
Keesokan harinya di sekolah. Rasya sibuk mencari Heru namun tak juga menemukannya, ia sangat gelisah dengan perubahan sikap Heru yang tiba-tiba menjadi dingin padanya. Rasya pergi ke ruangan Heru, dan keruangan OSIS tapi Heru tak terlihat juga seharian ini. Akhirnya Rasya memberanikan diri menuju ke kelas Heru untuk memastikannya.
Sesampainya di depan kelas Heru. Rasya hanya melirik-lirik tak berani masuk, karena ia takut bertemu Sisi. Benar saja Sisi yang melihat Rasya berkeliaran di depan kelasnya langsung menghampirinya.
"Eh lo cewek kampungan ngapain lo kesini, nyariin gw?" kata Sisi sambil menekan pinggang dengan kedua tangannya.
"Ee..enggak kak" jawab Rasya gugup.
"Matilah gw malah dateng ke kandang harimau betina ini" batin Rasya.
"Trus ngapain lo kelayapan di depan kelas gw? mau carper sama kating disini ya?" kata Sisi lagi. Carper adalah singkatan dari cari perhatian sedangkan kating adalah singkatan dari kakak tingkat.
"Enggak kak" kata Rasya yang binggung cari alesan ngeles dari Sisi. Sementara Aryo langsung bergegas menuju ke arah mereka saat melihat Rasya dan Sisi bersama.
"Aduh si Rasya ngapain lagi kesini, Sisi pasti gak akan biarin dia begitu aja" batin Aryo.
"Trus ngapain lo kesini, hah jawab jangan enggak.. engak aja" kata Sisi lagi sambil mendorong Rasya dengan tangannya dengan kasar.
"Apaan sih lo Si, apa begini cara lo ngasih contoh sama junior?" kata Aryo yang langsung menahan tubuh Rasya dari belakang agar tidak terjatuh.
"Enggak elo, gak Heru, gak Daniel, semua cowok di sini sekarang udah pada dibuat gila sama cewek kampungan ini" kata Sisi dengan nada kesal melihat Aryo juga selalu membela Rasya.
"Lo yang udah gila, kerjaannya cari masalah terus, orang baik-baik lo gangguin, orang diem lo usik" timpal Aryo.
"Dia ini ni cewek suka carper sana-sini, lagian ngapain dia kesini, dasar murahan!!" kata Sisi lagi.
"Jangan sembarangan ya lo Si, dia itu kesini pasti nyariin gw buat ngumpulin formulir anggota olimpiade matematika, emangnya elo yang hidupnya cuman bisanya ngangguin orang, ya kan Sya?" kata Aryo sambil mengedipkan matanya ke Rasya memberi kode. Rasya pun langsung paham maksud Aryo.
"Iya kak, saya kesini karna di suruh Bu Asna buat ikut tim olimpiade matematika sama kak Aryo" kata Rasya.
"Yaudah sana cepet urusin urusan kalian, gw gak suka liat lo lama-lama di sini" kata Sisi dan akhirnya pergi meninggalkan mereka.
"Kak makasih ya udah nyelametin Rasya" kata Rasya.
"Udah nyantai aja, lagian emang bener kan kamu juga belum ngumpulin formulir yang kemarin" jawab Aryo.
"Iya kak, nih udah aku isi, tapi wajah kakak kenapa kok memar gitu? kata Rasya sambil memberikan formulir yang telah ia isi semalam.
"Iya Syaa, ada yang mau gw omongin lain, tapi gak di sini, penting ini soal Heru" kata Aryo lagi.
"Iya kak, sebenernya saya kesini juga mau nyariin kak Heru" kata Rasya. Masih banyak yang ingin mereka perbincangkan tetapi bel kelas untuk kembali masuk sudah berbunyi.
"Heru gak masuk Sya hari ini. Duh udah bel bunyi lagi nih, yaudah sepulang sekolah temuin gw di depan gerbang ya" kata Aryo.
" Gak masuk? kak Heru sakit? kata Rasya jadi cemas.
__ADS_1
"Gw kurang tau dia gak masuk kenapanya, tapi nanti gw jelasin yang gw tau" kata Aryo lagi.
Baik kak, saya ke kelas dulu kalo gitu" jawab Rasya.
"Ok" jawab Aryo singkat.
Rasya pun kembali ke kelasnya dan Aryo pun begitu.
"Dari mana aja lo Sya, kok pergi gak ajak-ajak gw sih" kata Risma yang duduk di sampingnya.
"Nemuin kak...." kata Tata yang duduk di belakang Rasya ingin menyebutkan nama Heru tapi Rasya segera memotong pembicaraan.
"Kak Aryo, nganter formulir anggota latihan buat olimpiade matematika" kata Rasya secepat kilat.
"Oooooh" jawab keduanya. Pelajaranpun berlangsung dan bel pulang pun berbunyi. mereka semua pun berpisah untuk menuju rumahnya masing-masing.
"Mana sih kak Aryo kok gak keliatan, gw udah khawatir banget sama kak Heru" batin Rasya sambil menoleh kanan kiri sedangkan sekolah semakin sepi karna anak-anak sudah habis pulang.
"Tiittt..." klakson mobil yang menghampiri Rasya. Aryo kemudian menurunkan kaca mobilnya.
"Kamu gak bawa motor Sya?" kata Aryo.
"Enggak kak, aku naik angkot tadi pagi" jawab Rasya.
"Yaudah masuk ikut gw!" kata Aryo lagi. Rasya pun langsung masuk mobil dan duduk di sebelah Aryo.
"Ke Kafe depan sana tempat favoritku aja Pak" kata Aryo lagi.
