
Hujan tiba-tiba turun sore itu, Aryo dalam kegundahan di perjalannya, Rasya yang sedang melihat air hujan dari balik jendela dengan perasaan bersalahnya pada Aryo, serta sedikit keraguan atas cintanya pada Heru, dan Heru yang sedang tertawa bahagia tlah berhasil menumbangkan lawannya dengan sekali bidikan.
"Ingin sekali aku berteriak padamu, mengatakan isi hatiku yang tlah terluka karena mencintaimu tanpa izin. Ingin sekali ku memeluk dan memintamu meninggalkan dia yang tak sungguh-sunguh menjagamu, tapi siapa aku? dia yang ku cintai tlah memilih, dan aku bahkan tidak ada dalam pilihannya. Tuhan, apa yang harus kulakukan?" batin Aryo yang kemudian tak mampu menahan luka hatinya, ia meneteskan air mata yang terbendung bersama derai air hujan, ia membuka kaca helm nya dan membiarkan hujan membasuh wajahnya.
"Aku tlah lama merindukan hal ini Tuhan, saat dimana semua orang memperhatikanku, saat aku bisa merasakan yang namanya Cinta. Rasa ini sungguh indah ya Tuhan, rindu dan bahagia yang bagai tak tertahan setiap harinya membuatku terlena. Ah, kak Heru aku sungguh mencintaimu, kau tlah menjadi cinta pertamaku, semua hal bersamamu adalah yang pertama kuinginkan dan pertama kulakukan. Hmm.. kak Aryo, mengapa kau baik sekali padaku? Andai kau benar-benar menjadi kakakku" Batin Rasya.
"Aryo, mengapa persahabatan kita harus kau hancurkan demi seorang wanita. Andai dari awal kau bilang saja padaku jika mencintai Rasya, aku pasti akan mengalah padamu, tetapi, kau menghianati seperti ini, aku tak mentoleransinya lagi. Rasya, siapa yang kau cintai sebenarnya? kufikir kau begitu polos, tapi apa yang kau lakukan? kau mempermainkan hatiku dan sahabatku" batin Heru.
***********
Di sekolah
Rasya melamun saat jam pelajaran. Entahlah, dia begitu memikirkan Aryo, ia sangat bersalah pada Aryo karena tlah membuatnya menunggu. Sedangkan, ia malah asik dengan kekasihnya Heru.
"Sya, lo kenapa? kok ngelamun aja" kata Risma sambil berbisik hingga membangunkan lamunan Rasya.
"Ee..engak Ris, aku lagi ngerasa bersalah aja" jawab Rasya.
"Lo udah salah sama siapa?" tanyanya lagi.
"Kak Aryo" jawab Rasya
"Lo apain kak Aryo? oh iya kemarin dia nyariin lo loh Sya, dia nungguin lo di parkiran" kata Risma.
"Kalian ngeliat dia ya kemarin? trus-trus?" tanya Rasya penasaran.
"Iya, dia keliatan panik banget karna gw bilang lo udah keluar dari tadi tapi belum sampe juga ke parkiran nemuin dia. Emang lo kemana sih?" jawab Risma.
"gw ada urusan bentar, gw lupa kalo udah janjian pulang sama dia Ris, duh makanya gw kepikiran nih, kemaren ekspresinya kak Aryo beda, dia jadi pendiem banget" kata Rasya lagi.
__ADS_1
"Kok bisa sih Sya, kasian lo kak Aryo, minta maaf sana" kata Risma sambil mencubit Rasya.
"Auuugh" kata Rasya kesakitan dan teriak agak keras hingga semua anak di kelas memperhatikannya.
"Kalian kalau mau ribut silahkan keluar" kata guru yang sedang mengajar.
"Maaf bu, kami tidak akan mengulainginya" jawab Risma dan Rasya bersamaan sambil menunduk malu.
Saat pelajaran selesai Rasya sibuk mencari Aryo namun ia tak menemukannya sampai jam pulang. Pagi ini juga Aryo tak datang menjemput dirumahnya dan itu membuat Rasya khawatir, untungnya hari ini ada kelas ekskul matematika, ia langsung bergegas menuju ruangan Ekskul.
"Sayaaang" kata Heru menarik lengan Rasya dari balik tembok di tengah perjalanannya menuju ruangan ekskul.
