
HARI KE 6 JAM 6 SORE
" Karena ini hari ke 3 aku menjengukmu, aku pilih bunga baby breath, bunga nya seperti dirimu ya, kecil, mungil, cantik dan memiliki arti kepolsan." mata hadi tidak menatap wajah fey yang masih dan tetap dalam keadaan pucat.
Hadi sibuk menatap bunga yang ia bawa, mengganti bunga mawar yang ada di dalam pot dengan bunga baby breath.
" Tadi pagi aku pulang, maaf karna aku sudah meninggalkanmu selama berjam - jam, aku ingin melihat bee." hadi menyisir rambut fey dengan jari - jari tangan, bergerak duduk di kursi yang ada di sisi ranjang fey.
" Sepertinya bee merindukan wajah cemberutmu itu, ibu merindukan keceriaanmu, dan ranjang kita juga menantikan kehadiranmu. fey istriku, istri hadi , istri yang satu - satunya yang aku miliki, kapan kau bangun?"
Hadi menggerakkan tangannya mengusap dahi fey, tidak ada jawaban, hanya suara mesin yang berdetik yang memberikan respon.
" Dia yang tidak sengaja menabrakmu itu ingin meminta maaf dengan kau, bocah. kau harus bangun dan menerima kata maafnya, kau jangan sampai menjadi manusia yang begitu."
Katakan lah kalau hadi gila, tapi ini satu - satunya cara agar rasa sesak dari dalam diri hadi keluar
" Aku menginginkanmu, sangat menginginkanmu kembali."
__ADS_1
//*****// //*****// //*****// //*****//
2 TAHUN KEMUDIAN
" Aku minta maaf hadi, ini sudah sampai di akhir, ini suaranya."
Hadi menatap selembar kertas yang diberikan oleh Dokter Alex, surat izin untuk melepas semua alat bantu kehidupan yang selama ini dipakai.
" Bukan, ini bukan suara dia." hadi mendorong secarik kertas yang diberikan dokter alex kepadanya."
" Bagaimana mungkin kau bisa yakin mengatakan kalau itu suara dia? itu bukan suara dia, itu kau." wajah hadi mengeras, matanya menajam.
Dan tidak akan pernah mungkin, dia tidak akan pernah mau menyerah untuk istrinya fey.
" Ini sudah terlalu lama saat tubuhnya bernapas sendiri hadi, tubuh istrimu sudah lelah.
Hadi menggeleng kuat, yang bertanda tidak membenarkan dengan apa yang telah di ucapkan dokter alex.
__ADS_1
" Tidak, itu bukan dia." ucap hadi dengan sangat tegas.
Selesai, hadi kini berdiri dari duduknya, seperti terasa sangat sia - sia meninggalkan rapat penting demi untuk mendengarkan berita sialan macam seperti ini.
" Hadi coba kau pikirkan lagi, dengan apa yang kau lakukan saat ini, itu sama saja kalau kau menyiksanya." kedua tangan hadi untuk kali ini tidak mungkin bisa untuk tidak terkepal kuat, hadi tidak akan pernah mau, jangan kan untuk bertindak untuk memikirnya saja ia takan sanggup, tidak untuk hari ini, hari besok, atau hari yang akan mendatang.
********* ******* ********
Tapi kini, mata hadi sedang menatap surat izin tersebut. Menggenggam pulpen dengan sangat kuat, hadi menoleh ke sisi kanannya yang dimana tubuh fey yang terbaring lemah selama 2 tahun belakangan ini.
" Takdir sialan." umpat hadi pelan dengan mata yang memerah.
Meletakkan pulpen dan kertas tadi di atas meja yang berada di dekat jendela, dimana bunga pemberian hadi setiap harinya terletak.
Hadi mendekati ranjang fey, berdiri dengan tangan yang mulai bergerak menggenggam erat tangan dingin fey.
Suara monitor detak jantung dengan suara alat bantu napas yang fey gunakan saling berlomba - lomba siapa yang paling keras berbunyi.
__ADS_1
" Aku berharap kalau aku bisa bernapas untukmu sweet heart."
Air mata hadi kini menetes lagi, tepat saat kalimat harapan itu meluncur di bibirnya.