Pacaran Setelah Menikah " Perjodohan "

Pacaran Setelah Menikah " Perjodohan "
Episode 49


__ADS_3

“kurang sabar apalagi? Fey mulai menyerah.”


“jangan menyerah demi aku suamimu.” Bisik fey menguselkan hidungnya ke


pipi fey.


Baiklah, ini belum genap dua bulan, fey masih harus sabar dan berjuang,


demi hadi yang sudah banak berkorban untuknya.


“dari pada merenung mengeluh pada tuhan, akan lebih baik kita berjuang


lagi di atas ranjang.” Lanjut hadi masih berbisik mengeluarkan suara rendahnya,


menjalarkan tangan kemana instingnya bermain, semoga saja istrinya ini tergoda.


“dengan senang hati bapak hadi.” Yes ! hadi bersorak ria di dalam hati,


langsung menggendong tubuh fey, sebaiknya fey bersiap siap mendengar bisikan


lirih hadi nanti, bersiap siap mengumandangkan amin yang panjang dan banyak.


**


Tok tok tok


Dahi fey


berkerut, ini masih pagi da ia sedang yoga sendirian, ralat dengan bee yang


berjarak tiga meter darinya. Anjing itu pintar, tidak perlu diperintah dua kali


agar menemani fey dengan jarak yang aman.


“siapa?”


gumam fey langsung membuka matanya, berdiri dari duduknya, fey berjalan


mendekati daun pintu utama, mungkin mertuanya atau ibunya yang memang rajin


sekali kerumah mereka


Cklek


“hai fey


sayang.” Sapa rumi membuka kacamata hitamnya, mata fey langsung menajam,


darimana rumi tahu alamat rumahnya dan juga hadi?


“untuk apa


kau kesini?” Tanya fey penuh kesinisan, bee yang berdiri di samping tubuhnya


saja tidak lagi fey sadari.


“ingin


memastikan sesuatu, benar berita yang  beredar itu?jika kau mandul?” Tanya rumi tersenyum remeh.


“itu bukan


urusanmu, silahkan pergi karena aku mengusirmu.” Tangan fey sudah bersiap siap


untuk menutup pintu namun kaki rumi menahannya membuat fey menggeram kesal.


“untuk apa


lagi kau menyandang status istri hadi? Bahkan kau cacat, tidak bisa memberian


keturunan, penerus keluarga hadi, satu yang ingin aku katakana, biarkan suamimu


bahagia.”


“tahu apa


kau tentang kebahagiaan suamiku, itu urusan kami, bukan urusanmu, jangan


memasuki yang bukan areamu.”


“ups,


sebelumnya maaf, tapi apa kau tahu jika suamimu sungguh sangat terpuruk? Bahkan


dipagi ahrai seperti ini ia sudah duduk manis di sebuah club, itu semua karena


mu fey, istri cacat, yang tidak berguna.”


Hati fey


mencelos, hinaan rumi berdengung.

__ADS_1


CACAT


TIDAK


BERGUNA


Ya, akhirnya


fey bertanya dalam diam, apa guna dirinya selama ini? Jangankan memberikan


keturunan, memasak saa pun fey tidak bisa.


“aku akan


dengan senang hati menampung suamimu fey, dia pantas untuk di bahagiakan.”


“dan jika


pun aku meninggalkannya, aku tidak akan sudi memberikannya padamu.”


BRAKKK.


Fey menutup


pintu rumahnya secara kasar, bee yang tertinggal di luar menggonggongi rumi


karena membuat wajah fey berbeda.


“hadi


dimana?” bisik fey bertanya saat panggilannya baru dijawab.


“maaf nona, pemilik ponsel ini sudah pingsan,


tuan muda ini terlalu mabuk, apakah kau bisa menjemputnya?”


Suara wanita


disebrang sana semakin lama tidak lagi dapat fey dengar, benar, rumi tidak


berbohong, suaminya , terbebani.