"Baik Den" jawab Si Supir.
"Lo gak papa kan Sya kalo pulang telat?" tanya Aryo memastikan.
"Emmm.. Engga papa sih kak, tadi aku udah ngabarin mama kalo ada urusan dulu di sekolah" kata Rasya yang memang sudah mengirimi mamanya pesan sesaat setelah jam pulang tadi.
"Okedeh kalo gitu" kat Aryo lagi.
Mereka pun hanya diam hingga sampai ke Kafe Mentari Coffe tempat favorit Aryo dan juga Heru. Mereka berdua suka nongkrong dini untuk melepas penat. Sayangnya Aryo tidak mengira saat itu Heru sedang ada disana juga untuk menghilangkan stress nya atas kejadian kemarin.
"Lo mau pesen apa Sya?" kata Aryo kepada Rasya saat pelatan datang ke meja mereka.
"Samain aja kak" jawab Rasya.
"Moccacino nya 2 sama steak kentang aja ya mbak" kata Aryo kepada pelayan itu.
"Baik mas" jawab pelayan itu sambil mencatatnya dan pergi.
__ADS_1
"Jadi kak Heru sakit apa kenapa kak?" tanya Rasya yang sudah sangat khawatir dan penasaran.
"Enggak tau Sya, Itu yang gw juga bingung" jawab Aryo.
"Lah, kalo kakak aja bingung trus ngapain kakak ngajak aku kesini" kata Rasya lagi.
Di seberang tempat mereka ada Heru yang sedang duduk sendirian. Rasya dan Aryo tak melihat Heru. Awalnya Heru juga tidak melihat mereka, tetapi saat ia ingin beranjak pulang matanya langsung tertuju pada sepasang anak yang masih menggunakan seragam sekolah yg tak lain Aryo dan Rasya.
"Pengkhianat! Bener dugaan gw, mereka udah ngehianatin gw, sahabat yang gw percaya dan wanita yang gw cintai kayak gak ada rasa bersalahnya punya hubungan dibelakang gw" gumam Heru yang sangat kesal.
Heru menahan dalam-dalam amarahnya. Dia ingin melihat seberapa dekat Aryo dan Rasya di belakangnya, sehingga ia kembali duduk dan mengenakan topinya agar tak dikenali serta memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Lihat ini, gw di jotos Heru pas gw nemuin dia di ruangan OSIS sepulang lo kemarin sore" kata Aryo menunjukan pipinya yang masih memar.
"Kok bisa? apa yang terjadi kok sampai kak Heru marah begitu kak?" tanya Rasya lagi.
"Dia kira gw mau gerebut lo dari dia, emang hubungan kalian udah sejauh apa si?" Aryo kembali bertanya. Ia benar-benar penasaran kenapa Heru bisa sampai menganiayanya hanya karena seorang wanita.
"ee.. yaa deket kak" kata Rasya yang masih ingin menyembunyikan hubungan mereka.
"Deket gimana? Heru nembak lo tapi lo tolak?" kata Aryo lagi menduga-duga.
"Enggak kak, lagian kakak memangnya bicara apa ke kak Heru sampai di jotos gitu" tanya Rasya.
"Gak ada Sya, gw langsung di jotos gitu aja trus di usir sama dia, Heru kayaknya marah banget sampe gak mau liat wajah gw apalagi penjelasan gw. Makanya gw nanyain lo karna gw juga penasaran" kata Aryo lagi.
"Apa kak Heru cemburu pas kita di ruang bimbel itu ya kak? soalnya sebelum itu kami baik-baik aja, tapi kakak tau sendiri kan pas Rasya negur dia di ruang bimbel itu, dijawab aja enggak" kata Rasya sambil mengingat-ingat mungkin dia melakukan suatu kesalahan namun ia tak menemukannya
"Mungkin sih Sya, tapi dia masih mau ngomong sama gw dan minta gw nemuin dia ke ruang OSIS, masa sih cuman karena itu, lagian kan elo juga bukan siapa-siapanya dia" kata Aryo lagi.
"Gw sama kak Heru udah jadian kak" kata Rasya yang akhirnya membongkar hubungan mereka agar Aryo paham masalah yang mereka hadapi.
"Haah, serius? pantes tingkahnya jadi agak aneh" kata Aryo.
"Ah, biarin aja lah kak, lebai deh kak Heru masa begitu aja cemburu sih, sampai nonjok kakak segala lagi sampai begini, gw minta maaf ya kak atas nama kak Heru" kata Rasya sambil memegang pipi Aryo untuk memastikan tingkat keparahan memar diwajah sahabat kekasihnya itu.
"iii..iya Sya, ga papa, mungkin dia cuman salah faham" jawab Aryo sedikit gugup. Sebenarnya Aryo juga memang menaruh perasaan kepada Rasya, namun ia mengubur rasa itu dalam-dalam setelah tau Heru menyukai Rasya, apalagi saat ini mereka sudah resmi berpacaran. Aryo merasa terpukul mendengar kabar itu langsung dari Rasya.
Pelayan pun datang membawakan pesanan mereka.
"Silahkan dinikmati" kata pelayan itu menghidangkan makanan.
"Terimakasih" kata Rasya.
Heru yang melihat Rasya dan Aryo layaknya sepasang kekasih yang saling memberi perhatian pun kian cemburu melihat kedekatan mereka. Heru hanya melihat mereka terlihat begitu akrab tanpa tahu apa yang mereka bicarakan hingga membuatnya semakin salah faham.
__ADS_1
"Gw akan bales semua ini, liat sana kalian berdua" batin Heru sambil mengepalkan tangannya menahan amarah.