Overpowered Healer

Overpowered Healer
CHAPTER 48


__ADS_3

Happy Reading


Kalau kalian suka like ya, karena like itu gratis.


Gak ada ruginya kalau kalian like wkwk.


Setelah aku berhasil mencabut pedangku dari perut Nina, aku langsung kembali memeluknya. Aku tidak tau mengapa aku melakukan itu, tapi aku rasa itu bukanlah hal yang buruk baginya.


"Apa tidak apa-apa aku memelukmu seperti ini?" Aku bertanya dengan nada rendah.


"Yah, tidak apa-apa, ini tidak buruk juga," jawab Nina dengan memejamkan matanya.


"Aku berharap selamanya bisa melakukannya seperti ini lagi, tetapi aku tidak bisa. Ini pertama dan terakhir kalinya aku memeluknya. Aku akan pergi lagi untuk selamanya."


Pikir Nina dengan sangat sedih di dalam hatinya tapi dia tidak menunjukkannya. Dia takut kalau aku akan bersedih.


Saat aku memeluknya, aku menyadari kalau aku kehilangan tangan kiriku sewaktu tidak terkendali.


"Sepertinya aku kehilangan tangan kiriku. Apa aku bisa mengembalikannya lagi seperti semula?" pikirku.


Saat aku memeluknya lebih lama, wajah Nina menjadi memerah. Tapi Nina tidak berusaha untuk lepas dari pelukanku.


"Sepertinya aku terlalu lama memeluknya, dan dia seperti tidak nyaman lagi," pikirku.


Kemudian aku melepaskan pelukanku dari Nina. Setelah itu aku bertanya tentang keadaannya.


"Nina apa benar kamu baik-baik saja? Bukannya kamu telah—"


"Yap, aku benar baik-baik saja kok. Aku tidak akan meninggalkamu." Nina memotong pembicaraanku.


"System apa benar dia baik-baik saja? Aku melihatnya sendiri kalau dia telah mati. Apa mungkin dia hidup kembali?" Aku bertanya pada system dalam pikiranku.


"[System sedang mengidentifikasi....system berhasil mengidentifikasi]"


"[Teman Anda sudah mati. Dia mendapat bantuan dari sang Dewi untuk hidup kembali]"


"[Waktu hidup teman Anda berakhir dalam 10 menit]"


Aku terkejut mendengar jawaban dari system. Nina mengatakan kalau dia baik-baik saja, sementara waktu hidupnya hanya 10 menit lagi.


Sebenarnya apa yang dipikirkannya? Kenapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya padaku? Apa dia takut kalau aku akan bersedih. Pikiranku kebingungan.


"Jangan berbohong padaku! Kau sekarang tidak baik-baik saja!" Aku sedikit menaikan nada bicaraku.


"Aku baik-baik saja kok, aku tidak mati. Aku ada di depanmu sekarang," Nina tetap tidak mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Sudah aku bilang jangan membohongiku! Aku akan berpetualang mencari cara untuk menghidupkanmu kembali!" Aku menaikan nada bicaraku.


"Jadi katakan yang sebenarnya padaku... aku mohon..." ucapku dengan nada rendah.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, aku benar-benar baik-baik saja," Tetap saja Nina tidak mau mengatakannya.


"Kenapa kamu tidak mau mengatakan yang sebenarnya padaku? Aku tahu kamu mendapat bantuan dari Dewi untuk hidup kembali... tapi itu hanya sementara saja," Aku menjelaskan kebohongannya.


Merasa kebohongannya terungkap, Nina menjadi sangat bersalah. Dia menundukkan kepalanya kebawah dan tidak segera mengatakan apapun padaku.


Nina tiba-tiba meneteskan air matanya dan menjelaskan semuanya padaku.


"Maafkan aku... aku tidak bermaksud membohongimu... tapi aku tidak ingin kamu mengkhawatirkanku. Sekali lagi aku minta maaf."


Kebohongan sering kali dilakukan oleh orang untuk menutupi kebenaran. Entah kenapa orang-orang melakukan kebohongan, yang pada akhirnya kebohongan itu akan selalu terungkap walau itu cepat ataupun lama. Akupun sudah melakukan kebongan sebelumnya.


8 menit berlalu


Nina sudah menjelaskan semuanya tentang bagaimana dia dapat hidup kembali setelah kematian. Saat menjelaskan itu Nina masih dalam keadaan menangis.


"Ini permintaan terakhirku sebelum aku pergi. Kamu boleh menolaknya kalau kamu tidak suka."


