Pacaran Setelah Menikah " Perjodohan "

Pacaran Setelah Menikah " Perjodohan "
Episode 47


__ADS_3

“Bagaimana bisa takdir sebahagia


ini mempermainkan kami?’


Matahari tersenyum remeh, mengek hadi yang kini sedang duduk di balkon


kamar hotelnya dengan kepala menunduk, kenapa harus selalu selalu fey? Kenapa harus


fey? Kenapa bukan dia saja yang  bermasalah? Hadi tidak keberatan. Mentap kakinya, hadi ingin marah,


bebannya selalu tentang fey sang istri, yang dimana wanita itulah kelemahannya.


“hadi.” Hadi mendunga, menatap wajah bantal istrinya yang baru


terbangun.


“hai sayang.” Sapa hadi langsung menarik fey ke hadapannya, memeluk


pinggang fey, mempertemukan dagunya dagan perut sang istri, mata tajam tak


lepas  menatap kegiatan fey yang sedang


mengucek mata, bahkan wanita ini menguap lebar.


“hadi tidak tiduer ya? Mata hadi seperti panda.” Fey langsung menangkup


rahang hadi, mengusap kantung mata lelah suaminya.


“aku belum mendapatkan maaf dari istriku, bagaimana bisa aku tidur?” Tanya


hadi pelan, hatinya meringis ngilu, apa respon fey jika tahu ia tidak bisa


tidur karena ucapan dokter kemarin yang selalu berdengung di telinganya.


“itu karena hadi sudah keterlaluan, fey  tidak bohong jika rumi memang pelakunya, dia sengaja membuat fey


tersandung.” Kesal fey menggebu gebu, hadi mengangguk.


“iya, maaf ya istriku yang menyebalkan, suamimu ini yang salah.” Sebenarnya


hadi belum percaya atas ucapan fey, namun kali ini ia akan merespon positif


saja dari pada berujung bertengkar lagi lebih baik dukung saja ucapan istri


mungilnya ini.


“maafnya fye akan terima jika hadi menjelaskan apa perkataan dokter


kemarin.” Lagi dan lagi ini, sudah semalaman hadi mendengarnya, wanita ini

__ADS_1


benar benar pantang menyerah.


“dia berkata semua baik baik saja sayang, kita butuh uasaha lebih dan


sabar menunggu.” Bisik hadi mengecup kilat perut perut fey yang terlapisi


piyama tidur tipis.


“tidak bohong kan?”


“no.” mata fey menatap mata hadi sedikit lebih lama, mencari kebohongan


yang pintar sekali haadi tutupi.


“kalau begitu ayo, hati ini fey ingin makan burger.” Semangat fey


memasang senyum lebarnya.


“burger? Tanpa daging kan sayang?” Tanya hadi serius.


“pakai daging dong hadi, burger macam apa tanpa daging? Fey ingin


daging sapi pasti enak.” Mata fey menerawang jauh ke burger bersi daging dengan


saus dan mayoness, astaga mendadak fey lapar.


“tidak ada lagi makan daging! Untuk beberapa bulan kedepan daging


masuk ke perutmu.” Tegas hadi membuyarkan hayalan fey tentang roti, saus,


mayones dan daging.


“kenapa? Pokoknya fey mau burger pakai daging titik.”  Kesal fey melepas tangan hadi yang memeluk


pinggangnya.


“aku melarang hadi, dan diwajibkan bagimu yang seorang istri untuk


menurut perintah suami.” Nada hadi berubah, seperti menggeram marah.


“kasih fey alas an.”


“tidak ada penjelasan, aku melarangmu dan  tugasmu menutut pada suami, oke.”


Fey hanya diam, kalimat hadi sulit ia mengeri


“sekarang ayo temani aku yoga.” Ajak hadi berdiri dari duduknya, ingin


menarik tangan fey namun dengan cepat wanita itu menepisnya.

__ADS_1


“aku tidak mau, kita sedang honeymoon, BULAN MADU! Untuk apa yoga? Fey tidak


suka.”


“ikuti perintah suamimu sayang.”  Geram hadi mulai menatap fey tajam, dia belum tidur dan emosi sialan ini


kenapa ssah sekali hadi control?!


“tahu begini lebih baik fey yang jadi suami jadi bisa mengatur ngatur


hadi!”


Apa? Mata tajam hadi tadi langsung berubah, membulat tak menyangka akan


kelimat istrinya, wanita bertubuh mungil itu sudah pergi masuk ke dalam kamar


dengan hentakan kaki pertanda kesal, astaga wanita satu itu memamng ada ada


saja.


**


“iya bu, aku memperpanjang liburan kami, dua minggu dari sekarang aku


dan fey harus kembali menemui dokter, saat ini aku sedang berusaha membuatnya


terbiasa dengan kegiatan barunya.” Hadi mengancingkan kemejanya, fey sedang


mandi dan panggilan dari ibunya membuat hadi harus menjelaskan semuanya pada


sang ibu.


“tidak, fey tidak mandul, dokter berkata kami masih bisa memiliki anak.”


Tegas hadi saat ibunya menanyakan kemandulan fey, dapat hadi dengar helaan


napas lega ibunya. Wanita paruh baya itu memberikan kalimat kalimat penyemangat


untuk hadi.


“iya bu, terimakasih atas dukungannya.” Bisik hadi mengeluarkan nada


lelahnya. Bagaimana tidak lelah jika baru saja hadi berbahagia atas kesadaran


fey eh sudah muncul saja kenyataan pahit yang membuat hadi harus merelakan


kebahagiaan itu pergi perlahan lahan


“nanti aku sampaikan, ia sedang mandi. Oke bu bye.” Dengan gerakan

__ADS_1


cepat hadi  melempar ponselnya ke atas


ranjang menyisir rambut ra,but dengan jari.


__ADS_2