Pacaran Setelah Menikah " Perjodohan "

Pacaran Setelah Menikah " Perjodohan "
BAB 24


__ADS_3

" Tuhan tidak tidur ibu." gumam hadi pelan, menggapai tangan fey istrinya, menggenggam nya dengan erat.


" Jika itu keputusanmu ibu mendukung saja sayang." tangan sang ibu hadi mengusap punggung anak nya itu dengan lembut, kembali seperti awal anak nya itu mulai lagi tidk mau keluar dari kamar inap anak menantunya itu, kejadian dan hal - hal yang sama seperti sebelum hadi di bius untuk tidur.


" Nak, kita makan dulu ya, setelah itu baru kita ganti perban di rangan mu itu."


Hadi mengangguk pelan, sang ibu sudah bergerak berjalan mendekati meja kecil tempat yang biasanya hadi suka menaruh pot bunga nya itu, dengan sangat lemas hadi berdiri di samping sisi ranjang fey, mengecup lembut dengan lama dahi milik istrinya sambil mengucapkan lirih kalimat - kalimat mesra ungkapan cinta dalam beberapa menit.


Sang ibu yang saat itu tidak sengaja mendengar bisikan hadi hanya bisa menahan tangis kesedihan yang dapat ia lakukan, ia melihat kalau anaknya itu sangat lah mencintai fey menantunya itu, ini adalah sebuah hal berupa kabar yang membahagiakan atau juga kabar yang sangat memilukan, mencintai di atas penderitaan yang hadi rasakan.

__ADS_1


" Sudah." tanya sang ibu saat hadi sudah bergerak berbalik menghadap ibu.


Hadi mengangguk kecil, jarum jm kini sudah menunjukan pukul jam 8 malam, wajar saja ibunta datang untuk melihat memasktikan kalau anak nya makan malam, yah memanf hadi akui jika memang bukan ibunya itu mungkin sampai saat ini mungkin hadi belum beranjak sedikitpun dari tempat duduk yang berada di sisi ranjang fey yang akan dihabiskannya untuk menatap istrinya tanpa henti - hentinya, kecuali dalam hal - hal yang sangat genting seperti ingin pergi ke kamar mandi misalnya.


" Ibu membawakan sup buntut sapi, masih hangat sangat, makan lah dan di habiskan selagi masih hangat,


" Iya ibu." gumam hadi yang sedang duduk di sofa yang disediakan rs, sang ibu sibuk untuk membuka kan bekal dan menyiapkan piring yang ada di atas meja untuk anaknya, sedangkan hadi sibuk berkutak membuka perban yang melilit di pergelangan tangan.


" Ibu suapi ya." hadi mengangguk pelan, menyetujui saran ibunya dengan tangan yang yang masih membuka perban - perban sialan.

__ADS_1


" Kalau nantj istrimu sadar, kalian harus honeymoon yang sangat panjang ya, ibu yang akan mengurus semuanya." dengan semangat yang menggebh - gebu sang ibu melontarkan rencananya, dia bukan hanya inginkan cucu, dia juga mengingin kan waktu hadi yang sudah terbuang sia - sia dapat tergantikan nanti.


" Iya bu itu pasti." setidaknya hadi selalu merespon kata - kata ibunya walaupun dengan suara yang sangat renda penuh rasa lelah.


" Ibu yakin, setelah fey sadar nanti ia pasti akan tambah cantik." sang ibu nya hadi bergumam pelan, melirik ranjang fey penuh dengan senyuman, kalau hadi sangat percaya kalau suatu saat nanti fey akan bangun, kenpa ia harus tidak percaya?


Memang ia yang menjodohkan hadi dengan fey saat itu, maka dari itulah ia harus mendukung segala keputusan anaknya, demi suatu kebahagiaan yang sedikit tertunda,


" Ha.... Ha..hadi." panggil ibu dengan tiba - tiba yang bernada rendah.

__ADS_1


Hadi melirik ibunya yang sedang menatapnya serius.


__ADS_2