap pria tua.
"Ya, mungkin saja. Kalau kau tidak ingin memberi tahuku, aku juga tidak peduli. Selama aku bisa mendapatkan Batu Kehidupan itu sudah membuatku senang," jawabku.
"Baiklah, aku akan memberi tahumu. Tapi sebelumnya apa aku boleh tahu apa yang Saint Mage itu berikan kepadamu?" tanya pria tua sembari melihat pemandangan danau yang begitu indah.
"Dia hanya memberiku sebuah potion untuk meningkarkan 50% statistik," jawab Ye Xiu yang juga melihat danau.
"Heh, dia hanya memberimu itu? Haihh, padahal dia sendiri yang telah meramal malahan aku yang harus bertanggung jawab," gumam pria tua sedikit keras.
"Apa maksudmu dengan ramalan?" tanyaku yang mendengar gumamannya.
"Di benua ini akan ada banyak kekacauan. Akan ada perang besar antara manusia dengan ras iblis. Banyak Kota-kota yang akan hancur oleh peperangan itu," jawabnya.
"Apa semengerikan itu? Apa hubungannya denganku? Aku tidak mempedulikan mereka, selama hal itu tidak merugikanku."
"Tidak, dalam ramalan itu kau akan memiliki hubungan, baik itu dengan manusia ataupun ras iblis tapi aku tidak akan memberitahu ramalannya."
"Jadi apa alasanmu mengurungku di tempat seperti ini untuk melatihku?" tanyaku.
"Ya, itu benar. Jadi kau harus bersungguh-sungguh untuk bisa menang melawanku," jawab pria tua.
"Tapi levelmu jauh di atasku. Aku tidak mungkin bisa mengalahkanmu."
"Hey nak, level hanyalah sebuah angka. Kalau levelmu 1000 tapi kau tidak memiliki keterampilan, itu sama saja dengan kau dengan level rendah." Pria tua menepuk pundakku.
"Levelmu sangattinggi, keterampilanmu juga sangat hebat. Bukankah itu akan menyiksaku? Mungkin aku butuh puluhan tahun di sini untuk berlatih agar bisa mengalahkanmu."
"Tidak, kau memiliki bakat yang hebat. Kau akan melampaiku tidak lebih dari 10 tahun," ujar pria tua.
"Apa itu hanya untuk membuatku senang?"
"Yah, begitulah."
Aku kemudian berdiri dan beranjak pergi meninggalkan pria tua itu sendirian. Kemudian aku pergi menuju tempat pria tua itu biasanya memotong kayu.
Setelah sampai, di sana masih banyak kayu yang belum terpotong. Aku mencoba untuk memotong dengan hasil yang sama seperti yang dilakukan oleh pria tua itu.
Tetapi hal itu sangatlah sulit. Aku telah memotong 10 kayu tetapi tidak mendapatkan hasil yang kuinginkan.
Hingga waktu mulai sore, aku telah memotong 4999 potong kayu tetapi masih belum mendapatkan hasil yang seperti pria itu lakukan.
__ADS_1
"Ahhh, sial! Mengapa ini sangat sulit!" teriaku dengan keras.
"Hya!"
PAKK!
Tanpa sengaja aku berhasil membuat potongan yang sama persi dengan yang dilakukan oleh pria tua.
Aku terjatuh ke tanah karena kelahan. Keringat sudah membasahi seluruh pakaian yang kukenakan.
"Haihhh, akhirnya aku berhasil." Aku berbaring di atas tanah dan melihat ke atas langit.
Sementara itu, pria tua sedang mengamatiku dari kejauhan berkata, "Ini lebih cepat dari pada yang kukira. Dulu aku membutuhkan waktu 10 hari untuk membuat potongan seperti itu, tetapi dia hanya membutuhkan waktu sehari saja."
Keesokan paginya.
Pria tua itu telah menyiapkan banyak batang kayu di tempat itu. Jumlahnya dua kali lebih banyak dari yang kemarin.
Aku kembali ke tempat itu dan melakukan kegiatan seperti kemarin. Aku terus memotong batang kayu itu hingga siang hari, tetapi belum ada potongan yang sempurna.
"Sial! Kemarin hanya keberuntunganku saja!" gumamku kesal.
Hingga satu tahun telah berlalu. Aku sudah bisa memotong kayu dengan potongan yang sempurna dan selalu sama.
