
“Bagaimana bisa takdir sebahagia
ini mempermainkan kami?’
Matahari tersenyum remeh, mengek hadi yang kini sedang duduk di balkon
kamar hotelnya dengan kepala menunduk, kenapa harus selalu selalu fey? Kenapa harus
fey? Kenapa bukan dia saja yang bermasalah? Hadi tidak keberatan. Mentap kakinya, hadi ingin marah,
bebannya selalu tentang fey sang istri, yang dimana wanita itulah kelemahannya.
“hadi.” Hadi mendunga, menatap wajah bantal istrinya yang baru
terbangun.
“hai sayang.” Sapa hadi langsung menarik fey ke hadapannya, memeluk
pinggang fey, mempertemukan dagunya dagan perut sang istri, mata tajam tak
lepas menatap kegiatan fey yang sedang
mengucek mata, bahkan wanita ini menguap lebar.
“hadi tidak tiduer ya? Mata hadi seperti panda.” Fey langsung menangkup
rahang hadi, mengusap kantung mata lelah suaminya.
“aku belum mendapatkan maaf dari istriku, bagaimana bisa aku tidur?” Tanya
hadi pelan, hatinya meringis ngilu, apa respon fey jika tahu ia tidak bisa
tidur karena ucapan dokter kemarin yang selalu berdengung di telinganya.
“itu karena hadi sudah keterlaluan, fey tidak bohong jika rumi memang pelakunya, dia sengaja membuat fey
tersandung.” Kesal fey menggebu gebu, hadi mengangguk.
“iya, maaf ya istriku yang menyebalkan, suamimu ini yang salah.” Sebenarnya
hadi belum percaya atas ucapan fey, namun kali ini ia akan merespon positif
saja dari pada berujung bertengkar lagi lebih baik dukung saja ucapan istri
mungilnya ini.
“maafnya fye akan terima jika hadi menjelaskan apa perkataan dokter
kemarin.” Lagi dan lagi ini, sudah semalaman hadi mendengarnya, wanita ini
__ADS_1
benar benar pantang menyerah.
“dia berkata semua baik baik saja sayang, kita butuh uasaha lebih dan
sabar menunggu.” Bisik hadi mengecup kilat perut perut fey yang terlapisi
piyama tidur tipis.
“tidak bohong kan?”
“no.” mata fey menatap mata hadi sedikit lebih lama, mencari kebohongan
yang pintar sekali haadi tutupi.
“kalau begitu ayo, hati ini fey ingin makan burger.” Semangat fey
memasang senyum lebarnya.
“burger? Tanpa daging kan sayang?” Tanya hadi serius.
“pakai daging dong hadi, burger macam apa tanpa daging? Fey ingin
daging sapi pasti enak.” Mata fey menerawang jauh ke burger bersi daging dengan
saus dan mayoness, astaga mendadak fey lapar.
“tidak ada lagi makan daging! Untuk beberapa bulan kedepan daging
masuk ke perutmu.” Tegas hadi membuyarkan hayalan fey tentang roti, saus,
mayones dan daging.
“kenapa? Pokoknya fey mau burger pakai daging titik.” Kesal fey melepas tangan hadi yang memeluk
pinggangnya.
“aku melarang hadi, dan diwajibkan bagimu yang seorang istri untuk
menurut perintah suami.” Nada hadi berubah, seperti menggeram marah.
“kasih fey alas an.”
“tidak ada penjelasan, aku melarangmu dan tugasmu menutut pada suami, oke.”
Fey hanya diam, kalimat hadi sulit ia mengeri
“sekarang ayo temani aku yoga.” Ajak hadi berdiri dari duduknya, ingin
menarik tangan fey namun dengan cepat wanita itu menepisnya.
__ADS_1
“aku tidak mau, kita sedang honeymoon, BULAN MADU! Untuk apa yoga? Fey tidak
suka.”
“ikuti perintah suamimu sayang.” Geram hadi mulai menatap fey tajam, dia belum tidur dan emosi sialan ini
kenapa ssah sekali hadi control?!
“tahu begini lebih baik fey yang jadi suami jadi bisa mengatur ngatur
hadi!”
Apa? Mata tajam hadi tadi langsung berubah, membulat tak menyangka akan
kelimat istrinya, wanita bertubuh mungil itu sudah pergi masuk ke dalam kamar
dengan hentakan kaki pertanda kesal, astaga wanita satu itu memamng ada ada
saja.
**
“iya bu, aku memperpanjang liburan kami, dua minggu dari sekarang aku
dan fey harus kembali menemui dokter, saat ini aku sedang berusaha membuatnya
terbiasa dengan kegiatan barunya.” Hadi mengancingkan kemejanya, fey sedang
mandi dan panggilan dari ibunya membuat hadi harus menjelaskan semuanya pada
sang ibu.
“tidak, fey tidak mandul, dokter berkata kami masih bisa memiliki anak.”
Tegas hadi saat ibunya menanyakan kemandulan fey, dapat hadi dengar helaan
napas lega ibunya. Wanita paruh baya itu memberikan kalimat kalimat penyemangat
untuk hadi.
“iya bu, terimakasih atas dukungannya.” Bisik hadi mengeluarkan nada
lelahnya. Bagaimana tidak lelah jika baru saja hadi berbahagia atas kesadaran
fey eh sudah muncul saja kenyataan pahit yang membuat hadi harus merelakan
kebahagiaan itu pergi perlahan lahan
“nanti aku sampaikan, ia sedang mandi. Oke bu bye.” Dengan gerakan
__ADS_1
cepat hadi melempar ponselnya ke atas
ranjang menyisir rambut ra,but dengan jari.