Nina mengusap air matanya dan mengatakan permintaannya.


"Baiklah, aku akan melepaskan topengku."


Aku melepaskan topeng Naga yang kugunakan dan memperlihatkan wajahku padanya.


"Sudah aku duga, kamu lebih keren kalau tidak memakai topeng. Tapi kamu pasti memiliki alasan untuk tidak menunjukkan wajahmu. Kamu yang seorang healer mempunyai kekuatan seperti itu pasti akan menjadi incaran banyak orang," ucap Nina memujiku.


"Ya, kamu benar. Aku ingin menghindari itu semua,"


Tiba-tiba tubuh Nina sedikit demi sedikit mulai menghilang.


"Sepertinya waktuku sudah tidak banyak lagi. Kamu sebelumnya mengatakan kalau ingin mencari cara untuk menghidupkanku, itu tidak perlu kamu lakukan. Aku tidak ingin membahayakanmu," uca Nina.


"Aku tetap akan mencari caranya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri," ucapku.


Apa aku benar-benar sudah berjanji pada diriku sendiri? Aku tidak mengingatnya, tapi aku akan mencoba mencari caranya.


Tubuh Nina semakin lama semakin menghilang. Sebelum menghilang sepenuhnya, Nina memegang wajahku dengan kedua tangannya dan mengatakan sesuatu padaku.


"Sebelumnya aku tidak berani untuk mengatakannya, tapi sekarang aku akan mengatakannya karena kita tidak akan pernah bertemu kembali. Aku *********** Selamat tinggal."


"Ya, aku juga..."

__ADS_1


"Mungkin..."


Sebuah cahaya muncul dari langit dan mengarah ke Nina. Nina menghilang setelah mengatakan itu.


Sebuah perasaan muncul dalam diriku. Aku tidak tahu perasaan itu, tetapi aku rasa ini adalah perasaan kesedihan dan kehilangan.


Sesuatu akan keluar dari kedua mataku. Aku tidak bisa menahannya lebih lama. Sebuah air mata kesedihan menetes untuk pertama kalinya dalam hidupku.


Rasa senang, bahagia, kehilangan, sakit, sedih, khawatir, itu sudah banyak dirasakan orang lain. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan senang, bahagia, sedih, kehilangan, hanya rasa sakit yang sudah kurasakan. Tetapi hari ini aku merasakan yang namanya kesedihan dan kehilangan.


Air mataku terus menerus menetes keluar, aku tidak menghentikannya dengan cara apapun. Setelah berlangsung cukup lama akhirnya air mataku berhenti menetes.


Aku kembali memakai topeng Nagaku dan berjalan menuju kota Argo. Saat aku berjalan cukup jauh, tiba-tiba aku tidak sadarkan diri. Aku terjatuh ke tanah.


Aku terbangun di sebuah tempat tidur yang tidak asing lagi, ya itu adalah kamar penginapanku sendiri.


Aku tidak tahu kenapa aku bisa ada disini. Seingatku aku sedang berjalan menuju kota Argo setelah itu aku tidak mengingat apapun.


"Kenapa aku ada disini? Apa yang terjadi padaku? Apa aku tidak sadarkan diri lagi?"


krukkk...krukkk... suara perutku berbunyi.


"Aku lapar. Aku mau turun dan makan terlebih dahulu," ucapku.


Kemudian aku turun kebawah dan memesan makanan pada Bu Ana.


"Aku pesan makanan seperti biasa."


"Baiklah." Bu Ana tersenyum.


Suasana di dalam penginapan sangat sepi. Tidak ada pelanggan lain selain diriku.


"Di sini sekarang sangat sepi. Mungkin karena banyak petualang yang terbunuh saat penyerangan itu. Sebelumnya aku bahkan sampai kesulitan mencari tempat duduk yang kosong," pikirku.


Setelah cukup lama menunggu, Bu Ana datang dengan membawa makanan yang aku pesan. Dia meletakkan makanannya di atas meja. Setelah itu Dia tiba-tiba duduk di depanku seperti ingin bertanya padaku.


"Cery, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu pingsan di jalan?" tanya Bu Ana.


"Itu karena aku kelelahan," jawabku dengan singkat.


Kemudian aku memakan makanan yang ada di hadapanku dengan lahap. Melihatku sedang memakan makanannya dengan lahap, Bu Ana tidak bertanya lagi padaku, dia menungguku sampai selesai makan.


#Sangkyuuu


Vote dong

__ADS_1


__ADS_2