
"Pagi kak" sapaku kepada setiap senior yang kulihat disepanjang jalan menuju lapangan.
Aku segera berkumpul bersama siswa baru lainnya untuk mengikuti MOS hari pertamaku di SMA. Seorang pria membuka acara dan menjelaskan agenda MOS yang akan dilaksanakan untuk seminggu kedepan. Aku berada dibarisan belakang dan mencari-cari sumber suara yang sedang bicara dihadapan kami semua.
"Hah, itu kan kak Heru? ngapain dia disitu" aku bicara sendiri.
"Eh lo Sya, dia itu Ketua Osis disini, ganteng banget ya" sahut Risma yang tak lain sahabatku saat SMP, dia juga melanjutkan sekolah ditempat yang sama denganku.
"eh kamu Ris, kok tau-tau ada disamping gw sih, bikin kaget aja". jawabku
" Iya aku dari tadi nyariin kamu, pas liat kamu aku langsung kejar kamu Sya, eh taunya kamu malah lagi terpesona sama si kakak ganteng" jawabnya lagi dengan wajah cemberut.
"Apaan sih kamu Ris, aku tu kemaren ketemu dia di tempat fotocopy an, makanya aku kaget aja liat dia" jawabku menjelaskan.
"Kak Heru itu anak ketua yayasan di sekolah ini lo Sya, dia Pinter banget lo juara debat english se Provinsi, ketua OSIS lagi, udah gitu dia juga rendah hati lo, dia juga temen sekelasnya mbakku, kadang dia main kerumah, aku ngefans banget pokoknya sama kak Heru" pungkasnga bersemangat.
"Oh ini to cowok hayalan yang sering lo ceritain ke gw itu, lumayan sih, agak genit kayaknya sih" kataku.
"ih gak ah, cewek2 aja yang suka ngejer-ngejer dia Sya, dia salah satu cowok Favorit disini" kata Risma lagi
Tiba-tiba ada yang menepok pundakku dan Risma "kalian cepet sana ikut barisan ke kelasnya masing-masing" kata salah satu panitia MOS.
"Ba.. baik kak" jawab kami bersamaan.
"Bye Sya" kata Risma melambaikan tangan dan bergegas menyusul teman sekelasnya.
"Bye Ris" jawabku.
Risma adalah satu-satunya sahabatku yang bersekolah di SMA ini, karena SMA TERPADU merupakan sekolah swasta unggulan dengan biaya SPP yang tinggi, sehingga hanya anak-anak golongan elite saja yg bisa masuk disini serta hanya ada kuota 5% saja untuk yang masuk jalur prestasi dan memperoleh beasiswa sepertiku. Risma adalah anak dari keluarga terpandang, ayahnya pengusaha sukses namun ia sangat rendah hati dan mau berteman denganku yang hanya anak petani biasa, beruntungnya aku mempunyai sahabat seperti dia, dia yang selalu memotivasiku dan membelaku saat dulu yang lain menghinaku.
Di dalam kelas
"Saya Aryo, penanggungjawab kelas ini, pertama mari kita saling berkenalan, dimulai dari panitia kemudian adik-adik bisa saling memperkenalkan diri setelahnya" jelasnya
kemudian satu persatu panitia lain memperkenalkan diri dan kami bergiliran juga memperkenalkan diri.
"Perkenalkan saya Ashadiya Rasya, biasa dipanggil Rasya" kataku saat tiba giliranku kemudian menunduk dan tersenyum kepada semuanya.
"Eh kamu siapa yang suruh senyam senyum, sok cantik ya kamu, sini maju kedepan sini" bentak seorang wanita yang bernama Sisi, aku masih mengingatnya dari perkenalannya sebelumnya.
"Ma.. Maaf kak" jawabku terbata-bata lalu menunduk malu maju ke depan kelas.
Terlihat kak Aryo menatap kak Sisi tajam namun membiarkannya saja.
__ADS_1
"Kamu tau hukumannya untuk anak baru yang suka carper sama senior" kata kak Sisi lagi.
Aku hanya menunduk malu dan takut, Aku pun masih binggung apa salahku hingga aku dihukum seperti ini padahal aku hanya tersenyum ramah sebagai penutup perkenalan yang kufikir masih sangat wajar.
"Lari lapangan 5x putaran sekarang" katanya lagi sambil menunjuk arah pintu keluar.
"Maaf kak, saya tidak bermaksud... " belum selesai saya bicara, lalu kak Aryo pun bicara.
"Gak perlu Si, dia sepertinya tidak bermaksud begitu" kak Aryo membelaku.
"Apaan sih lo Ar, dia urusan gw, sini lo ikut gw" kata kak Sisi lagi dan manarik tanganku keluar ruangan menuju lapangan.
"Kak Sisi, maafin Rasya, saya mau dibawa kemana kak?" tanyaku dengan ketakutan sementara kak Aryo dan panitia lain serta teman sekelasku hanya diam melihat perlakuan kak Sisi padaku.CD
"Lo harus tau ya rasanya berurusan sama gw, disekolah ini, gak ada yang berani mengganggu ketenangan gw, inget itu" jawabnya lagi sambil tersenyum sadis.
"Sa.. sakit kak" kataku sambil memegang tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku dengan sangat kasar.
"Apa, sakit? hahaha.. lo akan..." belum selesai kak Sisi bicara datang Kak Heru dan segera memepaskan cengkraman tangan kak Sisi dari ku.
