Pelampiasan Cinta Remaja

Pelampiasan Cinta Remaja
BAB 4 HUKUMAN


__ADS_3

Di dalam kelas.


Rasya sangat gelisah sekali atas kejadian dia ruangan Heru. Dia tak tahu harus bagaimana, perasaannya kacau, ia hanya bisa mengepalkan tangannya dan mengigit bibir bagian bawahnya untuk menutupi rasa gemetaran yang ia rasakan.


"Tuhan, dosa apa gw lakukan sampai harus menerima hari sial seperti ini" Batinnya.


Sementara semua siswa telah duduk di bangkunya masing-masing, panitia MOS juga sudah hadir.


"Oke silahkan kalian keluarkan buku MOS nya masing-masing" kata Aryo memberi instruksi lalu semua siswa meletakkan bukunya diatas meja.


"Siapa disini yang mendapat kenalan dan tanda tangan terbanyak silahkan mengangkat tangan" kata Heru lagi sambil memberi contoh mengangkat tangannya.


"Diatas 40? ada?" katanya lagi.


Beberapa anak lalu mengangkat tangan.


"Diatas 45?" kata Aryo lagi.


lalu hanya tersisa 3 anak yang mengangkat tangan.


"Coba kalian sebutkan" kata Aryo lagi kepada 3 anak itu.


"Saya dapat 41 kak"


"Saya 45 kak"


"Saya 42 kak" kata ketiga anak itu bicara bergantian.


"Baiklah yang dapat 45 silahkan maju dan berhak mendapatkan hadiah ini" kata Aryo lagi sembari menyematkan satu pin bintang silver di bahu kanan anak itu sementara Sisi memberikannya sebuah coklat Silverqu**n.


"Oke sekarang siapa yang berhak mendapat pin emas ini?" tanya Sisi kepada semua anak.


"Yang berhak adalah anak yang berhasil mendapatkan tanda tangan ketua OSIS, hanya ada satu orang yang akan mendapatkannya dari ketua OSIS kita, adakah dikelas ini? jika ada ayo silahkan maju!" kata Aryo menjelaskan.


"Buku lo mana Sya, lo dapet berapa banyak tanda tangan" bisik Tata yang duduk disamping Rasya.


"Ilang Ta, gw bahkan gak dapet satu pun" jawab Rasya kembali berbisik.


"kok bisa? lo bisa kena masalah kali ini Sya, kayaknya kak Sisi udah ngincer lo tuh dari tadi ngeliatin sinis ke arah lo" bisik Tata lagi.


"Panjang ceritanya, nanti gw ceritain" jawab Rasya.


"Sudah gw duga kelas ini gak ada yang berhasil dapat tandatangan ketua OSIS, karena hanya siswa dengan penilaian paling terpuji yang berhak dapet itu dari ketua OSIS kita" kata Sisi lagi sambil tersenyum melirik sinis ke arah Rasya.


"Ok gak apa-apa, kalian masih punya waktu 5 hari lagi untuk bisa jadi siswa terpuji, kemungkinan anak kelas lain juga belum ada yang berhasil berkenalan dengan ketua OSIS kita" kata Aryo lagi.


"Sekarang siapa yang dapat tandatangan paling sedikit, dibawah 10 ada?" kata Sisi.

__ADS_1


Lalu beberapa anak mengangkat tangannya termasuk Rasya. Sisi pun senang melihat Rasya masuk daftar.


"Dibawah 5?" kata Aryo lagi yang berniat menyelamatkan Rasya. Ia berharap Rasya tidak termasuk dengan nilai dibawah 5 sehingga Sisi tidak dapat menghukumnya. Sisi pun kesal mendengar perkataan Aryo karena takut kehilangan kesempatan mengerjai Rasya. Tetapi ternyata hanya Rasya yang mengangkat tangan, dan usaha Aryo malah membuat Rasya makin terpojok.


"Saya Kak" kata Rasya dengan gugup mengangkat tangan.


"Eh anak sok manis, dapet berapa lo?" kata Sisi lagi dengan sedikit senyum mencibir.


"Tidak satu pun Kak, saya tadi ada keperluan sehingga tidak sempat" jawab Rasya menjelaskan agar Sisi tak menanyakan lebih lanjut padanya.


"Sini lo maju ke depan" kata Sisi lagi sambil merencanakan niat jahatnya.


Rasya pun maju kedepan diantara Sisi dan Aryo.


Tiba-tiba


"Tuuuaaarrrr" sura vas bunga dengan sengaja Sisi jatuhkan ke lantai yang membuat vas bunga dari kaca pecah berserakan.


"Bersihkan sekarang dengan tangamu" kata Sisi kepada Rasya.


"Rasain lo, itulah tempat lo sebenarnya, di bawah kaki gw, makanya jangan belagu mau ngedeketin Heru" batin Sisi dengan puas.


"Baik Kak" jawab Rasya langsung berjongkok mengambil satu persatu pecahan kaca.


"Pakai sapu saja Sya, nanti tanganmu terluka" Aryo segera menghentikan Rasya.


"Biarkan saja Kak, akan saya bersihkan" kata Rasya pasrah.


"Hentikan!! apa yang kalian lakukan?" kata Heru yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu. Rupanya Heru menyadari bahwa Rasya tadi pergi dengan meninggalkan semua barang miliknya. Heru pun menyadari bahwa Rasya pasti akan mendapat masalah dari Sisi yang memang sedang mengincarnya.


"Heruuu" kata Aryo dan Sisi bersamaan.