**


Air mata fey


tidak kunjung surut, ia masih mengalir dengan isak tanis kesedihan, isak tangis


Jarum jam


sudah menunjukan pukul dua siang, fey belum sarapan, belum juga makan siang,


wanita itu hanya menangis, tidak mau menyusul hadi yang pingsan. Peduli setan !


fey juga butuh waktu sendiri.


“Sayang.”


Fey menarik


selimutnya, menutupi seluruh tubuhnya yang bergetar, itu suara hadi suaminya


sudah sampai ke dalam kamar,. Sayang, selanjutnya tidak ada suara apapun, hanya


isak fey.


“bisa


jelaskan padaku sumber isak tangismu fey.” Ucap hadi tegas namun juga lirih, ia


lelah yang entah karena apa.


“fey dengar


perintah suamimu.” Belum, fey belum menuruti, masih sibuk menata hatinya.


“jangan


menambah bebanku fey,  ku mohon.” Itu dia


! itu !


“ayo kita


bercerai hadi, ayo, fey tidak masalah, sungguh.” Ucap fey untuk  pertama kalinya, tubuh munglnya sudah


terduduk di atas ranjang, air matanya menghiasi wajahnya, mata sembab yang


sangat terlihat.


“sekali lagi

__ADS_1


kau mengatakannya, jangan  salahkan aku


jika aku mengabulkannya, permintaanmu itu fey.” Desis hadi mengepalkan kedua


tangannya.


“AYO KITA


BERCERAI SAJA.” Lirih fey mengundang suara pecahan kaca bingkai foto dirinya


dan hadi yang baru saja dibantingkan oleh pria itu.


“aku sabar


fey, aku mencintaimu tanpa harus ada anak diantara kita, kenapa hanya


perpisahan saja yang ada dibenakmu?” kesal hadi menarik rambut belakangnya


frustasi.


“hadi


terbebani, hadi sedih bersama fey.”


“darimana


kau mendapatkan pikiran seperti itu? Bahkan aku bisa mati detik ini juga jika


kau pergi. Aku menunggumu bangun dari koma selama dua tahun lebih, aku seperti


manusia gila yang percaya kau akan kembali, menemani masa tuaku dan ternyata,


ini hal penantianku? Kenapa tidak mati saja  kita bersama sama?”


“fey juga


tidak mau seperti ini hadi, tapi hadi tidak tahu beban yang fey  terima. Melihat dan mendengarkan bisikan


penuh harap hadi sungguh membuat fey ingin mengabulkannya, fey.”


“aku tidak


pernah berharap, aku selalu membisikan doa bukan untuk diriku tapi untuk


dirimu, aku tidak perduli fey, bahkan jika seratis tahun jika hidup berdua


tan[pa anak aku tidak masalah.”


“tapi itu


tidak bagi fey, itu salah hadi, keluarga kita butuh penerus, nama baik hadi


juga akan tercemar, fey tidak bisa.”


“jadi dengan


perceraian aku akan mendapatan penerus? Dengan perceraian nama baikku tidak


akan tercoreng? Dengan perceraian aku dan kau akan bahagia? Ya? Seperti itu?”


Tanya hadi belum melangkah mendekati fey, masih berdiri diposisi awalnya.


“mungkin.”


Jawab fey sesingkat mungkin, karena membayangkan saja sudah membuat tubuh fey


kembali bergetar.


“atau hamili


saja wanita lain hadi, fey tidak masalah asalkan penerus hdi ada.”


“persetan


fey ! persetan dengan jalan pikiranmu, kau piker aku pria macam apa? Aku punya


istri dan terima kasih atas tawaranmu yang di luar nalarku.”


Selesai,


hadi berbalik keluar dari kamar mereka, meninggalkan fey yang menundukan dengan


tangis, disini fey sadar, bahwa memang benar takdir bahagia dengan  alur ceritanya.


alur yang


dimana menentukan sebuah kebahagiaan, keadaan menuju ke masa depan, di antara


sebuah pilihan seperti boomerang, tetap bertahan dengan keadaan mereka atau


berhenti dengan entah apa mereka akan bahagia dengan sebuah kebahagiaan atau

__ADS_1


akan menjadi lebih buruk dari sebelumnya.


__ADS_2