
"Apa?? Berani-beraninya anak itu melakukan itu padamu, kamu tunggu sebentar, Papi akan segera kesana memberi perhitungan pada anak itu" kata Tuan Maheswara saat menerima telpon dari Sisi yang memberitahukan keadaannya saat ini.
"Kenapa dengan Sisi Pi? Mami kok denger ada yang melakukan sesuatu sama Sisi, apa Pi? Sisi gak papa kan Pi?" pertanyaan Nyonya Mahes langsung beruntun saat mendengar suaminya itu menerima telpon dari anaknya, ia sangat khawatir pada anaknya itu, apalagi setelah melihat ekapresi suaminya yang sangat marah besar, pastilah terjadi sesuatu yang kurang baik.
"Sisi di hajar adek kelasnya Mi, dia terluka parah, Papi akan kesana untuk memastikan dan memberi pelajaran pada anak itu" kata Tuan Mahes lalu mengambil kontak mobilnya untuk bergegas ke sekolah anaknya itu.
"Ya ampun Sisi, Mami ikut, tunggu sebentar Pi ya, Mami touch up make up bentar sama ambil tas Mami" teriak Nyonya Mahes kepada suaminya agar menunggunya sebentar. Nyonya Mahes memang sangat mementingkan mode dan penampilan, waktunya sehari-hari hanya di habiskan ke salon dan ikut arisan kaum sosialita sehingga tidak punya waktu mengurus kedua anaknya hingga mereka tumbuh kurang kasih sayang dan jadi seperti itu sekarang. Baginya yang terpenting kesempurnaan penampilannya dan pandangan orang tentang status sosial mereka yang tinggi.
"Ya ampun Mami, lebih dari 10 menit Papi tinggal" teriak Tuan Mahes.
"Sisi, kamu bicara dengan siapa di telpon tadi?" kata Pak Doni saat datang dan melihat Sisi sedang menutup panggilan telponya.
__ADS_1
"Nelpon siapa lagi, ya Papi saya lah Pak" kata Sisi ketus sambil memegang pipinya yang nyeri bekas tamparan keras rivalnya itu.
"Tolong Sisi, Bapak sudah tau semua ceritanya, tolong bicara sejujurnya dengan Papi kamu nanti, dan kita selesaikan secara kekeluargaan" kata Pak Doni berharap murid manjanya itu tak mengadukan hal yang tidak-tidak pada Tuan Mahes yang tentunya akan berdampak sangat jauh, apalagi tuan Mahes selama ini dikenal Arogan.
"Iya, ini kenyataannya Pak, saya babak belur seperti ini, dia harus mendapat hukuman yang setimpal dan lebih sakit dari ini" kata Sisi tak memperdulikan permintaan kepala sekolahnya itu.
"Bapak mengerti jika tindakan Rasya itu sudah menyalahi aturan dengan melukai seseorang, tetapi jika Rasya bersalah maka kamu juga bersalah karena kamu yang lebih dahulu memulai dan kamu bisa saja dihukum lebih berat dimata hukum" Pak Doni menjelaskan agar Sisi mengerti letak kesalahannya.
"Baiklah jika kamu tetap keras kepala, Bapak akan temui Orang tuamu untuk memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi" kata Pak Doni. Pak Doni kemudian pergi ke kantornya dan mengumpulkan pengurus sekolah untuk melakukan rapat dadakan.
"Kita harus meminta bantuan pak Herlambang, tak ada jalan lain lagi pak, ini harus segera dilakukan sebekum berita ini keluar dan merusak citra sekolah kita" kata salah seorang pengurus sekolah.
__ADS_1
"Ia, tetapi Pak Herlambang sangat sibuk, dan kita harusnya bisa menyelesaikan maaalah ini tanpa melibatkan beliau" kata Doni
"Mari kita temui keluarga Mahewara untuk mendiskusikan ini semua secara kekeluargaan" kata pengurus lainnya.
"Baiklah,saya juga berpikiran sama, kita coba berdialog terlebih dahulu barangkali akan ada jalan tengahnya" jawab Pak Doni
"Tidak perlu!! tangkap kepala sekolah itu Pak, karena ia sudah lalai dalam menjaga keselamatan siswa di lingkungan sekolah" kata Tuan Mahes menunjuk Pak Doni kepada keempat polisi yang ia bawa. Polisi lalu mendekati Pak Doni
"Mari pak, ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan" ujar salah seorang diantaranya.
"Pak mahes, apakah ini tidak berlebihan, sampai anda melibatkan polisi" kata Pak Doni berharap Tuan Maher bisa diajak kompromi
__ADS_1
"Berlebihan?, anak saya babak belur, bukankah itu penganiayaan yang berlebihan Pak Doni !!" kata Tuan Mahes dengan nada marah.