"Eh kakak" kata Rasya.
"Mau kemana sih buru-buru amat?" tanya Heru.
"Mau ekskul lah kak" kata Rasya. Perhatian Heru pun langsung tertuju pada sapu tangan yang terlipat dan terbungkus rapi dengan plastik transparan ditangan Rasya.
"Oh" kata Heru singkat. Ia sebenarnya sudah tau itu milik Aryo, mereka membelinya bersama. Barang-barang Aryo semua familiar di mata Heru. Namun, Heru tetap tidak bisa menutupi rasa cemburunya pada sahabatnya itu.
"Waktu itu baju Rasya yg kotor karna jatuh dan pernah juga kak Aryo nolongin dijalan, dia minjemin ini kak" jelas Rasya lagi yang takut kekasihnya marah.
"Iya, ya sudah belajar sana, kakak juga mau ekskul debat english" kata Heru mencoba menyembunyikan rasa cemburunya itu.
"Semangat kakak" kata Rasya lagi sambil melambaikan tangan.
"Semangat juga sayang" jawab Heru. Rasya kemudian pergi menuju ruangan Aryo dan Heru pun pergi. Sesampainya di ruangan itu, nampaknya Aryo baru datang sendiri. Ini adalah waktu yang tepat buat Rasya meminta maaf pada pria itu.
"Kak Aryo, makasih" kata Rasya sambil menyodorkan sapu tangan itu dan duduk di hadapan Aryo.
__ADS_1
"Oh iya, taruh saja" jawab Aryo.
"Aku taruh sini ya kak" kata Rasya lagi.
"Iya" jawab Aryo singkat.
"Kak kok gak jemput Rasya lagi sih tadi pagi, Rasya nungguin loh" tanya Rasya.
"Memangnya kamu gak baca pesan WA?" Aryo balik bertanya.
"Paketan internet gw tuh habis belum beli lagi kak" jawab Rasya.
"Oh pantes aja, gw ada urusan tadi sama Ayah berangkat ke sekolahnya jadi gak jemput. Jangan-jangan lo gak liat grup Wa dan gak tau lagi kalo sekarang gak ada jam ekskul?" kata Aryo.
"Oh gak ekskul to kak, lah trus kakak ngapain di sini?" tanya Rasya sambil melihat Aryo yang sedang sibuk mengerjakan soal-soal matematika.
"Belajar aja, lagi males pulang pingin sendirian" kata Aryo lagi.
"Yaudah ajarin Rasya aja ya kak, kebetulan Rasya udah izin mau ekskul juga hari ini" kata Rasya sambil memohon dengan menangkupkan kedua tangannya.
"Hmmm.. kamu pulang aja, nanti ada yang cemburu lagi kalo kita sering berdua" kata Aryo.
"Enggak kok, lagian siapa yang mau cemburu" kata Rasya lagi.
"Kak Heru kan sudah tau tadi aku mau belajar sama kak Aryo, dia gak akan cemburu, lagian kalian kan sahabatan" batin Rasya.
"Yasudah, ayo kita mulai dari sini ya, tentang integral dulu gimana?" tanya Aryo.
"Siap kak, yang sabar ya ngajarin Rasya nya" kata Rasya lagi sambil berperilaku hormat dengan tangan diatas dahi yang membuat Aryo jadi tertawa melihatnya. Suasana kemudian hangat kembali, mereka sangat akur dan bersemangat mengerjakan soal demi soal, bahkan sesekali, Aryo menarik hidung Rasya saat anak itu tak nyambung-nyambung ketika di jelaskan. Sedangkan Rasya merasa sangat senang bisa diajari oleh Aryo yang begitu sabar dan pintar. Maklum Rasya masih kelas X sedangkan materi pelajarannya belum sampai ke kisi-kisi olimpiade yang mencakup materi kelas X sampai kelas XII.
__ADS_1
"Ekskul kok cuman berdua gitu" gumam Heru kesal saat mengintip ke ruangan itu dari jendela.
"Sudah lah Her, dia emang cewek gak bener suka godain cowok-cowok di sekolah ini, adek gw Daniel aja udah di pacarin sam dia sampe cip*kan bekas segala" kata Sisi yang ternyata ada dibelakang Heru. Sisi membututi Heru dan ia ingin mengambil kesempatan ini untuk keuntungannya.