Pacaran Setelah Menikah " Perjodohan "

Pacaran Setelah Menikah " Perjodohan "
BAB 15


__ADS_3

Hadi sudah memakai pakaian husus bahkan masker yang memang seharusnya hadi pakai, hadi tidak mengerti, mendadak hadi merasa kakinya mati rasa untuk mendekati tubuh fey yang hanya berjarak 5 meter tempatnya berdiri.


Dari mulut ruangan tadi hadi sudah cukup mendengar jelas suara detik monitor, ada juga alat untuk mendengar suara irama detak jantung, untuk mengetahui laju pernapasan, dan infus yang terpasang rapi di pergelangan tangan fey atau di kaki.


semua sudah tampak terlihat canggih dengan menggunakan alat - alat teknologi medis, mulai dari infus pump yang mengatur tetesan cairan yang awalnya sudah mereka atur .


Hadi menunduk diam, menarik napas sebanysk - banyak nya yang ia bisa.Kenapa bisa jadi begini? hadi sudah sangat mulai merasa nyaman dengan adanya kehadiran fey di dekatnya, wanita memang sangat menyebalkan, terus menerus mengusik dengan tingkah dan sifatnya yang aneh tapi....


Hadi merasa nyaman dengan tingkah fey, hadi benar - benar merasa nyaman, hadi merasa special karna ulah fey, tingkat emosi yang meluap hanya bisa fey yang menatur, hanya dia yang bisa.

__ADS_1


" Aku tidak akan menemuimu bocah nakal, sampai kau merengek meminta untuk pulang". suara hadi saat itu terdengar penuh ancaman, air mata hadi tidak menetes lagi, ia sudah tidak bisa menangis, sudah pada batasnya setelah beberapa jam hadi menangisi keadaan fey yang mandi dengan lumuran darah, cukup itu saja.


" Aku akan memanggil bee untuk mengigitmu, jika kau masih saja tidak mau bangun." lagi - lagi ancaman hadi yang berkumandang, tidak mendekat namun ia menatap. Mata hadi tidak pernah lepas dari pandangan paras wajah manis fey, isstrinya.


" Bee pasti merasa bersalah denganmu, bangun lah dan terima maafnya." suara hadi yang tadi terlihat mengancan kini mulai merendah, lebih keputus asaan yang lebih pekat lagi karen melihat tubuh fey yang kaku terpasang denga alat - alat medis yang menegerikan.


" Jangan pernah kau mau mencoba untuk tidak bangun, aku akan sangat amat membencimu, dan bee pasti akan mengigitmu." tubuh hadi berbalik menuju ke pintu keluar ruangan, menarik napas sekuat yang ia bisa dan menguatkan diri agar tidak berbalik menatap fey, hadi akan merasa goyah jika melihat wajah istrinya yang sedang di pasang alat bantu bernapas.


Hadi mengangguk pelan, berjalan mendekati tempat duduk yang tersedia, saat ini hadi membutuhkan tumpuan diri.

__ADS_1


" Bagaimana dengan orang yang sudah menabrak fey, bu? tanya hadi lirih pelan.


Semua mata menatap hadi. mulai ayahnya ibunya, bahkan ayah dan ibu fey yang ikut turut hadir.


" Kami sudah mengurusnya, yang terpenting sekarang dirimu dan fey, nak kau butuh istirahat." tangan keriput ibu hadi mengusap rambut anaknya.


" Aku tidak akan meninggalkan tempat ini, tanpa membawa fey." gumam hadi menutup mata lelah nya. Setidaknya ini sudah hampir pukul jam 7 malam, dan hadi belum sama sekali mengisi perutnya. Tadi siang ia pulang menghabiskan waktu istirahatnya bersama fey, membuatnya lupa untuk mengisi perut.


Sudah sangat dipastikan hadi hanya mengisi perutnya saat sarapan tadi pagi.

__ADS_1


" Ini salahku bu, tidak menjaganya dengan baik." kali ini air mata hadi menetes, kali ini hadi menangisi bukan untuk fey melainkan hidupnya, takdir lebih tepatnya.


" Ini bukan salahmu, bukan juga salah bee, atau salah si penabrak, semuanya sudah di takdirkan sayang." jangan hadi, ibunyapun ikut meneteskan air mata. Menarik tubuh hadi kedalam dekapan peluk sang ibu, sang ibu mengusap dengan lembut penuh kasih sayang dan kekuatan.


__ADS_2