"Mau lo apain dia? tanya kak Heru dengan nada marah.
"Heru sayang, gw cuman ngajak dia keliling sekolah buat perkenalan lingkungan aja" jawab kak sisi sambil memegang pundak kak Heru dengan manja.
"Lepas, dan jangan coba-coba gangguin dia" kata kak Heru lagi.
"Lo diem aja dari tadi?, lo gak apa-apa kan Dek?" tanya kak Heru padaku sambil memegang keningku seperti hendak memastikan suhu tubuhku.
"e..enggak kak" jawabku sambil menunduk dan sedikit takut, belum pernah ada pria asing yang menyentuh wajahku apalagi dengan penuh perhatian seperti ini, rasanya sangat gugup.
"udah gak usah balik ke kelas lagi sampai jam istirahat, temenin gw disini aja" katanya lagi sambil mengambil buku bacaan dan duduk santai di dalam ruangan khusus di dalam perpustakaan.
Aku hanya diam memperhatikan ruangan yang terlihat memukau bagiku, tertata rapi, nyaman dan dilengkapi sofa khusus, tv, ac, kulkas, kamar mandi, tempat tidur, dan ada pajangan piala dan beberapa koleksi pribadi.
"ini ruangan apa kak, kok kayaknya spesial gitu?" tanyaku.
"ini rumah kedua gw, gw suka menghabiskan waktu disini, soalnya waktu gw abis disekolah dan ruangan ini tempat gw istirahat dan menenangkan diri" jawabnya lagi.
"oh gitu, wah enak ya kak sofanya empuk banget lagi, dekorasinya juga bagus" kataku lagi.
"ya iya lah, gw yang design sendiri" katanya lagi.
"aku liat-liat boleh ya kak, duh daftar pialanya banyak banget lagi" kataku penasaran.
__ADS_1
"iya, jangan dirusakin tapi ya, lagian kamu juga kan punya banyak piala pastinya dirumah makanya bisa masuk sini jalur prestasi" katanya lagi.
"enggak kok kak, saya cuman punya beberapa aja dapet iseng-ising, awalnya ikut-itut lomba karya ilmiah, lomba nulis novel buat dapet hadiahnya biar bisa bantuin ortu bayar biaya sekolah", eh tapi kok kakak bisa tau"? tanyaku penasaran.
"gw bisa tau semua yang gw mau tau, hahaha, lo nikmatin aja waktu lo bersantai dulu disini, sapa tau dapet inspirasi buat melanjutkan karya-karya lo lainnya" jawabnya sambil tertawa menatapku dan mengedipkan matanya.
Aku pun berkeliling ruangan melihat-lihat beberapa buku dan pajangan yang ada diruangan itu.
"benar saja Risma ngefans abis sama kak Heru, dia selain tampan, pinter, baik lagi" fikirku. "Risma gak tau aja kalo dia sebenernya genit, itu sih minusnya" batinku lagi.
Setelah puas berkeliling akupun pamit akan kekelas lagi.
"kak aku kekelas lagi ya, nanti dicariin Pj kelasku" kataku.
"Siapa PJ kelas lo?" jawabnya pura-pura tidak tahu.
"Kak Aryo" jawabku
"Udah disini aja sampai jam istirahat, nanti Sisi ganguin lo lagi kalo lo ke kelas sekarang" kata kak Heru lagi
" Iya kak" jawabku.
Dalam hati Heru ada perasaan aneh sejak ia mengenal Rasya dihari itu, ia bahkan terbayang-bayang wajahnya dan mencari tau keberadaan Rasya dari pagi sebelum acara MOS dimulai. Sisi adalah mantan kekasihnya yang masih sangat mencintainya dan dengan segala cara ingin mendapatkan Heru kembali. Sisi mengetahui Heru mencari anak baru bernama Rasya saat dia menguping pembicaraan Heru dengan Aryo tadi pagi. Sisi sangat kesal karena Heru jarang sekali memperhatikan seorang wanita, apalagi sampai meminta seseorang mencari informasi tentang seseorang.
"Sial nih cewek dari tadi nyuekin gw, kurang ganteng apa gw kok bisa-bisanya dia malah gak betah dan pingin buru-buru balik ke kelas" kata Heru dalam hati.
"Dia lugu banget sih, duduknya aja jauh-jauh dari gw, belum pernah ada cewek yang nyuekin gw gini, gw kerjain aja kali ya" Heru mulai berfikiran nakal.
"Dek sini duduk samping gw" kata kak Heru.
"Ada apa kak?" jawabku tak segera menurutinya
"Coba liat sini" katanya lagi yang tiba-tiba sudah pindah duduk disampingku dan menatapku sangat dekat.
"Ii..iya kak, gimana?" jawabku gugup
"Sini.." katanya lagi dengan serius dan terus mendekatkan wajahnya.
Jantungku mau copot rasanya saat ditatap oleh kak Heru sedekat itu.
"nah Ini ni, oh tahi lalat to, gw fikir ada kotoran nempel" katanya lagi sambil memegang pipiku.
Detak jantungku rasanya berdetak lebih kencang, aku bahkan tidak bisa bicara apa-apa saat dia memegang pipiku.
__ADS_1
"Sya, kok pucet gitu kamu?" katanya lagi.
"Ee..engak Kak, permisi kak, kayaknya bel istirahat udah bunyi, saya permisi dulu" jawabku lagi dan bergegas pergi.