
Tahu akan keinginan fey itu apa, dengan segera hadi memegang tangan fey lalu melingkar kan di lehernya, tubuh istrinya mulai menghangat, tidak kaku namun lemah.
" Dokter, tindakan apa selanjutnya yang harus kita lakukan?" tanya ayah hadi yang menatap dokter yang sedari tadi menatab fey memerhatikan perkembangan tubuhnya, dokter raka namanya, masih muda mungkin masih sekitar berumur 26 tahun.
" Kita hanya menunggu tubuhnya merespon terhadap rangsangan, sebaiknya kita meninggalkan mereka sejenak, sepertinya pasien hanya memerlukan suaminya untuk saat ini." jelas raka tersenyum kecil menatap hadi dan fey yang terlihat tampak saling membutuhkan.
" Tidak ada pemeriksaan lebih lanjut." lagi ayah hadi bertanya dan dijawab hanya dengan gelengan kepala.
" Jika ia sudah bisa berbicara dan menggerakkan tubuh, baru kita periksa dengan keseluruhan, untuk sekarang biarkan aliran darahnya berjalan lancar, mari kita keluar."
__ADS_1
Dengan kompak nya ke empat tetua itu mengangguk secara bersamaan, senyum ibu nya hadi dan ibunya fey sepertinya tidak bisa luntur melihat kedua anak mereka saling mencintai, semua orang bergerak keluar, meninggalkan hadi dan fey yang masih asik berciuman lembut.
" Hmm, pak kalau anda sudah selesai saya sarankan bapak sedikit memijat tangan dan kaki pasien ya, agar cepat bisa di gerak kan, jika ia haus beri dia minum, tapi jangan terlalu banyak."
Hadi mengangguk pelan tanpa melepas ciumannya, memberikan ia bukti bahwa ia mendengarnya dengan jelas kalimat dokter raka yang diucapkan yang tersenyum sebelum keluar.
Akhirnya semua keluar, menyisakan hadi dan fey yang masih sibuk berciuman, lebih tepatnya hadi yang mencium, fey hanya bisa terdiam menikmati sapuan yang lembut.
Bibir hadi tertarik ke atas, tersenyum lembut penuh kebahagiaan lantas kembali mencium bibir mungil fey, hadi sangat merindukan istrinya sangat sangat merindukannya.
__ADS_1
Dapat hadi rasakan jari - jari fey yang berada di lehernya bergerak pelan seperti membelai, cukup lama waktu yang hadi butuhkan hingga akhirnya melepaskan ciuman keduanya, mengecup dahi fey lalu mengangkat tubuhnya untuk kembali duduk tegak.
Fey yang masih berbaring tersenyum lirih, menatap wajah hadi dengan mata berkacanya, oh jangan lagi dia menangis, sudah banyak air mata yang ia keluarkan sejak menatap wajah hadi, jika bisa sebenarnya fey sangat ingin memeluk hadi sekarang juga, namun tubuhnya sangat lah lemah.
" Kau haus sayang." tanya hadi mengusap sambil mengusap pipi fey pelan,lembut dan penuh dengan kasih sayang.
Fey mengangguk, dan dengan cepat hadi oun berdiri, pertama hadi membuat ranjang fey bergerak sedikit tegak dari setelan yang berada di ujung bawah ranjang, memposisikan kepala fey agar nyaman lalu mengambilkan fey segelas air putih yang terletak di tempat ibunya meletak kan wadah kotak bekal.
" Pelan - pelan dan sedikit saja ya minumnya, fey kini kembli mengangguk pelan dan lemah, masih mempertahan kan senyum lirihnya itu, tangan hadi bergerak menggerakkan bibir gelas ke bibir fey.
__ADS_1
Dua teguk dan selesai, hadi menarik gelasnya meletakkan ke atas meja lagi, setelahnya kembali duduk di samping ranjang, menarik punggung tangan istrinya itu lantas bergerak - gerak memijat pelan jari - jarinya.