Pacaran Setelah Menikah " Perjodohan "

Pacaran Setelah Menikah " Perjodohan "
Episode 48


__ADS_3

“benarkah, semua ini benar kan kalau fey tidak mandul kan? Atau kali


ini hadi berbohong lagi?


DAMN !


Jantung hadi berdebar cepat, conis dimana rumah tangga dilarang


berbohong telah jatuh telak kepada hadi.


***


“ayo kita berjuang bersama sama sayang.” Ajak hadi berusaha menarik


perhatian fey yang hanya diam termenung, sejak hadi menjelaskan semua yang


dijelaskan dokter, istrinya hanya terdiam, melamun dan berusaha mencerna.


“intinya aku sulit hamil bukan?” Tanya fey menatap mata hadi yang duduk


dihadapannya, saat ini posisisnya fey sedang duduk di pinggir jalan dan hadi


duduk  di kursi rias yang tadi ia tarik


ke hadapan fey.


“kau bisa hamil, istriku bisa hamil.”


“aku termasuk wanita mandul?” hadi menggelengkan kepalanya cepat,


menyalahkan kalimat Tanya fey, kenapa dari sekian banyak kalimat penjelasan


hadi harus sekali itu yang fey tangkap? Ini yang hadi takutkan, sungguh.


“ayo kita bercerai saja.”


DEGGGG.


“kita menikah karena perjodohan karena perjodohan, fey tidak mencintai


hadi dan hadi pun tidak mencintai fey jadi ayo kita bercerai saja.”


DEGG DEG


“fey yang akan menceritakan ini pada ibu jika fey yang ingin bercerai.”


DEGG DEG DEG


“Jadi ayo kita pulang, secepatnya kita urus surat perceraiannya.” Fey


berdiri, tidak menatap hadi yang masih bungkam.


“siapa yang mau bercerai? Aku melarangmu melangkah dari hadapanku fey.”


Ucap hadi selirih mungkin, jantungnya bekerja cepat, sialnya debaran kali ini


menyakitkan, memaksa hadi untuk menarik napas sebanyak mungkin jika tidak mau


denyutan itu terasa jelas.


“untuk apa lagi kita bertahan? Tujuan kita menikah sudah tidak ada.”


Air mata fey sudah jelas menganak sungai ealau tanpa isak.


“jadi itu tujuann mu menerima perjodohan terindah itu fey? Jadi kau

__ADS_1


verbohong saat mengatakan suka melihatku, suka berada di sampingku, kau


berbohong mengatakn kau mencintaiku? Kau berbohong bangun dari koma karena aku


?! KAU BERBOHONG?!” mata tajam hadi mentapa mata fey secara jelas, bentakan


kedua keluar setelah bentakan pertama berhasil dimaafkan.


“YA ! FEY BERBOHONG!” balas fey juga berteriak yang lebih keras dari


hadi yang sudah berdiri di hadapannya.


“TOLOL!” desis hadi mempertahankan mimic marahnya.


“kau itu ***** fey ! kau piker aku percaya dengan ucapan mu itu, detik


inilah kau sedang berbohong. Kau mencintaiku dan saat ini kau sedang berbohong


dengan mengatakan tidak mencintaiku., apa sulitnya mengatakan ya ayo kita


berjuang bersama sama, apa sulitnya balas menggenggam tanganku yang menggenggam


tangan mu? APA? Beri aku satu alas an.” Kalimat hadi sudah berantakan,


kepalanya berdenyut dan jantungnya pun sama, kurang tidur, bertengkar,


mendengar kalimat kalimat fey, boleh galikan kuburan untuk hadi? Ia serasa


ingin mati.


“hadi tidak berada di posisi fey, hadi tidak tahu rasanya, fey ini


mandul!”


“KAU TIDAK MANDUL ! KAU BISA HAMIL FEY VE.” Bentak hadi membawa kedua


“Tolong sayang, menegertilah posisiku juga, aku mencintaimu, sangat.”


Lanjut hadi bernada lirih, menatap fey penu permohonan.


“jika dalam dua bulan ini fey tidak hamil juga?” Tanya fey menatap mata


hadi.


“maka kita tunggu samapai ketiga bulan, keempat, kelima, dann


seterusnya, aku hanya membutuhkan dirimu, anak hanyalah pelengkap sayang, aku


sudah sempurna hanya dengan dirimu.”


Ya, itu pemikiran hadi tapi tidak dengan fey. Wanita itu keberatan, ia


cacat dan ia sudah banyak membuat beban hidup hadi.


“ayo, kita berjuang.” Dalam dua bulan ini, jika gagal fey akan pergi.”


Akhirnya, senyum lega hadi tercipta, menarik fey ke dalam dekapannya, mengusap


lembut panjang istrinya.


“aku tidak suka pertengkaran kita.” Bisik hadi yang membuat fey tertawa


pelan dalam tangisnya.


“fey tidak suka bentakan hadi, oke.”

__ADS_1


“kalau begitu jangan pernah menyuarakan perpisahan lagi, kau harus


selalu di sampingku, apapun keadaanya.”


Bagaimana? Bagaimana bisa takdir sebehagia ini mempermainkan mereka?


**


Hari berlalu hari waktu berjalan semestinya, sudah sebulan lebih fey


melakukan hal hal yang dokter, mereka sudah pulang ke Indonesia, tidak mungkin


hadi menelantarkan perusahaanya terlalu lama.


Setiap pagi fey disuguhi buah buahan, setiap siang sayuran dan malam


jenis olahan telur, susu strawberry, daging, coklat. Semua yang dilarang oleh


dokter kontan tidak tersedia di lemari es mereka, setiap pagi fey akan


melakukan melakukan yoga yang dilanjutkan meditasi seorang diri, terkadang


ditemani oleh ibunya atau ibu hadi bahkan bee n juga ikut ikutan. Malam hari ia


akan melakukan pijat fertilitas dengan hadi yang tentunya akan berakhir di atas


ranjang. Satu yang selalu membuat fey menetskan air mata, bisikan hadi selepas


mereka bercinta.


Bisikan menyayat hati yang selalu fey aminkan.


“Tumbuh ya sayang, ayah dan ibu


menunggumu dan ayah akan selalu berusaha.”  Itu dia, kalimat yang selalu hadi bisikan


tepat dihadapan perut fey, selanjutnya aka nada kecupan yang lama mampir


disana. Harapan mereka sangat tinggi, sekali lagi hadi percaya jika tuhan itu


tidak tidur.


“the?” tawar hadi baru saja memasuki balkon kamar nya dan fey,


mendekati tubuh istrinya yang berbalut selimut tebal, fey tersenyum menerima


gelas dari hadi.


“hadi tidak mau?” Tanya fey saatmerasakan hadi justru memeluk tubuhnya


dari belakang..


“tidak sayang.” Bisik hadi menelusupkan wajanya ke leher fey, mengecup


singkat kulit leher halus sang istrinya, lalu menumpukan dagu ke atas bahu


mungil kesukaannya.


“fey sudah menghitung, hamper dua bulan hadi dan hasilnya masih lah


sama.” Cicit fey melirik testpack yang berada di atas meja  kecil balkon kamar mereka, tapi fey baru


mencoba dan hadi menunggu dengan doa penuh.


“sabar sayang, tuhan masih menguji kesabaran kita.” Mode bijak hadi

__ADS_1


dibutuhkan disini, ia harus bisa membeikan posditif untuk fey.


__ADS_2