"Aku kagum denganmu yang hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk menguasainya. Dulu aku membutuhkan waktu 3 tahun untuk menguasainya." Pria tua memujiku.
Pria tua tersebut mengubah danau pada tempat tersebut menjadi sebuah air terjun yang cukup tinggi.
"Latihan kedua adalah kau harus bisa membelah air terjun itu tanpa membasahi pedangmu."
Sontak aku terkejut mendengar latihan kali ini."Kakek tua! Bagaimana mungkin aku bisa menebas air terjun tanpa membasahi pedangku? Aku tidak bisa!" keluhku.
"Kau pasti bisa. Awalnya latihan pertamamu tidak bisa kau lakukan tetapi sekarang kau sudah menguasainya," ujar pria tua.
"Baiklah, aku akan mencobanya!"
Aku naik ke sebuah batu di depan air terjun itu dan kemudian menebas air terjun itu. Tetapi saat menebasnya, pedangku lepas dari tanganku karena kuatnya tekanan air terjun.
Pria tua yang melihatnya tidak bisa menahan ketawanya, "Hahahaha, kau kira semudah itu! Hahaha."
Aku merasa ada yang menertawaiku kemudian melihat ke arah pria tua yang sedang menggeliat di tanah karena tertawa.
"Sialan kau kakek tua! Kau menertawaiku!"
__ADS_1
"Aku akan menunjukkannya padamu!"
Aku mengambil kembali pedang yang jatuh tadi, kemudian menebaskannya lagi pada air terjun tersebut. Tetapi tetap saja, pedang itu lepas dari tanganku sewaktu menebasnya.
"Hahahahaha, apa yang kau lakukana." Tawa lria tua itu semakin menjadi-jadi.
"Kakek tua! Kau juga coba menebas air terjun ini! Jangan hanya bisa menertawaiku saja!" ujarku.
Pria tua itu berhenti tertawa, "Baiklah, aku akan mencontohkannya padamu!" Pria tua mendekat ke air terjun dan mengambil pedang milikku.
"Lihatlah ini!" Pria tua menebaskan pedang itu ke air terjun.
Slashh!!!
Air terjun itu terbelah menjadi dua karena tebansannya. Setelah itu aku melihat pedangnya dan sangat terkejut karena pedang itu tidak terkena air sedikitpun.
"Kakek tua! Bagaimana kau melakukannya?!" tanyaku penasaran.
"Aku hanya menebas saja, lihatlah lagi!" Pria tua kembali menebaskan pedangnya ke air terjun. Hal sebelumnya kembali terjadi.
"Kakek tua! Cepat ajari aku melakukannya!" pintaku.
"Aku akan mengajarimu setelah kau berhasil menebaskan pedangmu ke air terjun itu tanpa lepas dari tanganmu," ujar pria itu kemudian dia pergi meninggalkanku.
"Bagaimana aku bisa melakukannya? Kekuatanku saja tidak kuat untuk menebas air terjunnya."
"Mungkin aku harus meningkatkan kekuatan tebasanku agar dapat nelakukannya."
Aku menebas air terjun tersebut setiap hari dari pagi hingga sore hari. Di malam hari aku juga melatih kekuatanku.
Hingga 8 bulan telah berlalu. Sekarang aku bisa menebas air terjun itu menjadi dua, tetapi masih belum bisa menebas tanpa terkena air Terjunnya.
"Akhirnya aku bisa melakukannya!" ucapku dengan senang.
"Sudah berapa lama aku di tempat ini? Apa aku sudah setahun di sini?" Karena latihan, aku tidak mengingat berapa lama aku tinggal di tempat itu.
"Aku hanya ingat kalau aku mempunyai sebuah misi untuk membunuh Sword Saint."
Aku melihat ke layar statusku dan melihat waktu Questnya.
"Bagaimana mungkin aku sudah hampir 2 tahun di tempat ini! Waktu questku sekarang hanya tinggal 3 tahun lagi. Apakah itu cukup? Aku bahkan belum mempelajari teknik-teknik berpedang."
Tiba-tiba pria tua datang dan kemudian berkata, "Sepertinya kau sudah bisa melakukannya. Sekarang aku akan memberitahu cara untuk menebas tanpa terkena air terjunnya."
__ADS_1