"Apakah kalian memberi hadiah tanpa memeriksa keasliannya dan menghukum seseorang tanpa bukti seperti ini?" kata Heru lagi dengan geram. Sementara Rasya malah segera bergegas membersihkan pecahan kaca agar semua perdebatan itu berakhir.


"Her, dia sendiri yang bilang, dia bahkan..." belum selesai Sisi bicara, Heru pun memotong pembicaraannya.


"Lihat ini, dia satu-satunya siswa yang mendapatkan tandatanganku, harusnya kalian memberinya pin emas sebagai siswa terpuji" kata Heru lagi sambil memperlihatkan buku Rasya yang berisikan satu tanda tangan miliknya.


"Her, lo gak bisa ngasih tanda tangan lo sama anak baru secepat ini, ini baru hari pertama MOS, harusnya lo mempertimbangkan segala sesuatunya lebih dulu, apa yang udah dia lakuin sampai lo kasih penghargaan itu ke dia" kata Sisi lagi dengan sangat kesal.


"Dia.. Dia sudah berbaik hati nolongin gw saat gw sakit kepala tadi, dia nganterin gw istirahat ke ruangan gw, makanya tadi tas nya sampai ketinggalan di ruangan gw. Dia bahkan gak ambil lagi tasnya yang kelupaan karena gak mau ganggu istirahat gw, dia rela dihukum seperti ini tanpa menceritakan kebaikannya" kata Heru yang harus berbohong demi menyelamatkan Rasya. entah apa yang membuatnya rela melakukan apa saja demi membela gadis kecil pemikat hatinya itu.


"Sialan cewek itu udah pernah di bawa keruangan Heru, gw aja yang dulu pacarnya gak pernah dia bolehin kesana dengan alasan privasi nya" batin Sisi dengan sangat kesal.


Tiba-tiba..


"Aaaaauuuuuhh" teriak Rasya. Tangan Rasya berucucuran darah.

__ADS_1


"Rasyaaa.." teriak Heru langsung berlari dan segera mengulum jemari Rasya yang berdarah untuk menghentikan pendarahannya.


"Jangan pegang tanganku kak" kata Rasya spontan menarik tangannya. Dia sangat gugup melihat Heru yang berada sangat dekat dengannya. Entah kenapa sejak kejadian itu, Rasya sangat takut dengan Heru.


"Ayo ke UKS sekarang" kata Heru lagi langsung menarik tangan Rasya yang sebelahnya dan membawanya pergi dari ruangan itu.


Sementara di kelas sedikit gaduh, wanita-wanita pada berbisik satu sama lain memuji kebaikan hati Heru dan juga ketampanannya. Sedangkan Sisi sangat marah, ia tlah kehilangan kesempatan mengerjai Rasya, bahkan kali ini ia harus melihat betapa perhatiannya Heru kepada Rasya.


Sesampainya di UKS.


"Siapkan kotak P3K nya" kata Heru kepada beberapa anak UKS di ruangan itu.


"Ini Kak" jawab salah satu diantara mereka sembari meletakkan kotak P3K di atas meja.


"Silahkan keluar, biar aku yang mengobatinya" kata Heru lagi.


"Baik kak" kata mereka dan segera menunggu di luar.


"Duduk di sini" kata Heru mempersilahkan Rasya duduk di bangku yang ia siapkan. Rasya pun duduk tanpa bicara sepatah katapun karena ia rasanya menjadi bisu saat bertemu Heru. Ia sangat malu atas kejadian ci*man itu.


"Lo itu kok pasrah aja di kerjain Sisi, jadi anak jangan polos amatlah, kan gw jadi pusing cari akal buat nyelametin lo terus" kata Heru lagi sambil mulai membersihkan luka dan memperban luka di jemari telunjuk Rasya. Rasya pun masih terdiam saja sambil menundukkan wajahnya agar tak dapat dilihat oleh Heru.


"Hei, lo sehat kan?" kata heru lagi sambil mengangkat dagu Rasya untuk memastikan raut wajah yang ia sembunyikan.


"Deg" detak jantung Rasya dan Heru berdegup kencang saat mereka saling menatap sedekat itu.


"Dia kok kelihatan cantik banget sih" batin Heru kagum melihat wajah Rasya yang cantik dalam kepolosan.


"Apa yang lo lakuin Sya, kok bisa-bisanya lo berduaan lagi sama cowok yang udah merampas ciuman pertama lo" batin Rasya.


"Muka lo pucet banget, lo istirahat aja di sini dulu, apa mau ke ruangan gw aja biar lebih nyaman" kata Heru lagi dengan senyum nakal menggoda Rasya.


"Ee.. engak kak, saya sehat, saya mau balik aja ke kelas lagi" kata Rasya spontan dan bergegas berdiri mau pergi.


"Jangan" kata Heru sembari menarik tangan Rasya hingga dia terpeleset dan jatuh dipelukan Heru.


"Deg.." dentuman jantung mereka berdua berdekup kencang.


"kok gw suka ya dia ada dipelukan gw begini" batin Heru.


"Nyaman banget sih di peluk gini" batin Rasya.


"Hayo lo nyaman ya ada dipelukan gw, ayo ngaku?" ledek Heru.


"ih apaan sih kak, orang lo nya yang buat gw hampir jatoh geh" kata Rasya dengan segera menjauh dari Heru.


Mereka pun kembali bertatapan dalam waktu yang cukup lama lalu akhirnya tawa mereka pecah bersama melepaskan rasa canggung atas kejadian tadi selayaknya teman lama yang akrab.

__ADS_1


__ADS_2