
“Terima kasih takdir, sekarang
aku percaya kamu tidak sebahagia yang
aku pikirkan, permainan karena perintah tuhan yang ingin melihat seberapa sabar
dan kuat cinta kami.”
Sudah tiga hari aura hadi dan fey hening, atmosfir dari pertengkaran
mereka masih terasa jelas, bahkan hadi memilih tidur di ruang kerjanya dari
pada menemani fey yang setiap malam menangis. Wanita cengeng itu perlu ruang
untuk berpikir apa yang telah ia katakana. Enak saja menyuruh hadi menghamili
wanita lain, dai berpikir hadi itu pria jenis apa? Bahkan semasa lajangnya hadi
hadi tidak berniat mainmain tentang ranjang, hadi memegang teguh prinsip orang
timur yang tahu dosa dan percaya akan karma/
Pertengkeran hebat mereka belum tercium oleh ibu hadi maupun ibu nya fey, para tertua tertua masih asik dengan
dunia mereka masing masing. Hadi juga tidak ada niat untuk mengadu dan
sepertinya fey juga seperti itu, terbukti sudah tiga hari berlalu mereka tidak
ada saling buka suara, tapi para tetua tak kunjung meneror hadi, sepertinya fey
tidak mau memperbesar masalah.
“huh.” Hadi mengehla napas, melemparkan dokumen yang baru saja ia
periksa, mata hadi menatap jarum jam yang tergantung di dinding sisi kirinya,
sudah pukul dua dini hari dan hadi masih belum dapat memejamkan matanya,
kebiasaannya beberapa hari ini, insomnia!
“aku butuh penyegar.” Bisik hadi untuk diri sendiri, berdiri dan
melangkah keluar dari ruang kerjanya, sejenak hadi menatap pintu kamarnya dan
fey yang begitu sepi, ada geteran aneh di dadanya, miris.
Tidak ingin berlarut larut hadi langsung melangkah menuju dapur yang
dimana ada tubuh istrinya disana, dahi hadi berkerut tanda bingung, ini sudah
__ADS_1
jam dua dan istrinya ini masih belum tidur?
“hei.” Sapa hadi mengecup pelipis fey sejenak, wanita itu mendunga,
menatap wajah hadi yang terlihat lelah. Sapaan pertama dan suara pertama hadi
setelah tiga hari bungkam, fey hamper menangis lagi, demi tuhan ia rindu
suaminya.
“hadi.” Tahan fey saat hadi ingin melangkah meninggalkannya menuju
kulkas guna mengambil air mineral, tenggorokan hadi kering.
“ada apa?” Tanya hadi berbalik, menatap fey yang sudah menunduk lagi,
wanita itu memilin jari jarinya.
“bagaimana jika kita mengadopsi anak? Apa tidak masalah?” Tanya fey
sangat amat pelan, hadi diam, mencerna pertanyaan istrinya….hampir semenit hadi
bungkam yang membuat hadinmenahan napas takut.
“itu lebih baik dari pada perpisahan sayang.” Ucap hadi mendekati tubuh
fey, menarik tangan istrinya agar berdiri, mendekap penuh rindu, mencium penuh
berpisah tidak lagi terlintas dibenak fey.
“janji tidak akan membicarakan tentang perpisahan lagi ya sayang.”
“janji, fey tidak suka berpisah dari hadi.” Rengut fey mengucupi rahang
hadi, membawa jari jarinya membelai rambut hadi bahkan tak segan segan fey
mengecup dahi hadi berulang kali.
“itu baru istriku, sibocah menyebalkan.” Gumam hadi hamper meneteskan
air mata bahagia.
“tapi hadi, jujur pada fey, tiga hari yang lalu saat kita bertengkar,
apa hadi habis hmmm.” Fey sangat bingung juga takut untuk mengataknnya.
“apa? Katakana.” Perintah hadi tegas namun lembut.
“apa hadi hadi habis mabuk? Hadi pergi ke club karena sangat terbebani
__ADS_1
oleh aku?”
Dahi hadi berkerut, sejk kapan hadi main main ke club? Seumur hidup
tidak sekalpun hadi berminat ke tempat penuh dosa itu.
“no, aku tidak pernah sekalipun kesana sayang, suamimu ini suci, tidak
mungkin mau main main ke tempat seperti itu.”
“benarkah? Tapi saat fey hubungi ada suara wanita yang mengatakan hadi
pingsan karena terlalu mabuk.” Hadi membawa tubuh fey berjalanke kamar mereka,
berpikir keras, mencoba mengingat kejadian tiga hari yang lalu yang ia alami.
“ah, tiga hari hari yang lalu aku sedang meeting dan ponselku di pinjam
oleh klienku, tapi tidak mungkin dia yang mengangkat panggilanmu sayang, atas
dasar apa dia mengangkat dan memberikan informasi yang salah?” Tanya hadi
membuka pintu kamar mereka yang tadi ia tatap dengan miris.
“bukan maksud fey ingin menuduh, tapi fey rasa dia disuruh oleh rumi.”
“rumi? Tidak mungk_.”
“hadi, rumi itu tidak sebaik yang terlihat, percayalah dia wanita ular
yang bertopeng, tiga hari yang lalu itu dia datang ke sini, dia berkata dia
akan menerima hadi dengan senang hati jika fey meninggalkan hadi.” Potong fey dengan
mengalungkan kedua tangannya ke leher hadi yang baru saja menidurka tubuhnya ke
atas ranjang, pria itu menindih fey, menatap mata indah yang sangat ia
rindukan.
“dari pada kita berdebat yang beujung pertengkaran akan lebih baik kita
melepas rindu istriku, kau sudah berhasil membuat suamimu puasa tiga hari.” Bisik
hadi langsung mengecup pipi kiri fey, pindah ke leher hingga akhirnya ke bahu.
“boleh juga, siapa tahu kali ini tuhan mengabulkan doa kita.” Hadi tersenyum
kecil, sipolos penuh godaan tetap sama, untuk itu hadi tidak akan
__ADS_1
melewatkannya.